Sayembara Jodoh

Sayembara Jodoh
BAB 124


__ADS_3

"Na, apa benar Feri pernah mendekatimu?" tanya Mayka di telepon.


"Itu masa SMA, kak. Sudah belasan tahun yang lalu." jawab Tina.


"Sekarang?" tanya Mayka.


"Aku nggak tahu, kak. Kenapa kakak tanya begitu?"


"Aku hanya ingin memastikan kalau adikku tidak menikung dari belakang. Aku hanya memastikan kalau seandainya aku dan Feri menikah tidak ada ganjalan dari masa lalu."


"Oh, tergantung lelakinya, kak. Kalau dia setia, selamanya dia akan setia. Jadi kakak nggak usah takut." Tina menutup telepon dari Mayka.


Kedengarannya tidak sopan. Tapi dia malas diinterogasi dengan hal yang tidak penting. Tina lebih fokus mempersiapkan sarapan untuk adiknya tercinta.


"Mar, apa kamu mau sekolah?" tanya Tina.


"Mau kak, teman-temanku sudah pada SD. Masa aku belum sekolah." kata Amar.


"Tapi kakak nggak punya uang buat biaya sekolah kamu. Maafin kakak, ya?" kata Tina sambil mengusap kepala adik bungsunya.


"Kak,"


"Iya, mar,"


"Apa benar kita dulu orang kaya?"


Tina menghentikan aktivitasnya. Wanita itu duduk di samping adiknya. Amar yang lahir saat masa kejayaan papanya. Amar yang masih usia hitungan bulan harus di boyong mamanya tinggal di kontrakan kecil. Saat itu Tina sudah menikah dengan Glen. Tina juga tidak mungkin memboyong mama dan adiknya tinggal disana.


"Kak," sapa Amar.


Tina menyunggingkan senyumnya pada adiknya. Lalu berpangku tangan di dekat Amar.


"Kalau seandainya kita pernah kaya, Amar mau apa?"

__ADS_1


"Amar cuma mau nanya,kak. Kalau dulu kita kaya berarti kita miskin ini ada dosa sama orang lain. Amar pernah lihat waktu mama nonton tv di rumah Bu Retno. Ada cerita tentang orang kaya yang sombong jadi jatuh miskin. Pas miskin jadi orang baik, karena dia jadi orang baik Tuhan balikin kekayaannya."


"Terus?"


"Ya, kita harus jadi orang baik, kak. Biar kekayaan kita balik." jawab Amar dengan polosnya.


Tina tergelak mendengar celotehan adik kecilnya. Tangannya mengacak rambut tipis adiknya. Sesekali mencubit pipi tirus adiknya.


"Mar, kalau kamu mau jadi kaya tidak harus berbuat baik saja. Kalau kita mau sukses harus ada yang harus kita lakukan. Misalnya rajin sholat, berbuat baik, rajin belajar dan bekerja dengan giat."


"Jadi kalau kita nggak kerja, nggak kaya ya, kak?" Tina menggeleng kecil.


"Kamu cepat selesaikan makannya. Kita ke rumah sakit menemani mama. Kemarin mama nanyain kamu."


"Iya, kak. Amar juga kangen sama mama." Amar menghabiskan makannya.


Tok tok


"Kamu siap-siap saja. Biar kakak yang buka pintunya." Amar menurut saja. Meninggalkan meja makan dan masuk ke kamarnya.


Tina membuka pintu rumahnya, rasa penasarannya pada si penamu. Karena ini masih jam yang tujuh pagi. Seorang lelaki yang hanya terlihat punggungnya saja.


"Maaf, ada yang bisa saya bantu? cari siapa pak?"


Lelaki itu membalikkan badannya. Tina bungkam sejenak melihat siapa yang datang. Lelaki itu tersenyum mendekati Tina. Langkah kaki wanita itu mundur perlahan.


"Kamu mau apa kesini? bukankah kita sudah bercerai. Kamu sudah talak aku, jadi kita tidak ada urusan lagi." kata Tina yang ketakutan.


"Aku tidak pernah menalak kamu, Tin. Ada orang lain yang tidak suka tentang kita. Mereka menjarakan aku atas kesalahan yang tidak aku buat."


Tina menutup pintu rumahnya. Sayangnya dia kalah cepat dengan Glen. Lelaki itu bahkan lebih kuat dari dirinya. Amar yang mendengar gaduh langsung keluar kamar.


Glen mendorong Tina masuk ke kamar dan menguncinya. Tina masih berusaha menghindar dari mantan suaminya.

__ADS_1


"Satu-satunya wanita yang belum merasakan nikmatnya surga dunia, yaitu kamu Tina. Maaf kalau selama kita menikah aku belum sempat menyentuhmu."


Praaaaang ... Praaaaang ...


Tina terus melemparkan barang yang ada di dekatnya. Sementara Glen merasa mudah menjangkau Tina karena kamarnya kecil.


"Glen, please jangan ganggu aku lagi." mohon Tina sambil menangis.


Glen hanya tersenyum kecil. Dia sudah lama mencari Tina, meskipun sedang dalam penjara. Dia bisa mengerahkan kenalannya untuk mencari keberadaan Tina.


Tina memejamkan matanya. Tangan Glen sedang menjamah sudut tubuhnya. Lalu mendorong Tina keatas ranjang. Mulut Tina di bekap hingga tidak bisa bersuara.


"Mama ... Mama ..." Pekiknya dalam hati.


BRAAAAAAK!


BANGSSAAAAAT!


Tina menjorok ke pinggir. Sebagian baju sudah terbuka. Seperti ketakutan Tina terus menangis. Mayka menutupi tubuh Tina yang sedikit terbuka. Sementara Glen diarak keluar rumah oleh beberapa warga.


"Kak bawa Tina keluar dulu." Titah Feri.


Mayka menuruti apa yang di titahkan Feri. Wanita berusia 35 tahun itu membopong adik sepupunya keluar di bantu beberapa warga. Sebagian warga menatap Tina dengan sinis. Anggapan mereka Tina sudah berbuat mesum di tempat mereka.


"Tina kenapa?" Jamal muncul di tengah keramaian rumah.


"Tadi mantan suaminya datang. Dia mau menodai Tina. Untung saat kami hendak kesini bertemu sama Amar yang hendak mencari pertolongan."jelas Mayka.


"Ya Allah, Na. Kan apa aku bilang, kamu itu tidak aman kalau cuma berdua dengan Amar di rumah. Kamu itu perempuan, Na. Bahaya?" suara Jamal penuh kekhawatiran.


"Terimakasih, kamu sudah mengkhawatirkan adik saya." jawab Mayka.


Jamal memasukkan Tina ke dalam mobil milik Mayka. Rencananya Mayka akan memboyong Tina dan Amar ke rumah mereka. Karena Tina dan Amar adalah tanggung jawab pamannya, Amran."

__ADS_1


__ADS_2