
"Kamu pilih siapa Tina? Jamal atau Feri?"
Sebuah pilihan yang teramat sulit bagi Tina. Dia menghormati Jamal seperti keluarga sendiri. Dia juga punya setitik rasa pada Feri. Tapi jika dia memikirkan diri sendiri akan banyak hati yang terluka. Kakak sepupunya, keluarganya, dan juga pihak keluarga Jamal.
"Maaf," Tina segera melepaskan tangannya dari genggaman Feri.
"Untuk apa kamu minta maaf,Na. Jika kamu tidak mau memilih aku tidak masalah. Mungkin aku memang di takdirkan menduda. Mungkin memang aku harus setia sama Mey." suara Feri terdengar lirih.
"Feri, aku..." Feri menutup ujung bibir Tina dengan telunjuknya.
"Tidak usah berbicara lagi, Na. Aku paham perasaanmu. Aku minta maaf kalau aku mengatakan hal ini sama kamu. aku sempat membencimu, rasanya sakit saat melihat kamu bersama Glen. Meskipun aku sebenarnya tahu, di belakangmu Glen juga memacari Maria Selena, sekretaris OSIS sekolah kita.
Jujur saat pertama bertemu dengan Mey, aku melihat kamu dalam dirinya. Kalian mirip sekali, mungkin karena kalian satu gen."
Aku mencintaimu, Feri. Tapi aku tidak bisa menyakiti keluargaku. Aku tahu kak Mayka sangat mencintaimu. Aku yakin kamu bisa belajar mencintai kak Mayka. Dan aku akan belajar membuka hati untuk kak Jamal. Batin Tina.
"Aku ... " Tina mencoba menarik nafas dalam-dalam.
"Aku menerima lamaran kak Jamal." jawab Tina.
"Alhamdulillah," Seru seluruh keluarga.
"Saya sebagai wali dari Martina sangat senang. Acara lamaran ini berjalan dengan lancar. Jadi sebagai pihak dari calon wanita, saya menetapkan kalau pernikahan Tina dan Jamal akan diadakan bulan depan."
Deg!
Tina dan Feri menaikkan kepala secara serempak. Keputusan yang keluar dari mulut pakdenya tak memerlukan perundingan lagi. Ada rasa sesal karena menerima lamaran Jamal. Tapi dia juga bimbang karena tidak enak pada Mayka.
"Terimakasih, Na." Bisik Mayka dengan senyum kemenangan.
Jamal berjalan mendekati Tina. Mengungkap rasa bahagianya karena lamarannya di terima. Jamal mengecup kening dan siku jemari Tina. Masih dalam menunduk Tina berusaha tidak menampakkan kekalutannya. Suara susutan hidung kembali terdengar.
__ADS_1
"Assalamualaikum." suara sapaan bariton terdengar di pintu masuk.
Semua tamu menatap kearah pintu masuk. Tampak dua orang lelaki berdiri, Mayka maju ke depan mempersilahkan tamu itu masuk.
Amran menyalami lelaki teman karib ayahnya. Dalam anggapan Amran kalau kedatangan lelaki paruh baya itu untuk melihat lamaran cucunya.
"Terimakasih, opa sudah mau datang kesini." Mayka memulai pembicaraan.
"Sama-sama." Opa Han menanggapi ucapan Mayka dengan sikap dinginnya.
Opa Han duduk melihat Tina dan Jamal saling berpegangan tangan. Opa memperhatikan mimik wajah Tina yang tidak bahagia. Ada rasa penasaran terselubung di hatinya. Namun sesaat dia tepis merasa bukan urusannya.
"Ehmm... saya mau bicara penting boleh?" opa Han memulai pembicaraan.
"Silahkan, opa." Mayka mempersilahkan lelaki paruh baya itu memulai pembicaraan. Paling tidak dia bisa mengambil hati opa han sebagai cucu menantu.
"Baik, saya ucapkan selamat buat kamu yang baru selesai lamaran. Semoga kalian bisa melanjutkan hubungan hingga ke jenjang pernikahan. Walaupun saya tahu siapa kamu sebenarnya Martina Priscilla Agatha.
Amran menaikan dahinya. Dalam hatinya dia menertawakan ucapan Burhan. Atas dasar apa lelaki tua itu bicara aneh di rumahnya. "Silahkan, Om. Apa yang membuat om bicara seperti itu pada saya?"
