Sayembara Jodoh

Sayembara Jodoh
BAB 141


__ADS_3

Rian akhirnya menceritakan pada Arumi tentang vonis dokter pada Delia.


"Alzheimer? kok bisa?" Arumi masih belum percaya.


Bukan dia tidak percaya pada penyakit yang di derita menantunya. Pasalnya dia melihat Delia tidak ada yang aneh. Normal-normal saja. Makanya dia kaget ketika Rian menceritakan hal itu.


"Tapi tadi pas dia mau ke kantormu baik-baik saja, Rian."


"Ma, apa itu parah?


Masa dia tadi tidak ingat Roger tapi sama aku ingat. Terus dia nyari handphone padahal ada di kalung gantungan handphone di lehernya."


Arumi menaikan bahunya. Kalau lupa letak barang rasanya semua bisa terjadi pada siapapun. Tapi lupa kalau punya anak? Arumi rasa itu hanya taktik Delia saja, bukankah dulu Delia sempat tidak mengakui Roger.


"Coba kamu periksa lagi sama dokter lain. Apalagi seperti kata kamu kalau dokter memeriksa sekedarnya saja tapi langsung kasih diagnosa.


Jangan sampai, besok dia tidak ingat kamu. Jangan sampai nanti dia ingat sama Arjuna. Kasihan Dira, dia lagi hamil muda."


Rian menoleh kearah mamanya. Ada benarnya kata mama, Delia harusnya di periksa ke rumah sakit. Biar lebih tahu apa benar kalau Istrinya menderita alzheimer.


Rian berjalan ke arah kamar. Dari letak kamar yang searah dengan teras belakang rumah. Tampak Delia sedang asyik bermain sama Roger.


Tangan Rian mengerutkan dahinya. Teringat di usia Roger yang memasuki dua setengah tahun belum bisa bicara lancar. Awalnya Rian pikir kalau Rian seperti itu karena Roger masih kecil. Tapi seiring berjalannya waktu belum ada peningkatan pada putra semata wayangnya.


"Roger, sini tante buatin mainannya." Delia mengambil salah satu lilin mainan berwarna merah.


"Mama..." ucap Roger.


"Tante ..." jawab Delia.


"Mama..." Lagi-lagi Roger memanggilnya dengan sebutan mama.


"Iya, deh. Panggil saja Tante dengan sebutan mama."


"Sayang," Delia mendengar Rian memangilnya dari arah dalam.


"Iya, mas." Jawab Delia sambil mengajak suaminya bergabung bersama Roger.


"Roger buat apa sayang?" tanya Rian.


"Dokdok .." jawab Roger.


"Apa itu dokdok?" Rian masih belum paham sama bahasa bayi.

__ADS_1


"Telur, mas. Maksud Roger dia buat ndok gitu. Soalnya tadi kan Roger berjalan ke dapur. Terus dia ambil telur sama mama di bilang ndok. Makanya langsung dia buat pake mainan lilin." jelas Delia.


"Sayang, besok kita ke dokter, ya?"


"Buat apa, mas. Nggak ada yang sakit kan?"


"Periksa Roger, sepertinya dia keterlambatan bicara. Usianya sudah dua tahun lebih, harusnya dia lebih lincah. Tapi pertumbuhannya masih stug begitu saja." ucap Rian sambil merebahkan tubuhnya di dekat tenda milik Roger.


Rian tak mendengar lagi celotehan Roger dan Delia saling bersahutan. Pikirannya menerawang saat teringat kata sang mama soal penyakit Delia. Begitu banyak masalah diawal pernikahannya. Saat acara kumpul keluarga di solo dua Minggu setelah menikah. Banyak keluarga besar mamanya yang mencibir Delia.


Itu bukan berdasarkan aduan Delia. Tapi mamanya sendiri yang menceritakan. Di sebuah pertemuan keluarga, sang bude mempertanyakan keakuratan DNA Roger.


Benarkah Roger anak Rian?


Apakah kejadian itu jebakan si wanita?


Satu minggu berada di Solo tak ada sambutan yang baik dari keluarga mamanya. Saat itu Delia tak terlihat sedih, dia juga tak mengadukan apa yang terjadi disana. Namun Rian tahu Delia tak bahagia di tengah keluarga itu. Maka itu, belum genap seminggu Rian mengajak istri dan anaknya pulang ke Jakarta terlebih dahulu.


