
PLAAAAAAAK!
Sebuah tamparan melayang di wajah mulusnya. Guratan wajah si penampar terlihat sangat kecewa. Entah darimana info itu berasal yang pasti dia merasa hidupnya selesai saat ini. Semua yang tersimpan akhirnya terbongkar juga. Tangannya mengelus bagian pipinya yang memerah. Perih rasanya, tapi lebih perih perasaan kedua orangtuanya dan juga keluarga besarnya.
"Papa kecewa sama kamu, Del. Selama ini papa sudah berusaha menjaga kamu, papa tidak mau kamu terjerumus kehidupan bebas. Makanya papa melarang kamu pacaran. Tapi apa yang kamu lakukan,hah! kamu malah hamil dan melahirkan bayi haram itu. Sekarang dia hidup dan akan menjadi aib dalam hidupmu juga keluarga kita.
Dari awal papa sudah melarang kamu kuliah di London. Disana kehidupannya sangat bebas. Tidak ada yang menjagamu atau memantau. Kamu tetap kekeh mau kuliah disana. Sekarang apa hasilnya, kamu dikeluarkan, hamil tanpa suami, dan punya anak!"
Orang tua mana yang tidak merasa sedih, kecewa, bahkan mungkin marah, dan penyesalan lainnya. Luapan emosi tersalurkan, sambil mengingat bahwa ada tanggungjawab besar yang akan terjadi nanti.
"Pa, kami berdua di jebak oleh seseorang yang tidak menyukaiku. Itu terjadi diluar kendali, pa." Tangisnya pecah di sela amukan orangtuanya.
Yasmin melihat bagaimana kemarahan suaminya terkait kehamilan putrinya. Dia juga kecewa pada Delia, kecewa pada dirinya sendiri karena tak mampu mendidik anaknya dengan baik. Kekecewaan orangtua yang sangat besar. Delia akui dirinya memang melampiaskan kekangan kedua orangtuanya. Kehidupan bebas di London meskipun hanya suka nongkrong di diskotik. Tak pernah dirinya sampai menyerahkan tubuhnya ke pria lain. Hingga saat pertemuannya dengan Rian yang dianggapnya naas.
Flashback
Pagi itu di negeri ratu Elizabeth, Delia terbangun setelah semalaman bergerilya melepas pengaruh obat perangsang. Kakinya terasa sakit, rasanya susah sekali untuk bangun. Matanya melirik lelaki yang ada disampingnya. Sedikit senyum merekah di bibirnya. Seperti biasa dia menjebak para lelaki hanya menggunakan obat tidur. Lalu kabur mengambil barang berharga seperti uang.
Delia bangkit mencari kamar mandi. Selimut biru langit milik Rian jadi sasaran menutupi tubuhnya. Dalam pikirannya pasti tidak akan apa-apa dengan dirinya. Dia mengira kalau mereka sudah pakai pengaman atau apalah yang mungkin tidak akan bisa membuatnya hamil.
Delia melewati tubuh Rian yang polos tanpa busana. Seakan menelan salivanya serta mengakui betapa gagahnya lelaki itu. Langkahnya berjalan pelan, dia tak ingin Rian terbangun dan menagih one night selanjutnya. Delia pun merasa bagian sensitifnya terasa sakit. Ini pertama kalinya dia menyerahkan tubuhnya dengan laki-laki. Apalagi laki-laki yang baru satu malam di temuinya.
"Kak Juna maafkan aku," lirihnya.
__ADS_1
Terbayang dalam ingatannya jika suatu saat Juna tahu dia sudah tidak virgin. Terbayang Juna akan meninggalkannya jika lelaki itu tahu semuanya. Ketakutan itu terus menghantui Delia. Delia mencoba menguatkan dirinya, dia yakin tidak akan sampai hamil. Sungguh jika itu terjadi hancurlah hidupnya.
Delia keluar dari kamar Rian, berjalan mengendap-endap bagaikan seorang pencuri. Iya, dia memang mencuri barang milik Rian, seperti uang, dan beberapa barang berharga lainnya. Biasanya dia langsung menyerahkan barang itu ke Alex. Karena memang itu untuk biaya hidup lelaki itu. Delia banyak hutang budi ke Alex, karena selama di London, lelaki itu menjadi pelindungnya. Alex menjaga Delia lebih dari nyawanya sendiri.
Apakah itu Alex punya perasaan khusus padanya? Delia enggan berpikir kesana. Dia sudah beberapa memberi pengertian kalau ada Arjuna yang sedang menunggunya. Untungnya Alex tak pernah meminta dirinya untuk membuka hati. Itu yang membuat Delia bertahan berteman dengannya.
"Bagaimana, enak bukan?" suara itu mengagetkan Delia.
"Sakit, Lex! perih! emang apa yang kamu masukan ke minuman Rian sampai dia agresif gitu." Keluh Delia.
"Seperti biasa. Obat tidur." jawab Alex enteng.
"Kalau obat tidur kenapa punyaku juga dimasukkan. Kamu mau merusakku, hah!"
