Sayembara Jodoh

Sayembara Jodoh
BAB 123


__ADS_3

Setelah mama Dewi pulang ke Jakarta berdua bersama Vira. Sementara Feri sudah pulang terlebih dahulu. Dira dan Juna pulang ke rumah opa Han. Sementara ini Dira menemani Juna yang masih ada kerjaan di Bengkulu.


Sementara opa Han juga masih di Bengkulu karena banyak proyek yang harus di selesaikan. Juna yang selalu mendampingi kakek mertuanya, meskipun dia tahu makin banyak cibiran yang mengarah kepadanya.


Selepas menanggalkan status lajang dan mulai kehidupan berumah tangga, pasti banyak perubahan yang bakal dialami oleh Dira dan Juna. Tentu, segala perbedaan itu menjadi salah satu proses agar bisa saling menyesuaikan diri, sekali lagi.


Karena Dira sudah di tanamkan oleh mama Dewi untuk disiplin waktu. Jadi saat ini tidak ada kekagetan untuk bagun subuh.


Pada pukul 05.00, Dira terbangun dari peraduan malamnya. Tangan memegang perutnya yang dirasanya masih nyeri.


Setelah malam yang mereka lalui, malam menyerahkan dirinya seutuhnya, Sebagai kewajiban pada suaminya. Wanita itu duduk kursi meja rias. Ini malam keempat dia kembali menunaikan kewajiban pada suaminya. Padahal belum hilang rasa nyerinya saat malam pertama beberapa hari yang lalu.


Senyumnya mengembang ketika memandang suaminya tertidur pulas. Masih tidak percaya kalau lelaki didepannya sudah menjadi suaminya. Rasanya seperti mimpi di siang bolong. Tapi ini memang bukan mimpi. Dira pun memasuki kamar mandi, membersihkan diri. Langkahnya masih sedikit tertatih.


Di hari kedua setelah tinggal berdua. Dira mulai membiasakan memasak buat suaminya. Ya, meskipun dia hanya terbiasa masak nasi goreng. Juna pun tak pernah protes dengan masakan Dira.


"Mas," Dira memulai obrolan dengan suaminya.


"Iya, sayang."


"Kamu nanti pulang jam berapa? mau dimasakin apa?"


"Belum tahu, sih. Aku kan ikuti schedule opa. Jadi ya aku nggak bisa mastiin pulang jam berapa."


"Tapi nggak sampai malam, kan? maaf,mas. Semalam aku ngerasa kayak rumah ini ada gaibnya. Pas mau subuh aku kedapur. Pintu dapur kayak ada yang mengetuk.


Aku takut, Mas. mau bangunkan kamu nggak tega. Kamu pulang saja sudah hampir tengah malam."


"Maafkan aku, sayang. Di awal pernikahan kita aku malah meninggalkan kamu sendirian di rumah. Aku janji setelah urusan ini selesai aku akan luangkan waktu buat kamu. Buat istriku yang tercinta." Juna mengelus pipi Dira.


"Makanya, Mas. Pulangnya jangan kayak semalam. Aku takut. Apa aku bilang sama opa agar mengurangi jadwal kamu."


"Ra, please. Kemarin-kemarin sudah aku bilang jangan pernah menggunakan kekuasaan. Aku nggak suka itu."


"Tapi, aku juga istri kamu, Mas. Opa itu mentang dia yang punya perusahaan tapi seenaknya memadatkan jadwal kamu. Tahu begini aku ikut saja pulang sama mama." Dira masuk ke kamar menutup pintu keras.


Juna hanya mengendurkan nafasnya. Ini hari keempat status mereka sebagai suami istri. Hari kedua sebagai pasangan menikah dan tinggal berdua.


Juna mendekati pintu kamar. Sekarang sudah jam delapan pagi. Sementara satu jam lagi dia ada pertemuan dengan salah satu penggerak tebu di Bengkulu.


"Sayang aku berangkat dulu, ya?"

__ADS_1


Juna masih berdiri di depan pintu kamar. Lama dia menunggu sesekali melirik jam.


"Sayang, dosa kalau cuekin suami. Yasudah, aku pergi dulu, ya." Juna meninggalkan pintu kamar mereka.


Tak berapa lama Dira mendengar suara motor sangat kencang. Dira melihat lelaki keluar pagarnya memakai helm. Dalam tebakannya Juna sudah berangkat kerja.


Dira enggan keluar kamar. Dia memilih merebahkan tubuhnya di kasur.


"Maaf, Mas. Jika aku tadi kekanak-kanakan. Aku bukan tidak suka kamu kerja. Aku cuma ingin kamu punya waktu sedikit saja."


Dira bangkit dari ranjangnya. Dengan sedikit tertatih jalan dia membuka pintu kamarnya. Tak ada siapapun, dia langsung membersihkan bekas makan suaminya.