Rian juga tak pernah mempertanyakan soal apa yang dialami istrinya. Bukan karena tak peduli, tapi jika di bahas tentu akan menyisakan luka di hati istrinya.


"Itu karma buat dia, Rian." Kata Hendra teman karib Rian.


Hendra tahu bagaimana Rian harus mempertanggungjawabkan biologisnya. Rian pernah cerita kalau dia di jebak oleh Delia. Rian pun pernah mengungkapkan kegundahannya saat tahu sudah ada anak sementara pernikahannya dengan Dira semakin dekat.


"Mas," Rian tersadar dari lamunannya. Tampak Delia menggendong Roger yang sudah tertidur.


"Kenapa sayang?" Rian ikut bingung.


"Kamar Roger yang mana, mas." kata Delia.


"Kan dia masih tidur sama kita."


"Kamar kita dimana?" Lagi-lagi Delia bertanya.


"Kalau kamar saja kamu mulai lupa. Jangan-jangan besok kamu lupa sama aku."


"Mas ini gimana, sih? mana mungkin aku lupa sama kamu. Kamu kan ..." Delia memegang erat pucuk kepalanya.


Rian langsung mengambil Roger dan membawa ke kamar. Sejenak dia lama memandang kearah Rian yang keluar dari kamar.


"Kenapa wajah kak Juna beda?" batin Delia.


"Delia!" Rian langsung menahan tubuh istrinya yang sudah tak sadarkan diri.

__ADS_1


"Delia kenapa,Rian?" tanya Arumi.


"Sepertinya efek penyakitnya tadi." jawab Rian.


Tampak Arumi seperti cuek tanpa membantu Rian. Rian akhirnya meletakkan istrinya di ranjang. Sebelahan dengan Roger berbaring. Dapat dirasakan begitu sesak.


"Tuhan cobaan apa lagi yang kau kirimkan padaku?" batin Rian.


Rian memandang bergantian kearah anak dan istrinya yang masih terlelap. Ada beban berat yang dia rasakan.


"Rian, mama mau ngomong!" panggil Arumi di balik pintu kamar anaknya.


"Iya, ma," Rian beranjak dari kamarnya.


Arumi berjalan menuju teras belakang rumah. Tampak wajah wanita yang sudah melahirkannya begitu kusam. Rian tak ingin berspekulasi. Dia hanya ingin tahu apa yang mau di bicarakan mamanya.


"Ada apa, ma?" Arumi dan Rian telah melabuhkan bokongnya di kursi rotan.


"Mama mau ngomong soal istrimu.


Mama perhatikan dia mulai drama queen akhir ini. Seperti mengeluh sakit saat mama minta memasak. Terus sekarang dia sakit alzheimer. Kamu harus ancang-ancang, Rian."


"Ancang-ancang gimana, ma? kalau dia pernah mengeluh sakit kepala kenapa mama diam saja. Kenapa mama tidak bilang sama aku?"


"Rian, mama melakukan ini supaya Delia nggak manja. Dia harus belajar banyak hal, mengurus kamu, mengurus Roger. Masa semua harus mama. Terus kamu tahu kan Andre itu pernah pedofil sama adiknya Dira. Mama nggak suka dia sering main sama Roger. Nanti nular sama cucuku."


Rian kaget mendengar ucapan mamanya. Tak pernah di sangka ternyata Delia diperlakukan seperti itu.


"Ma, kenapa mama seperti ini! dulu mama merestui kami,kan? sekarang kenapa mama berubah? apa yang merasuki mama?"


"Kamu tahu? menurut weton kalian akan mendapat banyak masalah. Dan mama nggak mau kamu kena sialnya. Mama merestui kalian karena sudah ada Roger."


BRAAAAAK!


Rian mendengar suara pintu tertutup dengan keras. Lelaki itu yakin istrinya sudah mendengar pembicaraan mereka.


Rian menangkap suara isakan tangis dari dalam kamar. Tebakannya benar, Delia pasti mendengar obrolan mereka. Rian tahu kalau pembicaraan mereka menyakiti perasaan Delia.


"Del," Rian masuk menemui istrinya.


"Jadi aku sudah menikah sama kamu, Rian? jadi suamiku bukan Arjuna?"


Rian mencelos mendengar ucapan istrinya.

__ADS_1


Jangan sampai, besok dia tidak ingat kamu. Jangan sampai nanti dia ingat sama Arjuna.


Aaaarghhhh!


__ADS_2