Sayembara Jodoh

Sayembara Jodoh
BAB 69


__ADS_3

POV Tina


Aku berjalan menelusuri lorong sebuah ruangan. Beberapa lelaki berpakaian dinas memintaku duduk untuk memanggil orang yang akan ku temui.


Aku duduk di depan meja kecil ditemani kursi kayu kosong di hadapanku. Nekat memang, sosok yang akan ku temui sedikit berbahaya, sangat bahkan, dia bukan hanya menyakitiku tapi tidak bisa menjaga amanah.


"Nona Tina," salah seorang sipir memanggilku.


"Iya, pak."


"Saudari Glen tidak mau menemui anda." Jawabnya.


"Iya, pak terimakasih. Saya pamit." Aku meninggalkan ruang jenguk tahanan.


Aku berjalan meninggalkan lapas. Lagi-lagi aku gagal mendapat keterangan soal penyebab perusahaan papa hancur. Tanganku mengepal keras, apakah aku salah memperjuangkan hak aku, mamaku dan adikku.


Seminggu yang lalu aku bertemu pak Tama. Lelaki yang pernah menjadi pengacara handal di perusahaan papaku. Dia bilang kalau yang mengenal penghancur perusahaan adalah Glen. Musuh masa lalunya Glen, punya dendam pribadi pada mantan suamiku.


Tapi siapakah dia?


Aku tahu Glen memang masuk dalam dunia malam. Dia sering mabuk, narkoba dan casanova. Secara face, Glen memang tampan. Kalian tahu sama Ari Wibowo, Glen dikenal sebagai Ari Wibowo masa muda kala masa SMA, semua perempuan menggilainya, meskipun saingannya adalah Arjuna.


Arjuna dan Glen layaknya pangeran turun dari langit. Menjadi panutan para wanita. Dan salah satunya aku yang terjebak cinta Glen saat itu. Pesonanya saat itu yang memikat aku tanpa tahu seperti apa dalamnya. Bahkan lelaki setulus Feri aku acuhkan karena daya pikat Glen. Itulah bodohnya aku, karena gampang saja terpikat hanya karena ketampanannya.


Saat ini aku hanya berdiri di depan lapas, menanti kak Jamal yang akan mengambil motor di parkiran. Untung selama ini kak Jamal selalu ada buatku. Namun bagiku dia tidak lebih dari teman. Entah kalau yang dirasakan kak Jamal lebih dari itu. Aku tidak pernah mencoba mencari tahu, biarkan saja, itu hak dia.


"Maaf,ya buat kamu menunggu." sapanya dengan ramah.

__ADS_1


"Iya nggak apa-apa, kak. Maaf sudah membuat kak Jamal meliburkan diri." Aku merasa tidak enak. Kak Jamal terpaksa izin dari pekerjaannya hanya untuk menemaniku ke lapas.


"Kenapa? dia tidak mau ketemu lagi?"


Aku hanya mengangguk di depannya. Aku bingung kenapa Glen tidak ingin menemuiku.


"Mungkin dia malu sama kamu, Tina. Dulu dia menzolimi kamu, membuat kamu jadi janda, mengambil perusahaan orangtuamu. Aku rasa itu yang membuat dia enggan menemuimu. lagian kenapa kamu masih menemuinya?"


"Dia masih suamiku, kak. Aku belum ditalak sama dia dan aku yang pergi dari rumah karena tidak tahan dengan perlakuan dia juga keluarganya."


"Lalu apakah kedatanganmu untuk meminta cerai darinya. kalau iya, bagus dong? Akan ada lelaki yang mau menerimamu apa adanya."


"Aku cuma ingin tahu siapa lelaki yang menyabotase perusahaan papaku. Beberapa waktu yang lalu aku bertemu mantan pengacara perusahaan papaku. Dia bilang yang bikin Glen masuk penjara adalah musuhnya. Orang itu punya dendam sama Glen. Tapi siapakah itu? kenapa perusahaan papaku yang jadi sasaran. Aku tahu kalau Glen memang terkenal dalam dunia hitam, jadi aku rasa wajar kalau banyak yang membenci dirinya."


