Sayembara Jodoh

Sayembara Jodoh
BAB 12


__ADS_3

POV Rian


Sebagai lelaki saya di didik untuk menghindari konflik. Intinya aku selalu ditanamkan mengalah pada perempuan. Ibu selalu bilang kalau lelaki memang seorang raja, dan raja harus mendengar apa isi hati ratunya. Karena raja tidak akan bisa sukses tanpa campur tangan seorang ratu.


Hal itu yang saya lihat bagaimana Ayah memperlakukan ibu. Manis, harmonis dan bahagia. Ayah bahkan selalu melaporkan apa saja kegiatannya pada ibu. Bagiku, itu sebagai modal awal untuk mendapatkan hati wanita. Termasuk soal Dira, ketika Eka bilang mau mengenalkan temannya, aku tidak terlalu antusias. Tapi setelah melihat orangnya, rasa penasaran pun menyelinap. Dari caranya bicara terlihat dia bukan perempuan sembarangan.


Nama saya Riandra Prasetyo. Saya lahir sebagai anak tunggal dari sepasang suami istri yang paling bahagia, Mamaku bernama Arumi mayangsari, seorang wanita cantik berdarah jawa dan Ayahku bernama Teuku Rahadiansyah atau mereka yang sering memanggil Anca. Mereka lah yang membuatku terinspirasi mendekati Dira. Ditambah saat pertama kali kedatanganku ke rumah disambut ramah oleh mamanya Dira, mantap kan.


Dira


Gadis yang baru kukenal melalui Eka, teman kerjaku. Yang kata Eka, Dira usianya sudah matang tapi belum menemukan pasangan. Setelah bertemu dengan Dira dan kami pulang bersama. Banyak hal yang kurasa memiliki kesamaan diantara kami berdua. Dira bukan tipe perempuan pamer, beda dengan beberapa wanita yang pernah aku kencani. Kebanyakan mereka langsung hijau matanya kalau aku bawa mobil. Tapi tidak dengan Dira. Dengan sikapnya cool versi cewek Dira malah santai saja ketika kuajak naik motor.


Dira


Gadis yang membuka mataku, tidak selamanya perempuan itu matre. Gadis yang pura-pura tinggal di gang kecil belakang. Mungkin dia kira aku lelaki yang melihat cewek dari materi. Pada kenyataannya justru aku kebalikannya. Aku mencari perempuan yang bukan dari apa yang dimilikinya. Tapi mencari perempuan malah menunjukkan kekurangannya. Secara fisik dia tidak cantik, kulitnya kuning langsat, menampakkan sosoknya yang sederhana. Dandannya pun tidak menor.


Setelah sorenya aku diajak Dira ke rumah palsunya. Malam hari pun kembali mendatangi rumah tersebut. Seorang wanita paruh baya menyapaku didepan pintu rumahnya.


"Diranya ada, bu?" Sapaku saat si empunya rumah muncul dihadapanku.


"Sebenarnya rumah Dira di sebelah kiri pintu gang." Jawab Ibu tersebut.


"Oh, jadi ini bukan rumah Dira, bu?"


"Bukan, mas. Mana mungkin Dira anak saya, la wong bibit bebet dan bobotnya aja bagusan Dira."


"Ah, ibu bisa saja merendah. Ibu juga cantik kok."


"Ya, udah, bu. Terimakasih infonya saya permisi dulu."


Aku berjalan keluar gang. Rasanya gimana, ya? Di kerjain cewek yang menutupi statusnya sebagai anak orangkaya.


Nyesek! Iya nyesek! padahal aku sudah terlanjur suka sama Dira.


Sambil mendengar lagu dari RAN yang berjudul pandangan pertama.


lama ku memendam rasa di dada


Mengagumi indahmu, wahai jelita


Tak dapat lagi kuucap kata, ha


Bisuku diam terpesona


Ho-woo, dan andai suatu hari kau jadi milikku


Tak akan kulepas dirimu, oh kasih


Dan bila waktu mengizinkanku untuk menunggu

__ADS_1


Dirimu, come on!


Kurasa ku t'lah jatuh cinta


Pada pandangan yang pertama


Sulit bagiku untuk bisa


Berhenti mengagumi dirinya


Lagu ini mewakili perasaanku. Dimana hatiku tergetar saat melihat sikap datarnya Dira, dimana hatiku semakin penasaran sosok Dira setelah dia mengerjaiku.


Pagi ini aku beranikan diri muncul di rumahnya. Tidak mudah mengumpulkan keberanian ini. Ya, pada akhirnya Dira tetap bersikap datar.


