Sayembara Jodoh

Sayembara Jodoh
BAB 36


__ADS_3

Masih dalam flashback


Feri akhirnya memberanikan diri menemui Tina. Dimana dia tetap nekat mengungkapkan perasaannya pada gadis itu. Apa pun keputusan Tina dia terima, asalkan dilakukan dengan baik.


Langkah Feri ke kelas semakin mantap dimana dia harus menyatakan perasaannya pada Tina. Gadis yang sudah menjadi incarannya sejak kelas satu SMA. Gadis yang membuatnya tidur tak nyenyak selama dua tahun ini. Sekarang dia semakin mantap untuk menyatakan perasaannya. Dukungan dari beberapa teman membuatnya semakin bersemangat.


Siang ini, saat jam istirahat sekolah. Anak-anak SMA Nusa Bangsa sudah berhambur keluar kelas. Tentu saja mereka melepas penat setelah beberapa jam berkutat pada buku, papan tulis dan ocehan guru. Salah satu siswa yang berjalan keluar dari kelas adalah Feri. Tangannya menggenggam sekotak kado, setangkai mawar dan seniat keberanian.


"Kak Feri, tolong pikirkan lagi!" Sahut Juna yang juga teman sekelas.


Meskipun mereka seangkatan, tapi Juna tetap menganggap Feri seperti kakaknya.


"Juna, aku yakin kalau Tina punya perasaan padaku." Jawab Feri semakin bersemangat.


"Terserah kakak saja!" Juna meninggalkan Feri yang dianggapnya susah dikasih tahu.


"Apa kamu suka sama Tina sampai melarang aku mendekatinya?" Tuduh Feri.D


"Kakak kan tahu, kalau ..."


"Kalau kamu cinta sama Delia, Iya kan. Kan tuh anak masih bau kencur! Siapa tahu kamu juga punya rasa sama Tina, kalau tidak kenapa kamu melarang aku mendekati Tina."


"Kalau Tina gadis yang baik tidak masalah, Kak. Tapi Tina itu..."


"Sudah ... sudah ... kamu bikin aku terlambat menemui Tina." Feri meninggalkan Juna di depan ruang kelas. Dia sudah bebal dengan tuduhan Juna pada Tina.


Feri memasuki kelas 2.B dimana terdapat Tina dan Glen sedang rangkul-rangkulan dikelas. Tawa riang mereka terdengar kencang ketika melihat Feri mendekati kursinya.


"Feri, ada apa? Oh, ya Glen mau meminjam mobilmu, boleh? Kan biar kita bisa berduaan." Rayu Tina.


Feri hanya mengangguk. Lagi-lagi dia dibutakan karena perasaannya pada Tina. Pemuda itu menyerahkan kunci mobil yang disimpan di kantong celana abunya.


Sepeninggalan Glen, Feri dan Tina berduaan di kelas. Tangannya mengeluarkan barang yang ingin diberikan pada gadis pujaannya.

__ADS_1


Kakinya berjongkok di hadapan gadis incarannya. Yang sudah lama di sukainya sejak kelas satu SMA. Dengan penuh keberanian pemuda itu berjongkok sambil menyodorkan setangkai mawar.


"Martina, selama ini saya memendam perasaan padamu. Setiap melihat kedekatanmu dengan Glen. Hatiku bagai disiram larva panas, terbakar api cemburu yang sangat besar. Kamu tahu? Aku sudah lama ingin mengumpulkan keberanian ini. Semakin lama rasa ini semakin besar. Tina mau kah kamu menjadi pacarku?"


"kamu tahu, kan kalau Tina itu pacarku. Kami sudah pacaran sejak kelas satu,Feri. Jadi seharusnya kamu cari perempuan yang jomblo jangan punya orang. Apa sesusah itu kamu cari pasangan sampai menguber Tina? Ah, iya mana ada yang mau sama kamu, penampilan kayak mister bean. Culun, pakai kacamata, eh tebar pesona sama cewek sekelas Tina.


Halloooo, semua nya! Lihat ini, kalian ada nggak yang mau sama dia. Tina saja lebih memilih aku yang jelas lebih berkelas daripada dia." Glen makin menjadi mempermalukan Feri di depan umum.


