
"Jangan paksa aku buat milih, ma. Maafkan, Dira yang masih jadi beban buat mama." Ujar Dira lamat-lamat.
Menyedihkan rasanya jika seorang perempuan muda di usia dirinya masih dirongrong soal jodoh. Ini 2022, bukan lagi zaman yang harus dipaksa menikah. Ini 2022, perempuan harus jadi yang terdepan bukan hanya mengekor di belakang suami.
Dira menatap mamanya yang sudah dibuai mimpi. Helaan nafas berat keluar dari bibir cantiknya. Apakah setelah menikah dia bisa mengobrol seperti ini dengan mamanya? Apakah setelah menikah dia bisa menjaga sang mama? Rasanya bagi Dira susah. Ya kalau dapat suami yang kerja di Jakarta, kalau tidak bagaimana.
Di usia 25 yang di embannya kini, banyak hal yang ingin dia jajaki. Mengejar karier, liburan single, kumpul bareng teman-teman. Hanya saja Eka dan Ayu sudah punya kehidupan masing-masing. Delia? Entahlah Dira merasa Delia tak seramah dulu. Ketika berkumpul di rumah Ayu, Dira melihat sikap Delia berubah. Terlihat lebih angkuh, tapi itu cuma dugaannya saja. Semoga itu sekedar dugaan.
Dira beranjak dari kamar mamanya. Kini dirinya sudah berdiri di depan balkon kamarnya. Tatapannya beralih saat ada sosok wanita di kamar Arjuna.
Delia? Ngapain dia di kamar kak Juna. Bukankah kak Juna tidak pernah suka ada oranglain masuk kamarnya. Ayu saja harus pamit kalau mau ke kamar Juna.
Ah, Dira mereka kan sebentar lagi akan menikah. Jadi wajar saja kalau mereka berduaan seperti itu.
Dira memilih keluar dari balkon. Sekarang posisinya di dapur. Mengoprek mie instan goreng kesukaannya. Dira menunggu air masak untuk mie nya sambil memainkan gawainya.
Klik
Dira menghempas tubuhnya di kursi kerjanya. Beberapa tumpukan berkas yang siap di hantamnya. Catatan kegiatan, menentukan lokasi untuk di jadikan target barang daur ulang. Meskipun dia bekerja di perusahaan milik mamanya. Namun, tak banyak yang tahu tentang statusnya sebagai adik dari sang direktur, Feri Andreas. Hal itu semata-mata dia lakukan supaya tidak diangkap masuk karena koneksi.
Jam makan siang pun datang, Dira membereskan beberapa barangnya. Ketika hendak beranjak Feri datang ke tempat meja Dira. entah apa yang mau dibicarakan dengannya, dira manut saja.
"Ada apa, pak?" Dira berusaha bersikap profesional.
"Makan siang,yuk. Kakak mau ngomong"
"Ngomong disini ajalah. Nggak dilihat karyawan lain"
"Kenapa nggak enak? kamu itu adikku. Masa ngomong sama adek sendiri saja nggak boleh."
"Tapi mereka tahunya aku karyawan bawah."
"Terserah kamu. Aku ada project tentang anak-anak daerah pinggiran. Perusahaan berencana mengadakan pendidikan gratis SD sampai SMA. jadi kamu harus mencari informasi tentang lingkungan tersebut."
"Berapa tim kak?"
"Kakak bagi 3 tim. Kamu di Tim satu bersama Arjuna. Nanti biar dia yang mengarahkan kegiatan kalian."
__ADS_1
"Nah, gitu dong. Aku bisa turun lapangan bosan tau diruangan mulu."
Suasana diruangan sang manajer, Arjuna Bramantio tampak lenggang. Lelaki usia 28 tahun tersebut masih berkutat dengan beberapa pekerjaannya. Ada beberapa tender yang harus diperjuangkannya.
Terdengar dentingan pintu membuatnya beralih fokus ke lokasi arah suara. Seorang wanita berpakaian ketat menampakkan dirinya. Juna mempersilahkan tamu itu masuk.
"Hai, Sayang aku bawa makanan buatanku sendiri." Delia membuka kotak makanan yang dibawanya.
Juna tersenyum melihat kedatangan Delia. Tangannya meraih kotak yang dibawa kekasihnya. Sekilas dia mencicipi hasil masakan Delia.
"Ada kemajuan kamu, Del. Ini enak banget." Puji Arjuna.
"Iyalah,Kak. Kan masaknya pake cinta." balas Delia.
"Kakak makan saja, aku mau ke tempatnya Dira. Nggak papa kan?"
