Sayembara Jodoh

Sayembara Jodoh
BAB 148


__ADS_3

Tina berjalan kearah pakde. Bagaimana bisa orang-orang terdekatnya menusuk dari belakang. Tina menggenggam dadanya rasanya lebih sakit dari sesak nafas. Perih!


"Itu bohong kan, pakde? aku yakin itu semua bohong kan! jawab pakde! Itu tidak benar kan?" Tina terus memukul dada pakdenya.


"Kamu jangan percaya sama Glen, Tina. Kalau dia bisa menghancurkan perusahaan papamu, dia juga bisa membuat keluarga kita hancur berantakan. Aku ini pakdemu, kakak dari papamu. Mana mungkin aku melakukan itu, Tina." Amran masih berkilah.


Tina tidak tahu mana yang harus dia percayai. Semua dihadapannya penuh kepalsuan. Kebaikan Feri pada keluarganya ternyata ada udang dibalik batu. Ternyata lelaki itu hanya ingin mempermainkannya karena pernah ditolak Tina waktu SMA. Tapi untuk pakdenya, Tina memilih percaya pada kakak papanya. Tina percaya kalau pakdenya tidak mungkin menghancurkan keluarga sendiri.


"Maafkan Tina, pakde. Tina percaya kalau pakde orang baik. Apalagi kita keluarga, aku percaya pakde tidak mungkin melakukan hal itu." Tina memutar tubuhnya kearah Glen.


"Dan kamu, saya minta kamu pergi dari sini. Jangan kamu pikir bisa mengadu domba keluarga kami. Kamulah yang sudah menghancurkan keluarga saya. Pergi!"


Waktu semakin larut, suasana di kediaman amran semakin panas.


"Feri sebaiknya kita pulang saja," ajak Dewi pada putra sulungnya.


"Tapi, ma. Bukankah kita mau melamar ..."


"Feri, dengarkan mama. Situasinya lagi buruk, kita tidak bisa melanjutkan acara ini. Sekarang kita pulang, nanti akan kita pikirkan soal lamaran itu." Mama Dewi sudah berdiri hendak meninggalkan acara.


"Tante, bukankah kalian mau datang melamar saya? kenapa malah pulang?" Mayka mencoba menahan Dewi dan Feri.


"Mayka, beberapa hari lagi kami akan datang ke sini. Tentu saja kalau keadaan sudah tenang. Kamu sabar, ya. Kalau kalian berjodoh pasti akan bersama juga." Mayka melongo, dia mengalihkan pandangannya kearah Tina.


"Semua ini gara- gara Tina!" batin Mayka dalam hati.


"Assalamualaikum, om Amran." Jamal angkat bicara.


"Iya, Jamal ada apa?"


"Saya Jamal minta maaf sama keluarga besar ini. Sama keluarga om Amran, sama Tina. Mungkin ucapan saya sedikit menyakiti hati Tina. Tapi saya tahu kalau cinta itu tidak bisa di paksakan." ucap Jamal pada keluarga besar Amran.


"Jangan berbelit-belit, Jamal katakan saja!"

__ADS_1


"Saya tidak bisa melanjutkan lamaran ini. Saya minta maaf, saya juga mencintai Tina. Tapi sayangnya Tina terpaksa menerima saya. Itu karena dia mau mengorbankan perasaannya demi Mayka."


"Kak Jamal..."


"Tina kamu tidak usah bohongi kata hatimu. Kamu mencintai Feri. Saya tahu itu. Saya mengenal kamu bukan sehari dua hari Mila. Tapi delapan tahun. Dari cara kamu menceritakan tentang bos mu yang katanya menyebalkan itu. Saya tahu ada cinta diantara kalian."


Tina terdiam mendengar kata-kata Jamal. Ada rasa bersalah karena sudah membuat lelaki itu mundur. Tapi dia juga kagum melihat legowo nya Jamal. Sikap yang dewasa.


"Nggak kak Jamal, aku akan tetap menerima kamu. Aku akan belajar mencintai kamu. Kak Mayka juga berhak bahagia dengan lelaki yang sudah di jodohkan sejak kecil."


"Bukan Mayka atau Meyra jodoh Feri sejak kecil." opa Han kembali bersuara.


