Sayembara Jodoh

Sayembara Jodoh
BAB 90


__ADS_3

Juna berjalan kembali menuju ruang rawat Delia. Dimana ada adik dan kedua orangtuanya disana. langkah demi langkah di susurinya. Bahkan terhitung berapa jumlah petak ubin yang di sentuhnya.


Di depan pintu kamar rawat Delia, Juna mencoba menemui orangtuanya yang masih berada didalam.


"Jadi bagaimana Johan?"


"Maaf, Abdul." Jawab Johan.


"Hay, kamu tidak lupa kan, saham yang ada di pabrikmu punya siapa?"


"Tapi---"


"Kenapa? kamu tidak mau lagi terlibat kerjasama dengan saya. Tidak masalah. Aku bisa mengerahkan anak buahku untuk menutup pabrikmu, dan kamu akan jatuh miskin lagi seperti dulu." ujar tuan Shahab dengan santai.


"Emangnya kenapa kalau kami jatuh miskin? yang penting hidup kami tidak hina seperti anda!"sahut Ayu yang ikut membela orangtuanya.


"Kamu lupa Ayu, siapa yang membiayai pendidikan kamu dari SD sampai lulus kuliah. Bahkan saya menyetarakan sekolah kamu dengan sekolah Delia."


"Om, saya berterimakasih kalau anda banyak berjasa dalam kehidupan kami. Tapi sekarang saya tahu, om melakukannya tidak ikhlas."


"Oh, ya. Kamu tahu tidak ada yang gratis di dunia ini."


"Berapa yang bisa kami bayar saya akan mengembalikan?"


"Oh, ya. Kamu dapat uang darimana? suami kamu saja dapat penghasilan dari saya." suara tuan Shahab tertawa remeh.


BRAAAAAAKK!


Juna yang sedari tadi mendengar ucapan tuan Shahab mendobrak keras pintu ruang rawat dengan keras. Rasa tersinggung akibat ucapan tuan Shahab merongrong keluarganya meluap besar. Dia tidak takut dengan ancaman tuan Shahab pada keluarganya. Tangan mengepal erat lalu melayangkan bogem mentah pada mantan calon mertuanya.


BUUUUUUGHH!


Sebuah tinju bersarang di wajah lelaki paruh baya tersebut. Telak! lelaki itu tersungkur ke sudut ranjang tempat Delia berbaring.


Awalnya Juna masih bisa menahan diri mengingat lelaki di depannya yang dihormatinya. Kalau saja lelak itu tidak menyinggung perasaan keluarganya mungkin akan beda cerita.

__ADS_1


Ayu menahan tubuh kakaknya agar tidak melanjutkan amukan tersebut. Terlebih mereka saat ini sedang berada di rumah sakit. Juna masih mencoba melepaskan emosinya, di depan tubuh Delia yang masih kritis.


"Sudah saya bilang jangan usik keluarga saya. Kalau anda tidak mau di usik juga, kenapa anda bebal sekali di kasih tahu. Apa perlu saya sebarkan kalau istri dan anak anda adalah korban KDRT. Anda tidak lupa kan? saat anda pernah memukul Tante Yasmin di restoran hanya karena kesalahan kecil. Anda tidak lupa saya juga saksi mata bersama Jamal. Ingat reputasi anda berada di tangan saya saat ini.


Anda sekarang berada di atas. Siapa tahu sebentar lagi anda berada di bawah. Camkan itu!"


Semua yang ada di ruangan menengahi dua lelaki beda generasi tersebut. Juna masih tidak habis pikir sama tuan Shabab, disaat anaknya sedang diambang maut lelaki itu malah mementingkan bisnis serta pamrih. Masih dalam keadaan emosi Juna menantang tuan Shahab.


Tuan Shahab tiba-tiba menelpon seseorang.


"Kamu tadi pulang bareng dia kan? saya minta kamu antar ke suatu tempat. Jangan di tengah kota nanti saya sharelock alamatnya."


Selesai menutup teleponnya tuan Shahab tersenyum tipis menatap Arjuna.


"Ayo kak, kita pulang!" Ayu menarik kakaknya yang masih emosi.