"Silahkan. Dira pasti senang banget kalau kamu meluangkan waktu buat dia. Beberapa hari ini dia tertekan banget karena Vira mau nikah. Mamanya terus mendesak Dira cari pasangan."
Delia tersenyum kecut.
"Kak Juna jadi kan kita dinner?" Tanya Delia memastikan Juna tidak melupakan rencana mereka.
"Owh, yah. Aku lupa cari tempatnya."
"Papa sudah menentukan lokasi dinnernya." Juna tertohok saat mendengar lokasi dinnernya malah ditentukan keluarga Delia.
"Kita dinner berdua apa dinner keluarga?"
"Berdualah, Kak Juna."
"Tapi, kenapa malah papamu yang menentukan lokasinya?"
"Ya, nggak papalah kalau papaku yang nyariin. Kan dia banyak kenalan pengusaha restoran. Apa kak Juna mau makan di restoran arab punya papa, biarkan aku..." Juna memberi isyarat agar Delia tidak melanjutkan ucapannya.
"Oke. Sekarang kamu temui Dira." Delia pun menghilang dari ruang kerja Arjuna.
Sebenarnya aku malas ketemu Dira. Apalagi menghiburnya dengan masalah yang privasi kayak gitu. Oh my gods, kalian tahu readers. Dari semua teman yang dekat denganku, hanya Dira yang kurang kusuka. Penampilannya sederhana padahal dia anak pengusaha. Terlalu klasik, beda dengan Ayu yang modis, meskipun kalau dari materi Dira lebih kaya dari Ayu.
__ADS_1
Iyalah secara garis besar apa yang didapat orangtua kak Juna adalah berkat orangtuaku. Papaku memberi modal dan saham di perkebunan teh milik orangtua Arjuna.
Dira menatap kaget saat tahu siapa didepannya. Rasanya mimpi lihat Delia datang mengunjunginya. Selama ini Delia selalu ada ketika beramai-ramai, sepanjang dirinya mengenal Delia belum pernah temannya mengajak ngobrol berdua.
"Assalamualaikum, Dira." Sapa Delia dengan ramah.
"Waalaikumsalam, Del. Sini duduk, wah suatu kehormatan nyonya manajer mau main sama karyawan seperti saya." Jawab Dira yang langsung mengambil kursi untuk dudukan Delia.
"Apaan sih, biasa saja, Ra. Aku nggak ganggu kan?"
"Enggak, Del. lagian kerjaanku dah kelar, kok. Kamu kesini pasti mau ketemu kak Juna, ya..Ciyeeeee."
"Iyalah, Ra. Sekalian aku mau kabarin sama kamu. Minggu depan aku mau tunangan sama kak Juna. Kamu datang, ya? bawa pasangan kamu."
"Nyindir ye? Aku mana punya pasangan Del. Mana ada yang mau sama cewek kayak aku."
"Kayak kamu gimana? Kamu cantik kok. Semua perempuan itu cantik Dira. Aku doain akan ada lelaki yang melihat kamu apa adanya."
"Amin."
Delia duduk mendekati kursi Dira. Jarak mereka sangat dekat, Dira senang bisa seakrab ini sama Delia. Dira menebak pasti ada pembicaraan khusus yang akan disampaikan Delia.
Delia bertopang dagu mengamati Dira dengan seksama. Jujur saja, Dira merasa tidak enak dengan tatapan Delia.
"Ra, selama aku di London, Kak Juna ada dekat nggak sama cewek lain."
"Nggak ada. Paling sama mamaku dia sering ngobrol."
"Yeee, itu nggak usah di curigain kali. Gini, Ra semalam aku ada periksa kamar kak Juna. Aku nemuin gaun yang ukuran nggak aku banget gitu. Kira-kira dia mau ngasih gaun buat siapa ya?"
"Buat Ayu mungkin?" Jawab Dira datar.
"Kan Ayu ada suaminya. Masa masih kak Juna yang beliin baju."
"Emangnya kenapa? Kak Feri saja sering beliin aku dan Vira baju kembaran sama kak Mey. Itu sebagai tanda rasa sayang kakak pada adiknya tidak akan luntur walaupun adiknya sudah punya kehidupan baru. Udah, jangan suudzon sama kak Juna. Dia setia sama kamu, sampai stress karena kamu nggak bisa dihubungi selama setahun ini. By the way, aku juga penasaran ada apa dengan satu tahun ini? kenapa kamu menghilang tanpa kabar?"
Bukan satu tahun ini, tapi lebih tepatnya dua tahun yang lalu, Dira.
__ADS_1