"Sudahlah, Tina. Kita lupakan masa lalu itu, kalau kamu masih mau melacak tentang perusahaan papamu, kita minta tolong mas Juna saja. tapi tadi dia pulang lebaran ke rumah orangtuanya. Jadi kita tunggu kalau dia sudah pulang."


"Kamu tahu cerita mas Juna, dia jatuh cinta sama adik tetangganya. Katanya dia merasa debaran jantungnya kencang sama adik tetangganya itu. Padahal yang aku tahu dia sempat mau menikah dengan anak pak Shabab. Pak Shahab itu orang baik, dia memang keras tapi itu dia lakukan agar pekerjanya tidak lembek.


Ya mungkin gitu ya karakter orang Arab. Aku pernah dengar orang Arab itu tegas dan kasar. Itu yang kulihat dari tuan Shahab."


Lalu apa urusannya denganku? Dia menceritakan tentang Arjuna seakan salut dengan lelaki itu. Apapun itu tidak akan mempengaruhi urusanku. Aku harus mencari tahu siapa dalang dari semua ini.


Kami sampai di depan rumahku. Aku turun dari motor langsung melaju masuk ke dalam rumah. Amar, adikku langsung keluar dari kamar mama. Mukanya pucat sekali, aku pikir dia pasti bikin repot mama lagi. Tapi ternyata aku salah. Amar menarikku ke kamar mama.


"Ya, Allah mama!" aku langsung berhambur ke ranjang dimana mama berbaring. Seingatku tadi dia masih baik-baik saja. Mataku berfokus pada yang menempel di dahi mamaku.


"Mar, mama kenapa?" tanyaku panik.

__ADS_1


"Nggak tahu, kak. pas pulang dari main aku lihat mama pingsan di dapur. Terus aku sama anak-anak yang lain mengangkat mama ke tempat tidur. Badannya panas. Jadi kata tole kalau orang demam dia pakai kompres tempel, jadi mama pakai kompres tempel punya tole."


"Amar lucu juga, na. Itu kan kompres tempel balita." Bisik kak Jamal.


"Ih, kak Jamal, orang sakit diketawain."


"aku bukan mengetawakan mamamu, tapi yang dibuat Amar. Keren masih kecil dia sudah sigap, meskipun pake kompres bayi."


POV author


Tina duduk disamping mamanya. Memegang dahi sang mama yang panasnya belum turun. Helaan nafas panjang terdengar pelan, tubuhnya di senderkan ke dipan ranjang. Tatapannya menerawang, teringat saat masih keluarga lengkap. Kebahagiaan yang tak terkira saat itu, Tina hanya menjadi anak yang paling disayang oleh kedua orangtuanya. Semua kemauannya selalu di penuhi oleh papanya. Apalagi Tina juga dekat dengan Meyra, adik sepupunya. Usianya dengan Meyra terpaut tiga tahun, mereka bahkan sering tukaran baju.


Kini papanya telah tiada, begitu pun dengan Meyra yang ternyata adalah istrinya Feri, lelaki yang pernah mengejarnya.


Dunia ini sempit, Tina tidak menduga kalau atasannya adalah adik iparnya. Tina juga kaget saat tahu Meyra meninggal dalam keadaan hamil tua.


Tangannya membuka tas, dimana sipir penjara menitipkan sebuah surat dari Glen. Perlahan dia membuka amplop surat tersebut.


Yang isinya ternyata surat dari pengadilan agama, ya Glen telah menalaknya, itu artinya statusnya jelas dia bukan istri Glen lagi. Dia janda sekarang.


Tina menyeka air matanya, statusnya yang menggantung beberapa tahun akhirnya selesai. Dia bersujud saat membaca isi surat tersebut.


"Na," suara mamanya terdengar berat.


"Ma, Tina sudah janda sekarang. Glen sudah menceraikan Tina. Alhamdulillah, ma. Alhamdulillah, seandainya dulu aku lebih cepat mengurus mungkin nasibku tidak menggantung bertahun-tahun." Isaknya sambil memeluk tubuh mamanya.


"Alhamdulillah, Tina. Kamu ingat, nak. Kamu tetap harus menjaga sikap, jangan jadi mudah menerima lelaki lain dalam hidupmu." Nasehat mamanya.

__ADS_1


__ADS_2