Sayembara Jodoh

Sayembara Jodoh
BAB 6


__ADS_3

Dira melototi Rian dari atas sampai kebawah. Masih kesal dengan kemunculan Rian di rumahnya. Sayang yang dipelototi cuek saja. Seakan tidak terjadi apa-apa.


Masih dengan mode dalam diam. Dengan kasar Dira menghempaskan bokongnya di jok motor. Helaan nafas berat terdengar sama si empunya kendaraan. Lelaki itu hanya menyunggingkan senyum tipis.


"Tunggu!" Dira mencoba menahan Rian demi meminta penjelasan


"Ada apa?Tadi pas sampai kamu sibuk ajak saya berangkat. Sekarang, kamu malah nahan saya."


"Aku butuh penjelasan!


"Soal?"


"Semuanya!"


"Hmmmm ...Gimana ya? nanti jam makan aku jemput kamu, deh! Biar aku jelasin semuanya."


"Kenapa nggak sekarang?"


"Kalau sekarang nggak kebmuru, sayang. Aku jam 10 ada pertemuan, ada pertemuan buat pesta pernikahan anak pemilik stasiun tv."


"Kalau nggak jelasin aku turun nih?" ancam Dira


Breeeeem...


Breeeeemmm..


Rian langsung menghidupkan mesin motornya. Tanpa mendengarkan protes dari Dira.


"Riaaaaan! Gue lompat nih!"


"Lompat aja nggak papa kok Medhira Utami. Kan kamu lompat kan yang rugi bukan saya." Rian terus tertawa melihat wajah masam Dira dari kaca motor.


Sialan nih cowok banyak taktiknya. Gerutu Dira.


Sebuah motor gede melaju dengan kecepatan penuh menembus jalanan Jakarta. Sesaat mereka terhenti di lampu merah, beberapa kendaraan roda dua pun ikut berjejer menutup jalanan kota. Dira melerai pelukan kencang di pinggang Rian. Motor yang berjalan dengan kecepatan penuh membuatnya sedikit takut. Maklum, dia belum pernah naik motor. Selama ini dia ke kantor pasti nebeng sama kakaknya atau sama Juna.


Beberapa saat kemudian Dira dan Rian sudah sampai di parkiran PT. PUTRA NUSA. Gadis dengan tinggi 160 cm turun dari motor gede itu dengan hati-hati. Belum habis jantungnya hampir copot karena aksi Rian tadi. Dira melepas helm namun kesulitan membuka kuncinya. Dengan sigap Rian mencoba membantu. Kontak mata yang bertabrakan beserta desiran rasa, Dira memalingkan wajahnya.


"Sudah!" Jawab Rian selesai melepas helm di kepala Dira.

__ADS_1


"Makasih." Dira melenggang masuk ke kantor tanpa memperdulikan Rian.


Rian hanya tersenyum dari jauh. Sikap Dira yang dingin justru membuatnya ingin mengenal lebih dalam. Rian kembali memutar motornya.


Dira berjalan masuk ke kantornya dengan santai. Tak lama sebuah ruangan yang memiliki kubik berjumlah delapan meja dimasukinya. Tangannya menghempas tas lalu mendaratkan bokongnya diatas kursi. Dira menghidupkan laptopnya sambil menghidupkan musik dengan headset.


Berasa di rumah sendiri ya, Dira.


Iyalah ini perusahaan nyokap gue. Mereka aja yang tidak tahu siapa saya.


Ingatannya melayang pada sosok Rian yang tiba-tiba muncul dirumah. Ada rasa heran kenapa lelaki itu bisa tahu rumahnya. Dira yakin sekali Eka yang sudah memberitahu Rian. Secara Rian itu anak bos Eka, mungkin Eka takut dipecat.


"Dira!" Gadis itu tersentak saat ada yang melepas headsetnya.


"Iya, Mbak Indah."


Mampus gue mbak Indah pasti mau ngomel lagi.


"Kan saya sudah bilang. Ini jam kerja jangan dengerin musik. Saya aduin kamu sama pak Feri, mau"


"Maaf, mbak"


"Boleh"


"Jumat kemarin saya lihat kamu pulang bareng pak Feri. Ada hubungan apa kamu sama dia?"


"Nggak ada, mbak. Kebetulan saja itu."


"Awas kalau kamu suka macam-macam."


Ya kali gue naksir abang sendiri.


Dira kembali melanjutkan aktivitasnya. Beberapa berkas yang harus dia serahkan ke atasannya. Ada rasa kesal saat melihat sikap Indah barusan. Namun ternyata laptop nya bermasalahan. Dira hanya bisa mencak-mencak.


"Ada apa?" Juna muncul melihat Dira mencak-mencak.


"Itu kak Juna, laptop ku tiba tiba nggak diarahin."


"Ya, udah jangan sedih, dong. Makin jelek kamu kayak gitu. Sini kakak benerin."

__ADS_1


Akhirnya Juna membawa Laptop Dira keruangannya untuk benerin. Dira mengikuti Juna ke ruangan lelaki itu. Tentu saja untuk menunggu laptop tersebut.


"Gimana, kak?" tanya Dira saat mengamati Juna memeriksa laptopnya.


Juna masih fokus dengan laptop milik Dira. Sesekali matanya gadis didepannya. Senyumnya mengembang ketika melihat Dira yang fokus pada gawainya.


"Tadi siapa?" Tanya Juna saat menservis laptop Dira.


"Tadi yang mana?" Dira bingung dengan arah omongan Juna.


"Yang jemput kamu?"


"Oooo ...Rian."


"Kenal dimana?"


Dira mengerut dahinya. Tumben Arjuna nanya-nanya seperti itu. Dulu saat dia dekat dengan Wawan, Juna tidak begitu cerewet. Tapi hari ini lelaki itu menginterogerasinya.


"Dari Eka."


"Sudah belum? kalau belum aku balik ke tempat.Aku nggak mau jadi bahan omongan."


"Ya sudah. Nanti kalau selesai aku antar ke tempatmu."


Jam makan siang telah tiba. Dira langsung menyelesaikan pekerjaannya karena perutnya sudah lapar. Ada sedikit kesal gara gara laptopnya rusak, dia tidak bisa bekerja sepenuhnya.


Dira teringat saat Rian berjanji akan mengajaknya makan siang. Tetapi lelaki itu tidak muncul atau memberi kabar.


Ting!


"Dira kamu bisa ke ruangan saya." Pesan Juna.


Dira berjalan menuju ruang kerja Juna. Matanya membelalak melihat apa yang tersaji didepan meja.


"Duduk!"


Juna menyerahkan satu cup mie ramen pada Dira. Dira tanpa permisi melahap ramen dengan mantap. Juna melihat bibir Dira belepotan kuah ramen dengan sigap membersihkan bibir Dira. Suasana berubah menjadi tegang, mereka saling diam. Dira pun keluar dari ruangan Juna.


"Please, Dira jangan mikir yang aneh-aneh."

__ADS_1


__ADS_2