"Maksud opa apa!" Mayka masih tidak bisa menerima padahal dia tahu yang sebenarnya.


"Sudah saya jelaskan tadi, kamu ataupun adik kamu bukan calon istri Feri yang sebenarnya. Meyra itu hanya pengganti karena calon sebenarnya saat itu sudah tak ada kabar."


"Yasudah, kenapa harus di ungkit lagi. Bukannya sebelumnya akulah yang akan bersanding dengan Feri. Bukan Meyra! buat apa mencari orang yang tidak menginginkan perjodohan itu."


"Oh ya, dengan membuat Mey drop!"


"Opa ini makin lama makin aneh. Untuk apa aku melakukan itu!"


"Tentu saja untuk bisa menikah dengan Feri. Ya kan?"


"Tapi untuk saya melakukan hal itu? anda jangan mengada-ada. Saya bisa tuntut anda dengan pencemaran nama baik."


"Amran, kamu bisa memberikan keputusan setelah melihat video ini." Opa Han menyerahkan video yang dia dapatkan dari cctv.


Amran dengan seksama menonton video tersebut. Meskipun tanpa suara, Amran tahu apa yang di ucapkan Mayka pada Meyra. Pandangannya beralih ke anak sulungnya. Ada emosi yang terpancar dari wajah lelaki paruh baya itu.


PLAAAAAK!


Tamparan itu melayang dari seorang ayah. Ayah yang kecewa dengan kelakuan anaknya. Ayah sakit melihat anaknya di sakiti oleh saudara sendiri.

__ADS_1


"Papa!" pekik Alif.


"Dia memang pembunuh! dia yang sudah membuat adiknya meninggal dunia. Dia ...." tubuh Amran lemas seketika. Semua keluarga menenangkan Amran yang masih syok.


"Dia bukan adik kandungku, Pa. Dia hanya anak haram dari om Heru. Dia anak om Heru dari selingkuhannya. Benar kan, pa?"


"Nggak mungkin, kak! papaku itu setia sama mama. Dia sayang sama aku, mama dan Amar. Jadi tidak mungkin kalau papa punya perempuan lain."


Tina tidak terima kalau papa nya dibilang selingkuh. Selama ini yang melihat papanya mencintai mamanya. Jadi tidak mungkin kalau papanya selingkuh.


"Tapi memang faktanya begitu, Tina. Apa yang dibilang Mayka memang benar. Mey memang adik kandungmu. Beda ibu. Ibu Mey meninggal saat melahirkan, papamu membawa Mey kerumah, tapi mamamu menolak. Makanya dia di titipkan di sini. Mamamu tidak pernah tahu kalau Mey yang dia sayang selama ini adalah anak suaminya dari wanita lain.


"Dan itu kamu katakan pada Mey kan Mayka. Itu yang membuat adikmu itu drop. Papa tidak menyangka kamu sudah membunuh dua nyawa sekaligus. Om Burhan jika anda mau mempidanakan anak saya silahkan. Saya terima."


"Itu urusan keluarga kalian. Saya hanya membeberkan fakta yang sebenarnya." Opa Han berdiri.


"Feri dan Tina sekarang terserah kalian. Apa kalian mau melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih serius atau malah sebaliknya." opa Han menengahi keduanya.


"Maaf, opa. Saya tidak ingin bertemu dengan Feri lagi. Lelaki yang sudah menusuk dari belakang. Aku nggak nyangka kalau kamu ada dibalik semua yang aku alami. Dari menggulingkan perusahaan papa, mengancam Glen untuk menalak aku. Kalau kamu benci sama aku, hancurkan saja aku jangan keluargaku." amuk Tina. Tangannya terus memukul dada Feri.


"Maafkan aku, Tina. Tapi jujur aku cinta sama kamu. Memang awalnya aku ingin membalaskan sakit hati karena saat SMA dulu. Tapi aku mulai terbakar cemburu saat melihat kamu dekat dengan Jamal."


"Pergi dari sini! aku tidak mau ketemu kamu lagi!" Tina memasuki kamar. Menghempaskan tubuhnya di atas ranjang sambil menangis.


*


*


*


Mendekati ending ya....


Apakah Tina mau memaafkan Feri.

__ADS_1


Apa hukuman yang cocok buat Mayka.


__ADS_2