Sambutannya ya gitu deh. Sikapnya yang jutek sampai ngancem lompat dari motor. Tapi aku cuekin saja, nanti juga dia diam. Benar, saja dia banyak diam selama perjalanan ke kantornya.


POV Author


"Jadi kamu nggak marah waktu aku ngerjain kamu?" Rian menggeleng.


"Maaf, ya." Dira masih merasa tidak enak karena membohongi Rian soal status keluarganya.


Dira dan Rian berjalan keliling komplek rumah. Dua anak manusia berbeda gender pun hanya berjalan tanpa saling menatap. Sesekali Rian mencuri-curi untuk memandang Dira yang masih sibuk sendiri.


"Dira?"


"Kamu sibuk nggak?" Dira hanya menggeleng.


"Hmmmm... aku ngomong sama mama dulu, ya. Diizinin apa enggak. Soalnya adikku mau ketemu camernya, kak Feri ada acara silaturahmi di rumah mertuanya."


"Rumah Mey, ya?"


"Kamu kenal sama kak Mey?"


"Kenal, Mey itu teman sekolahku pas SMA."


"Berarti kamu diatasku, dong."


"Hahaha .. Mey sama kamu itu satu angkatan, Lo."


"Kok kamu tahu."


"Kan Eka bilang kalau dia tamat tahun 2010 kan. Berarti kita seangkatan."


"OOO gitu."


Kemunculan Rian yang dadakan menjadi momok yang berat buat Dira. Dia takut lelaki itu menaruh harapan padanya. Sambil berjalan Dira memainkan ponselnya dan menikmati udara pagi yang sejuk. Jam sudah menunjukkan pukul 09.00, Dira dan Rian memilih berbalik pulang ke rumah.


"Makasih, ya,Dira."

__ADS_1


"Buat?"


"Buat waktumu menemaniku jalan keliling komplek."


"Kan aku yang mengajak kamu tadi, Rian."


"Pokoknya aku cuma bilang terimakasih, Ra."


Terimakasih sudah mengisi relung hatiku.


Dira dan Rian duduk di sebuah lapak jualan makanan. Seperti rencana awal kalau mereka mencari sarapan.


Keakraban mulai mengalir dari keduanya. Tak ada rasa canggung menerpa keduanya. Tampak tempat mereka nongkrong mulai rame. Rian pun meminta Dira menunggu sementara Rian mengambil motornya.


Ketika Rian kembali membawa motornya, Dira langsung naik ke belakang punggung Rian.


"Maaf, ya. Kemarin aku nggak bisa nemuin kamu, Dira. Aku pulang sudah jam lima sore. Kamu tahu klienku itu memberi upah yang sangat besar. Itu bisa menguntungkan usaha kecil kami."


"Hmmm ... kamu ini merendah sekali, Rian. Aku lihat tempat kerjamu sudah punya nama. Aku sering dengar seputar pekerjaan kalian dari Eka. EO kalian sering dipakai pejabat-pejabat besar. Bahkan bapak Jusuf Kalla pernah memakai jasa kalian untuk aqikah cucunya."


Dira menyelipkan rasa kagumnya pada Rian. Tak ada nada bicara terdengar menyombongkan diri walaupun dia tahu Rian anak bosnya Eka.


Sepanjang perjalanan Dira tak lagi banyak bertanya. Terasa perjalanan menjadi hening. Rian pun bisa fokus membawa kendaraan roda dua.


Rian melirik Dira dari kaca spion motornya. Sesekali lelaki itu melayangkan senyuman ketika melihat Dira menatap jalanan. Rian mengencangkan kecepatannya membuat wanita itu kaget. Tak pelak Dira mengencangkan pegangannya di perut Rian.


Tak berapa lama mereka turun di sebuah taman. Dira yang tadinya ketakutan mulai mengendurkan pegangannya.


"Kita sudah sampai." Sahut Rian.


Mereka akhirnya turun dari si roda dua. Dira berjalan menuju abang-abang cilok yang sedang mangkal.


"Bang ciloknya lima ribu. Nggak usah pake kuah kacang, bang. Kasih saos sama kecap aja." Pesan Dira sambil duduk di kursi plastik yang disiapkan abang cilok.


"Rian!" Panggil Dira.


Rian mendatangi Dira yang sudah memegang bungkusan cilok.


"Kamu mau?" Rian menggeleng.


Dia bukan anti sama makanan itu, hanya saja melihat Dira makan dengan lahapnya membuat Rian merasa kenyang.


Tetap terus pantengin cerita ini.


Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpa kalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.


Jangan lupa likenya


Jangan lupa komennya juga rate

__ADS_1


Kalau berkenan bantu vote dan hadiah


Bersambung


__ADS_2