
Kediaman Anca
Hidup tidak selamanya berisi hal-hal manis saja. Sesekali kamu harus dihadapkan pada hal yang membuatmu jatuh sebagai manusia. Untuk jadi dewasa kamu juga perlu melakukan kesalahan yang membuatmu merasa tertampar di muka. Mengecewakan orangtua salah satunya.
Dimana ada sebuah kesalahan kita sebagai seorang anak. Melalaikan bakti kita sebagai seorang anak. Dimana saat ini kesalahan yang diperbuat sangat fatal. Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Begitu pula dengan hubungan orangtua dan anak tak selamanya mulus dan bahagia.
Suasana pagi ini masih tampak lenggang. Rian yang sedari tadi sudah bangun kini berdiri di depan kitchen set rumahnya. Matanya mengedar ke seluruh sudut merasa ketegangan masih berlangsung di rumahnya. Sejak Rian membatalkan rencana pernikahannnya dengan Dira. Sejak itulah kedua orangtuanya mendiami dirinya. Rian sadar kesalahannya fatal, yaitu menghamili perempuan lain. Rian juga sadar apa yang dilakukannya mencoreng wajah kedua orangtuanya.
Lelaki itu hanya duduk sendiri di meja makan. Tampak Andre baru saja keluar dari kamarnya yang terletak di dekat dapur. Rian yang melihat Andre melintas langsung menggiring sopirnya untuk makan bersama.
"Pak Andre yuk sarapan bersama. Nggak enak makan sendirian." Ajak Rian sambil menyandukkan nasi goreng ke piring untuk Andre.
"Aduh, den Rian saya bisa ambil sendiri." Andre merasa tidak enak.
"Nggak apa-apa, pak Andre. Itung-itung permintaan maaf saya karena tidak jadi menikah dengan Dira."
Andre kaget mendengar ucapan Rian. Darimana lelaki itu tahu kalau dia adalah papa-nya Dira "Den, sudah tahu?"
Rian hanya tersenyum kecil. Dia juga tahu tentang pak Andre juga dari Eka, sahabat Dira. Beberapa waktu yang lalu Eka datang ke rumah menyerahkan beberapa berkas karena Rian tidak masuk kerja.
"Rian, itu om Andre kan?" tanya Eka saat sampai di rumah atasannya.
"Iya, Ka. Kamu kenal?"
"Ya elah. Pak Andre itu calon mertuamu, papanya Dira. Haduh, jadi Dira belum cerita sama kamu tentang papanya.".
Rian menggeleng. Selama ini dia mengira Dira itu anak yatim. Karena sejak mengenal dia tidak pernah melihat sosok ayah di rumah calon istrinya.
"Ya wajar sih kalau Dira tertutup. Soalnya pasti ada sisi trauma kalau soal menyangkut papanya. Papanya dulu pernah hampir melecehkan Vira, anak bungsunya. Saat itu Vira masih kecil jadi dia belum paham apa-apa."
Rian mengelus dadanya mendengar kisah calon istrinya. Sudah pasti hal itu memberi trauma bagi keluarganya apalagi Vira dan Dira.
__ADS_1
Flashback off
"Om," Rian memulai obrolan dengan Andre.
"Iya, den. Eh--" jawab pak Andre. Andre kaget mendengar ucapan Rian memanggilnya Om.
"Kita ngobrol sebagai mantan calon mertua dan mantan calon menantu. Rian minta maaf tidak bisa meneruskan hubungan dengan anak om. Rian yakin ada sosok yang lebih pantas bersama Dira. Walaupun sebenarnya berat saya melakukan ini. Tapi Roger butuh saya, om."
"Maaf, den. Eh--maaf nak Rian. Roger itu anak yang nak Rian bawa kemarin ya. Apa nak Rian yakin dia anakmu? saya tidak percaya kalau den eh nak Rian punya anak di luar nikah. Bisa jadi ini cuma jebakan saja."
"Maaf, om. ini bukan jebakan. Saya sudah tes DNA, dan terbukti saya dan Delia punya anak karena kesalahan dimasa lalu. Saya tetap harus bertanggungjawab atas Roger, ya walaupun Delia tidak mau mengakui anaknya sendiri."
"Delia? kok rasanya nama itu tidak asing, ya." Andre mencoba berpikir nama yang di sebutkan Rian tadi.
"Memang tidak asing, om. Delia itu temannya Dira sejak kecil. Anaknya tuan Shahab" jelas Rian.
"Astaga! seingat saya Delia tidak pernah pacaran atau di perbolehkan dekat dengan lelaki oleh tuan Shabab. Tapi kenapa kebablasan sama kamu, nak." Andre masih belum sepenuhnya percaya.