Burhan berjalan mendekati Amran. Gaya jalannya yang santai tak tampak seperti sedang menginterogasi seseorang. Sesekali tangan yang sudah berkerut tersebut menepuk pundak putra sulung sahabatnya.
"Jaka,"
Lelaki muda itu langsung berjalan mendekati atasannya "Iya, Tuan."
"Bawa seseorang yang kita ajak tadi." titah Burhan.
"Baik, tuan." Jaka pun keluar menjemput seseorang dari mobil.
"Om, maksudnya apa ini?" Arsyad yang juga ada disana masih belum paham arah pembicaraan mereka.
__ADS_1
"Nanti juga kamu tahu seperti apa kakakmu ini?" jawab Burhan sambil duduk melipatkan kakinya.
Jaka berjalan masuk ke rumah bersama seorang pria. Semua yang disana memandang si tamu baru. Termasuk Tina, dia kaget kalau tamunya adalah mantan suaminya.
"Mau apa kamu kesini?" ucap Tina.
"Kamu lihat sendiri kan, saya disini diajak oleh mereka. Mungkin karena mereka mengira saya akan cemburu melihat kamu sama calonmu itu. Padahal saya kesini mau bilang, saya belum talak kamu! kamu itu masih sah jadi istri saya. Apakah kamu mau poliandri. Jangan mimpi!" Glen berbicara dengan jarak dekat.
"Hey! kamu sudah menalak Tina waktu di penjara. Saya saksinya. Kamu memberikan surat pada Tina. Kamu sudah menalak Tina setelah bertahun-tahun kamu campakkan Tina." Jamal pun bersuara. Lelaki usia kepala tiga itu geram mendengar pernyataan Glen.
"Iyakah?" Glen berjalan mendekati Feri. Keduanya saling bertatapan membunuh.
"Tina, coba kamu tanyakan hal ini pada mantan atasanmu? kenapa aku bisa menalak kamu padahal aku berharap kamu setia menungguku setelah keluar penjara. Buktinya kamu sampai saat ini belum menikah. Itu menandakan kamu masih setia sama aku Tina.
Satu yang harus kalian tahu, Feri Andreas sudah mengejar Tina sejak masih SMA. Padahal dia tahu aku dan Tina sudah pacaran. Oh ya keluargaku dan keluarga Tina sudah merancang perjodohan kami. Dan saat musibah itu datang, aku menikahi Tina di hadapan papanya yang sedang sekarat.
Dan yang mengancamku untuk menceraikan kamu adalah dia. Kamu tahu kenapa? karena dia mau lihat aku dan kamu hancur. Aku hancur di penjara dan kamu hancur dengan akhir pernikahan kita.
Benar kan, Feri Andreas?"
Tina menatap kearah Feri. Meminta jawaban atas semua yang dituduhkan oleh Glen. Feri hanya menunduk sambil mengepalkan tangannya dengan erat.
Memang benar apa yang dikatakan Glen soalnya permintaan Feri untuk menalak Tina. Tapi yang dia lakukan karena sudah terlanjur mencintai Tina. Bukan untuk menghancurkan wanita itu, meskipun dulu dia memang pernah berencana membalas dendam pada Tina.
PLAAAAAK!
Tangan Tina langsung melayang ke wajah tampan di hadapannya. Rasa sesak yang menderanya memecahkan tetesan air bening di wajahnya. tangan halus gemetaran setelah menampar lelaki itu.
"Oh ya, pakde kamu ini tidak pernah mau bantu kamu, Tina. Dia justru mengincar perusahaan papamu. Kamu hanya kambing hitam untuk rencananya itu. Asal kamu tahu, Tina. Saat menggeser perusahaan papamu, bukan hanya papaku saja yang melakukannya. Papaku bekerja sama dengan seseorang yang masih dekat dengan om Heru.
Kamu mau tahu siapa?
__ADS_1
Dialah om Amran, pakde mu sendiri. Om Amran sudah lama mengincar perusahaan papamu. Tapi dia selalu kalah cepat dari papamu. Saat papamu bangkrut, dia mau mengambil saham yang sudah di pegang papaku. Tapi papaku lebih cerdik, dia tahu akal licik om Amran."