"Tapi...."
Delia dan Alex meninggalkan apartemen Rian. Alex menggendong Delia yang susah berjalan. Alex bahkan menonton adegan panas antara Rian dan Delia melalui cctv yang terhubung dengan handphone. Senyumnya mengembang melihat keduanya melakukan lebih dari satu ronde.
"Obat itu sangat mujarab." ucap Alex.
Sampai di apartemen Delia, wanita itu langsung membersihkan diri, merendam tubuhnya dalam bathtub dengan wewangian. Dia belum bisa membayangkan apa yang terjadi sebelumnya. Tapi yang pasti Delia menebak kalau sudah terjadi sesuatu antara dirinya dan Rian.
Selesai membersihkan diri Delia memeriksa handphonenya. Beberapa panggilan dari Arjuna memenuhi notif di layar handphonenya. Ada rasa bersalah karena sudah merusak hubungan perjodohan mereka. Delia memilih mengabaikan panggilan dari calon suaminya.
__ADS_1
"Semoga aku tidak sampai hamil." ucapnya sambil menerawang kearah langit dinding.
Tapi nyatanya beberapa minggu setelah kejadian itu dia dinyatakan hamil. Dia yakin itu adalah hasil hubungannya dengan Rian. Alex pun meminta Delia pulang ke Indonesia untuk meminta tanggungjawab Rian. Tapi sayangnya dia menolak karena akan ketahuan oleh orangtuanya. Dalam bayangannya terlintas kemarahan orangtuanya termasuk papanya.
Hingga setelah melahirkan snow. Delia memilih pulang ke Indonesia seolah tidak terjadi apa-apa. Namun dia harus menelan kecewa saat mengetahui ada hubungan antara Dira dan Arjuna. Apalagi hubungan itu terjalin saat dirinya bersembunyi selama satu tahun lebih.
Dan lebih kagetnya lagi lelaki yang akan mempersunting Dira adalah Rian. Entah ini takdir atau kebetulan semata, Delia merasa kemarahannya pada Dira dan Rian seakan di sambut oleh langit. Beberapa kali Delia mencoba melampiaskan kekecewaannya pada keduanya. Hanya saja setiap Delia melakukan pada Dira selalu ada Arjuna yang jadi pelindung.
Flashback off
"Pa, jangan seperti itu sama Delia." bela Yasmin melihat anaknya dimarahi suaminya.
"Kamu mau bela dia, hah! kalian berdua sama saja, sama-sama murahan. Buah tidak jatuh dari pohonnya. Aku menyesal menikahimu"
Yasmin mengepal tangannya. Selama ini dia berusaha diam saat suaminya memakinya. Dia juga melakukan itu atas paksaan orangtua yang terbelit hutang pada tuan Abdullah Shahab. Bukan atas kemauan sendiri. Setiap ada kesalahan suaminya selalu menyebut dirinya murahan. Amarah membara dalam diri Yasmin, kesabarannya sudah habis.
"Oh, terimakasih tuan Shabab atas ucapannya. Saya sangat berterimakasih ketika anda terus menghina saya dan anak saya. Dosa saya berkurang, dosa saya berpindah pada anda. Asal anda tahu, saya juga tidak mau hamil anak anda, saya harus meninggalkan calon suami yang begitu baik. Karena apa? karena anda sudah mengancamnya terlebih dahulu." Amuk Yasmin.
Selama ini Yasmin mencoba bersabar saat suaminya melakukan KDRT pada dirinya. Apalagi kebanyakan orang keturunan Arab sifatnya memang sedikit kasar. Kebanyakan bukan berarti semuanya begitu. Tapi itu yang dialami Yasmin selama ini. Bahkan Haura, istri pertama Abdullah Shahab saja tidak berani melawan suaminya. Kali ini dia tidak bisa menerima penghinaan suaminya. Yasmin mencoba berontak apapun resikonya.
"Kamu mau apa, hah! minta pisah! saya tidak akan menceraikan kamu, paham! seharusnya kamu sadar diri Yasmin! Kalau tidak menikah dengan saya mungkin kamu akan menjadi gembel. Orangtuamu akan dikejar hutang liang kubur. Oh ya, orangtuamu yang miskin itu sudah meninggal bukan. Dia akan mendapatkan siksaan kubur karena sudah menjual anaknya padaku. Hahahaha ..."
PLAAAAAAAK!
__ADS_1
"kamu boleh menghinaku, tapi jangan anakku dan kedua orangtuaku. Seharusnya kamu juga sadar apa yang terjadi pada Delia juga akibat perbuatanmu. Kamu yang mengekangnya tanpa memberikan edukasi yang baik pada Delia. Selama ini saya sudah berusaha mendidik Delia menjadi wanita yang baik, tapi kamu yang selalu menggagalkan usahaku. Dan apa hasilnya, ini yang terjadi. Kamu menyalahkan saya dengan membawa masa lalu. Seakan semua yang terjadi adalah ulah saya. Hebat!"