"Maaf, den. Saya permisi dulu, sebentar lagi bapak mau ada acara. Saya harus siapkan mobil."Pamit Andre.
"Ah, Iya pak Andre. Terimakasih sudah mau menemani saya disini." Rian pun meninggalkan ruang makan untuk mempersiapkan berangkat ke kontrakan Alex.
"Pa," Rian menegur papanya yang melintas di depannya.
Tapi tetap saja, Anca mendiaminya seperti menganggapnya patung. Rian menghela nafas berat. Dia sadar kesalahannya sangat fatal. Membela pun rasanya tidak akan di dengarkan. Kepalanya menunduk kebawah.
"Rian tahu papa dan mama masih marah dengan semua ini. Ini semua terasa cepat,pa. Aku maupun Delia dijebak oleh seseorang yang dekat dengan kami. Kami diberi obat perangsang, semua ini terjadi diluar kendali, pa." Rian masih mengulang penjelasan yang sama.
"Lalu kenapa kamu tidak menikahi wanita itu? kenapa kamu malah mendekati Dira? papa tidak pernah mengajarkan kamu menjadi pengecut!"
"Delia tidak mau menikah denganku, pa. Bahkan saat melahirkan Roger Delia membuangnya ke panti. Sekarang pun dia tidak mau mengakui Roger sebagai anaknya. Banyak wanita yang hamil diluar nikah yang rela membesarkan anaknya. Tapi tidak dengan Delia. Dia rela membuang anaknya hanya demi lelaki lain."
__ADS_1
Rian tetap mengulangi penjelasan pada papanya. Tampak guratan kekecewaan di wajah lelaki paruh baya tersebut. Saat ini dia pun sudah lelah memberi pengertian pada papa maupun mamanya. Saat melihat anaknya yang sedang gundah mamanya pun menghampiri putra tunggalnya.
"Rian, mama minta maaf atas sikap beberapa hari ini. Tidak mudah bagi kami menerima kenyataan kalau kamu punya anak. Kamu tahu jika orangtua murka itu artinya ada sebuah kesalahan yang harus diperbaiki. Orangtua murka biasanya merasa kecewa yang terdalam. Ketika mereka marah kepadamu pasti akan ada rasa bersalah."
Rian memeluk mamanya dengan erat. Arumi mengelus punggung anaknya dengan erat. Keduanya terlibat suasana haru airmatanya meleleh. "Maafin, Rian, ma." lirihnya.
"Apa rencanamu, nak?" tanya Arumi.
"Rian cuma mau mengurus hak asuh Roger, ma. Itu saja."
"Lalu ibunya?"
"Delia tidak mau menikah denganku ataupun mengakui Roger sebagai anaknya, ma. Jadi percuma aku mempertahankan wanita itu." Jawab Rian seketika wajahnya kesal mengingat sosok Delia.
Arumi menghela nafas panjang. Dia sebenarnya paham dengan sikap ibu dari cucunya. Butuh waktu untuk menerima kenyataan kalau ada sosok kecil dalam keadaan tidak sah. Butuh penanganan psikologis. Hamil di luar nikah merupakan suatu permasalahan yang kemungkinan besar akan menambah permasalahan panjang setelahnya. Mengapa demikian?
Biasanya pelaku hamil di luar nikah merupakan remaja atau seseorang yang belum siap untuk menjalani kehidupan sebagai orangtua, namun terpaksa harus menjalani kehidupan selayaknya orang dewasa.hamil di luar nikah yaitu mereka rentan mengalami stres dan depresi karena timbulnya rasa malu, dikucilkan oleh lingkungan masyarakat maupun lingkungan pergaulan.
Arumi pernah mendengar kerabat yang anaknya diusir dari rumah karena hamil diluar nikah. Padahal kalau mereka mengayomi si anak tersebut, bisa jadi angka aborsi pun menurun.
"Kamu tahu, Rian. Tidak mudah bagi seorang wanita untuk menerima tentang keadaannya yang dinilai sebagai aib. Tidak mudah bagi dirinya saat mengetahui ada sosok yang hidup di tubuhnya tanpa ikatan pernikahan. Beda jika dia hamil memiliki suami yang sah. Maka itu, kamu harus pelan-pelan mengerti keadaan ibunya Roger. Kalau dia benci sama Roger, mungkin dia sudah mengaborsi anak itu. Tapi tidak kan?dia malah menitipkan anaknya di tempat yang dia yakini akan ada kasih sayang yang lebih. Dan temanmu pun merawatnya dengan baik. Butuh waktu, nak, untuk menyembuhkan luka traumanya."
*
*
*
*
Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatu
__ADS_1
maafkan saya yang agak lama up nya. terimakasih masih setia sama kisah Dira dan Juna.