Juna menghempas tangannya yang di pegang Ayu ketika sudah di depan parkiran. Matanya menatap tajam kearah papanya. Seakan kecewa dengan sikap papanya yang lembek


"Papa ngomong apa sama tuan Shahab sampai dia menawarkan anaknya. Papa dengar, ya. Kalau sampai papa kembali bekerja dengan tuan Shahab, Juna nggak akan pulang lagi ke rumah. Juna kecewa dengan papa yang masih diperbudak oleh papanya Delia. Sadar,pa! Tuan Shahab itu licik, dia nggak ada perikemanusiaannya, sama keluarganya saja dia begitu apalagi dengan orang lain."


"Juna geram, ma. lihat papa di buat seperti itu sama tuan Shahab! mama tahu siapa yang buat Juna di pecat sepihak. Dia, ma! tuan yang kalian hormati! sekarang kalian mau menelan ludah sendiri. Setelah kemarin mama dan papa sudah setuju dengan kesepakatan bersama pak Burhan. Kalian mau mengingkarinya lagi."


Juna pergi meninggalkan keluarganya di halaman parkiran rumah sakit. Rasa kecewa dengan sikap papanya yang tidak tegas dengan tuan Shahab. Tangan Juna mengepal erat.


Dira sedikit tertidur di dalam mobil. Mata nya sedikit mengerjap melihat di sekelilingnya. Dira terlonjak kaget saat melihat jalanan penuh hutan.


"Aku dimana?" batin Dira.


Dira ingin keluar dari mobil namun ternyata tangannya diikat. Bukan hanya tangannya tapi juga kaki. Beberapa saat terdengar suara hendak menghampiri mobil.


Dira mengedarkan pandangannya ke dalam mobil. Sepertinya mobil telah berganti. Bukan lagi mobil milik Eka.


"wah, mbak cantik sudah bangun?" sapa pria berkepala plontos.


"kalian siapa?"

__ADS_1


"Kami siapa? kami adalah orang-orang pembasmi hama seperti kamu. hahahaha... ayo Parto kita jalan, aku sudah tidak sabar menikmati wanita ini." bibir Dira keburu di tutup sebelum melontarkan ocehan.


"Halo, bos. Iya dia sudah ada bersama kami."


"Apa kata bos besar?" tanya sopir.


"Katanya terserah mau diapain. Iya kan, neng. kita akan senang-senang. Akang bawa neng ke surga dunia...."


Mama, tolong aku!


klik


Mama Dewi duduk di depan teras rumahnya. Beberapa kali dia menekan nomor tersebut tetap saja tidak aktif. Bahkan tadi dia menelpon Eka namun katanya Dira sudah turun di depan kantor.


"Ma," sapa Vira melihat mamanya gelisah.


"Vira, coba kamu telepon Arjuna mungkin saja dia ada melihat Dira."


"Sebentar, ma." Vira merogoh handphonenya dari kantong. Mencoba menghubungi Arjuna.


"Nggak diangkat,ma. Tapi tadi aku sudah coba chat kak Juna nanya soal kak Dira." jelas Vira.


"Ya Allah, nak. Kamu kemana? tidak biasanya kamu seperti ini. Apa dia sedang ada masalah?"


"Vira nggak tahu, ma. Sepertinya tidak ada masalah tuh. Mungkin kak Dira lagi jalan sama temennya. Dia kan juga butuh refreshing, ma."


Dewi hanya menghela nafas berat. Dia cemas ketika putri tengahnya belum juga pulang. Feri yang baru saja pulang kantor bingung melihat mamanya masih duduk di teras depan.


"Ada apa, ma?"


"Kak Dira tidak bisa dihubungi dan sampai sekarang belum pulang, kak."


"Tadi bukannya Dira dari kantor berangkat jenguk Delia bareng Eka. Coba tanya ke Eka?"


"Sudah kak, katanya tadi nurunin kak Dira di depan kantor."

__ADS_1


"Masa sih, kalau iya diturunkan depan kantor pasti satpam kantor melapor. Ini nggak ada tuh. Wah, aku harus mastiin ke rumah Eka."


__ADS_2