Dira merasa ada tangan melingkar di pinggangnya. Dengan rakus pemilik tangan itu menikmati indahnya lehernya. Dira tak protes, hanya saja dia merasa geli dengan kejahilan suaminya.


"Sayang, maaf ya jika di awal pernikahan kita aku malah disibukkan dengan pekerjaan. Iya aku tahu, kalau seharusnya waktu kita untuk berdua. Tapi aku harus profesional. Aku nggak mau kalau nanti di cap benalu sama orang-orang."


"Aku juga minta maaf, Mas. Karena sikap kekanak-kanakan aku. seakan tidak mengerti posisi kamu saat ini."


"Kamu tidak jadi kerja?"


"Tadi aku minta dia izin sama Opa. Hari ini aku mau quality time bareng kamu."


"Opa izinkan kan?" Juna mengangguk.


"Kita kemana, Mas."


"Rahasia," kata Juna sambil menahan tawa melihat rasa penasaran Dira.


"Ih, jangan-jangan kamu mau buang aku. Mau cari istri baru."


"Kalau diizinkan?"


"Aawwwwww....sakit sayang." Juna merasa nyeri ketika Dira mencubit perutnya.


"Bandel!" cibirnya.


"Kita sudah sampai." Juna menurunkan Dira dari mobil. Masih dalam mode penasaran, Dira mendengar suara ombak sangat kencang.


"Ini dimana, Mas? laut ya? tuh kan kamu mau yang aneh-aneh. Pasti aku mau di cemplungin."


"Ya enggaklah sayang, dapetin kamu aja susah banget. Ngapain aku nyari lagi."

__ADS_1


"Ya kali aja, Mas. Namanya otak laki-laki, kayak papa."


Juna menggenggam erat tangan Dira. Lelaki itu tahu Dira sempat takut jatuh cinta karena melihat pengkhianat papanya.


"Aku bukan papamu, sayang. Aku adalah Arjuna Bramantyo yang akan menjaga kamu sepenuh hati. Aku Arjuna Bramantyo yang akan mencintai kamu seumur hidupku."


Juna membuka penutup mata Dira. Lelaki itu menutun istrinya untuk ikut ke jembatan gantung di berada di tengah laut.


"Mas, ini dimana?" tanya Dira.


"Ini namanya pantai sungai suci. Di sini terkenal sama ombak pemecah karang. Yuk kita kesana." ajak Juna.


Dira memegang tangan Juna. Seumur hidupnya dia baru pertama kali naik jembatan gantung. Apalagi di temani deburan ombak yang bisa mengenai jembatan. "Mas, takut."


"Tenang sayang, selama ada aku, kamu akan aman-aman saja."


Dira dan Juna akhirnya bisa melewati jembatan gantung tersebut.


Mendengar suara deburan ombak yang silih berganti menghantam tebing dan siulan burung-burung yang beterbangan kesana kemari. Menjadikan suansana begitu tenang bak lantunan musik alam yang menenangkan jiwa.


Tak hanya jembatan gantung saja, para pengunjung dapat menikmati keindahan pantai ini dengan bersantai di pondok-pondokan yang tersedia di sekitar pantai ini.


"Sepi, Mas?"


"Soalnya bukan weekend. Jadi sepi, tapi bukannya enak ya. Kalau sepi begini bisa romantisan berdua."


"Mas, mau ngapain?"


"Tutup mata sayang."


Dira memejamkan matanya sesuai permintaan suaminya.


Byuuuuur!


Gulungan ombak menghantam pinggiran pondok, tempat Juna dan Dira berdiri. Tubuh mereka yang basah menjadi sensasi tersendiri, Juna merekatkan tubuh Dira lebih dekat lagi. Sesaat mereka saling bertatapan. Saling melepas tawa saat keduanya menyadari tubuh mereka basah kuyup. Bahkan hantaman ombak juga menyisakan pasir di tubuh mereka.


Seakan tidak peduli dengan tubuh yang basah kuyup, Juna semakin menatap intens wajah sang istri. diraihnya dagu Dira dan labuhkan sebuah kecupan lembut di bibir wanita yang dia cintai.


Terjangan ombak di samudera, layaknya ujian cinta yang mungkin akan mereka tempuh. Cerita perjuangan penuh air mata. Cerita yang akan mereka suguhkan pada anak cucunya nanti. Dengan saling mengasihi, saling mencintai, menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing. Mereka yakin bahwa bahtera cinta tidak akan pernah karam meski di hantam gelombang besar.


...Dan aku berterima kasih pada sayembara jodoh. Karena mendekatkan kami berdua....

__ADS_1


...~ Dira dan Juna~...


...TAMAT...


__ADS_2