"Aduh, sayang jangan gitu dong. Kasihan Feri, nanti nggak ada yang membantu aku membuatkan tugas. Nanti kamu nggak bisa minjam mobilnya lagi." Bujuk rayu Tina sambil tertawa kecil melihat Feri.


"Feri, maaf ya. Saya sudah punya Glen yang lebih segalanya dari kamu. Nanti pulang sekolah kamu lihat kaca dirumahmu,terus kamu lihat diri kamu dari atas sampai bawah. Pantas nggak kamu sama aku, atau kalau kacanya kurang besar aku belikan buat kamu."


Tina mengambil botol air mineral yang ada dimejanya. Dengan senyum kemenangan Tina menumpahkan air tersebut diatas kepala Feri.


"Aku rasa kamu keren dengan basah kuyup seperti ini. Yuk, sayang aku lapar." Tina menggandeng Glen keluar dari ruang kelas.


BUUUUGHHH!


Glen tersungkur ke lantai di depan kelas. Tampak pemuda itu merintih kesakitan saat wajah dan perutnya di hajar habis-habisan oleh Arjuna. Wajar Arjuna marah ketika melihat sahabatnya diperlakukan seperti itu.


Sepulang sekolah Feri mendapati beberapa polisi berada di dalam rumahnya. Dengan mode bingung, Feri pun mencari tahu asal muasal kedatangan polisi tersebut.


Feri mendapati wajah mama dan papanya seperti murka. Tentu saja dia merasa tidak melakukan kesalahan apapun.


"Ini ada apa, Ma, Pa?" Tanya Feri.


"Mama tidak menyangka kamu kayak gini, Feri? Kenapa kamu nyakitin perasaan kami!" Amuk Dewi pada putra sulungnya.


"Kamu pakai ini, kan!" Papanya melempar sebuah barang ke wajahnya.


Feri mengernyit kearah beberapa barang seperti menyerupai dot dan suntikan. Dia tidak paham barang yang di tuduhkan padanya.


"Ini apa sih, pa? kok ada dot, aku bukan bayi, pa, ma!" Jawab Feri.

__ADS_1


"Saudara Feri, anda kami tahan atas penggunaan barang terlarang dan barang asusila. Sekarang ikut kami ke kantor polisi."


"Bentar, pak! saya tidak melakukan apapun!" protes Feri.


Dira duduk membawa kotak obat. Dengan wajah masam dia membersihkan luka di wajah Juna yang masih di rumah Feri. Feri membawa Juna pulang yang babak belur di hajar Glen.


"Makanya jangan sok jagoan!" Omel Dira.


"Kan memang aku jagoan kamu, dek." Sahut Juna sambil meringis karena Dira menekan kasar.


"Aaawww..." Pekik Juna.


Saat itu Dira sudah kelas dua SMP, mendapati Juna babak belur bersama kakaknya. Namun, melihat mamanya masih sedih karena Feri dibawa polisi dengan terpaksa dia mengobati luka di wajah Juna.


Flashback selesai


Dimasa sekarang


Feri tersadar kalau dirinya tertidur di mobil. Belum lagi dikejutkan dengan klakson mobil di belakangnya. Secepatnya dia meninggalkan jalanan. Apalagi malam ini adalah Lamaran adiknya.


Feri memberhentikan mobilnya di pelataran garasi rumahnya. Tampak beberapa mobil sudah bertengger di rumah.


"Apa aku terlambat?" Batinnya.


Rumah bergaya eropa classic yang terlihat kokoh dan mewah. Tampak aura positif yang tersirat dari siapa pun yang terlihat. Terletak di kawasan elite kuningan, itu adalah rumah kediaman keluarga Dewi Savitri. Feri berjalan memasuki rumahnya. Sang mama tampak cantik menggunakan atasan borkat berwarna navi, tak terlihat wanita itu sudah berusia 52 tahun.


Begitupun sang adik bungsu yang mengenakan seragam senada.


"Kak Feri kok baru datang?" Feri dikejutkan dengan sapaan lembut di depannya.


"Delia? Kamu cantik sekali." Puji Feri.


"Iya,dong." Delia membalas pujian Feri.

__ADS_1


" Kamu sendirian? Juna mana?"


"Kak Juna masih dirumahnya."


__ADS_2