
"Ini kampus kamu, Rudi." Sahut Satria kaget saat Rudi minta diantar ke kampus barunya.
"Iya, kak." Jawab Rudi sambil tersenyum simpul pada kakak sepupunya.
Ini ada tahun ajaran baru bagi Rudi Darmawan. Lelaki berusia 18 tahun tersebut belum lama ini mendapat pengumuman kelulusannya. Dan hari ini dia meminta kakak sepupunya untuk mengantarkan pendaftaran ulang di kampus tersebut.
Yang membuat Satria kaget kampus tersebut adalah kampusnya Vira, mantan kekasihnya. Satria pun memilih tidak ikut turun dengan alasan ada urusan lain.
"Yakin, kakak nggak mau ikut." Tawar Rudi.
"Enggak, kamu saja yang masuk. Nanti kabari aku kalau sudah mau pulang." Jawab Satria.
"Oke, kak." Mobil Satria pun menghilang dari peredaran kampus.
Rudi berjalan memasuki gedung kampus swasta tersebut. Matanya berkeliling melihat-lihat apa yang bisa menjadi informasi disana. Senyumnya mengembang saat melihat beberapa gadis berjalan melewatinya.
"Disini banyak cewek cantik ternyata. Makin betah aku sekolah disini."
Rudi menghentikan langkahnya saat melihat seorang gadis muda duduk sambil memandang layar komputer. Sosok yang cantik dan imut dimatanya, Rudi berjalan penuh percaya diri mendekati sosok itu.
"Hai," sapanya.
"Eh, hai," Sosok menoleh sambil tersenyum lalu kembali fokus dengan laptopnya.
"Boleh duduk," Rudi masih mencoba berkomunikasi.
"Oh, silahkan."
"Perkenalkan nama saya Rudi. Kamu?"
"Savira, kamu anak jurusan apa? baru lihat soalnya?"
"Oh, saya anak manajemen. Kamu?"
__ADS_1
"Ekonomi pembangunan semester tiga" Jawab Vira.
"Oh, kakak tingkat, ya. Saya disini lagi mau daftar ulang." jelas Rudi menceritakan urusannya di kampus.
"Oh gitu. Maaf saya tinggal dulu, ya. Soalnya urusan saya sudah selesai." Vira pamit dari Rudi.
"Oke, terimakasih sudah mau kenalan sama saya."
Ya Allah dia manis sekali. batin Rudi memegang dadanya yang berdetak kencang.
"Vira, kamu sudah selesai." Sahut Elsa yang muncul di depan gerbang.
"Bisa nggak sih, nggak kagetin aku. Bisa copot jantungku, aku masih muda, belum nikah, masih pengen hidup." Elsa hanya nyengir saat Vira mengomelinya.
"Maaf, jalan yuk." ajak Elsa.
"Malas, aku mau pulang." Vira berjalan meninggalkan teman akrabnya.
Elsa hanya menggelengkan kepalanya melihat Vira yang sekarang cuek. Padahal dulu Vira yang suka shopping ataupun diajak jalan-jalan. Sejak putus dari Satria, Vira lebih betah di rumah daripada ikut nongkrong.
"Nggak apa-apa, Sa. aku lagi nggak pengen ngapa-ngapain aja."
"Bukan karena Satria?" Elsa mencoba menyelidik suasana hati Vira.
"Bukan!" Jawab Vira tegas.
"Terus?" Elsa masih dengan kekepoannya.
"Ingat, Dion?" Tanya Elsa.
"Tentu saja, ingat! Dion yang bikin kamu klepek-klepek waktu SMP. Memang kenapa?"
"Dia nembak aku semalam. Nggak ada angin nggak ada hujan baru ketemu waktu lagi ke mall."
__ADS_1
"Terus?"
"Aku ngeliat kak Satria jalan sama cewek."
"Terus?"
"Kak Satria ngeliat aku pas Dion nembak aku."
"Kamu terima?"
"Secara tidak sadar aku terima."
Elsa menggaruk kepalanya "aku baru dengar kalau nerima cinta seseorang pake nggak sadar. Lo nggak kena hipnotis kan, Vir."
Vira menjelit kearah Elsa, ucapan temannya justru bikin kepalanya pusing.
"Terus aku harus bagaimana, Frozen!"
"Ya kamu jalani hubungan dengan Dion. Bukankah dulu kamu suka sama dia? ini kesempatan kamu untuk menyelesaikan yang belum kelar." Jawab Elsa sambil tertawa di depan Vira.
"Dan buktikan pada kak Satria kalau kamu sudah move on. Memang dia doang bisa jalan sama perempuan lain. Kamu juga harus bisa pamer gandengan di depan dia. Semangat!" Elsa memotivasi sahabatnya.
Savira Gayatri, putri dari Dewi Savitri dan Andreas Hutomo. Memiliki wajah putih bersih sejak kecil, ketimbang Dira, kakaknya. Vira menjadi ladang pujian bagi ibu-ibu arisan mamanya. Vira termasuk super daripada Dira kakaknya. Dia aktif berbagai kegiatan sekolahnya baik Pramuka, Dance dan lainnya yang berhubungan dengan seni. Vira memang penyuka seni. Sama dengan Dira penyuka sastra, hanya Feri yang memang suka belajar.
Vira duduk di meja belajar kamarnya. Masih ingat dalam ingatannya bagaimana dia melihat Satria jalan dengan perempuan lain. Seperti Dewi Fortuna berpihak padanya, disaat itulah dia bertemu Dion, lelaki yang pernah dia dekati waktu SMP.
Berkat Dion, Vira dulu menerima cinta Satria yang menjadi pelatih basketnya. Berkat Dion, Vira pun bisa meluapkan rasa cemburunya saat melihat Satria bergandengan tangan dengan wanita lain. Memang dia yang sudah memutuskan Satria dengan alasan belum siap menikah.
Satria sempat meyakinkan Vira untuk tetap menunggu sampai Vira siap. Namun Vira tetap pada keteguhan hatinya. Dirinya belum siap nikah muda.
"Ra," Vira menutup laptopnya saat mendengar namanya di panggil.
Gadis itu berjalan kearah si pemilik suara. Tampak sosok cantik tersebut masuk ke kamarnya dan langsung memeluk guling. Vira langsung membangunkan kakaknya, seakan tidak terima kasurnya dikuasai Dira.
__ADS_1
"Kakak ngapain tidur sini! Kamar kakak diatas bukan disini." Usir Vira. Tapi yang diusir tetap tak bergeming. Terdengar suara susutan hidung. Vira tahu kakaknya butuh tempat berbagi. Gadis itu duduk di samping Dira. Tangannya mengelus punggung Dira, seperti seorang ibu yang menenangkan anaknya.