Sayembara Jodoh

Sayembara Jodoh
BAB 21


__ADS_3

Langit kota Jakarta di sudut senja terlihat merona. Tampak kilauan matahari mulai menampak cahaya jingga. Sepertinya sang surya akan beristirahat sejenak lalu akan di gantikan sang penerang kegelapan. Di sebuah halte tampak seorang wanita berseragam hijau setelah berdiri menuju kendaraan yang menjemputnya. Di temani satu bungkus lekker yang dibelinya sama abang yang jualan di dekat kantornya.


Beberapa saat kemudian sebuah motor berhenti. Senyum merekah terbit dibibir wanita itu, dengan gesit menghampiri motor tersebut.


"Maaf, ya lama. Kamu tahu sendirilah aku ini panggul di tanah abang. Jadi nggak sama kerjaannya sama kamu." sapa sosok itu.


"Nggak apa-apa, bang. Tina ngerti kok. Ya, sama aja sih dengan kerjaan saya." Oceh Tina yang sudah duduk di belakang lelaki tadi.


Tina sudah enam bulan bekerja di PT. Putra Nusa milik Feri Andreas. Sebagai tulang punggung keluarga Tina berusaha profesional dalam menjalankan tugas. Walaupun dia tahu ada lelaki masa lalunya di kantor.


Kehidupan Tina yang sekarang berbanding terbalik dengan yang dulu. Tina yang dulu adalah gadis manja yang hidup bergelimangan harta. Gadis yang arogan karena merasa cantik dan populer. Dia punya teman seangkatan yang sama level sifatnya.


Namun, semua berubah ketika rumahnya di sita karena sang ayah tertipu rekan bisnisnya. Mereka pun diusir dari istana yang membesarkan kehidupannya. Bukan hanya itu, Tina awalnya senang saat Glen, kekasihnya mengajaknya menikah. Terbayang dibenaknya kehidupannya akan kembali. Apalagi Glen juga anak pengusaha sama seperti dirinya.


Pernikahan pun tiba, tapi ternyata tak sesuai dengan harapan. Glen dan keluarganya memperlakukan dirinya seperti pembantu. Ditambah dia baru tahu kalau Glen suka celap celup sana sini. Tina hanya bisa meratapi nasibnya, apalagi ketika salah seorang wanita-nya Glen datang meminta tanggung jawab.


Tina ingin bercerai sayangnya Glen menolak diceraikan.


"Emang kamu ada uang buat nyewa pengacara?"


"Sekalipun tak ada aku yakin ada pengacara yang mau membantuku." Jawabnya penuh percaya diri.


"Dengan apa? Dengan menjual tubuh kamu pada mereka? Hahahaa ... Hey Martina .... Saya tekankan ya, tidak ada perceraian dan tidak ada urusan saya untuk bayi wanita itu. Satu yang kamu ketahui saya menikahi kamu karena kasihan bukan karena cinta..Paham!"

__ADS_1


Tina tidak peduli, tak berapa lama Glen pergi, dia mengemasi barang-barangnya. Meninggalkan kemewahan yang ditempatinya, Dalam pikirannya dia akan pergi membawa ibunya dan adiknya yang masih dalam usia bulanan. Dalam usia muda Tina sudah menjadi janda.


beberapa tahun kemudian Tina mendengar Feri menikah dengan Meyra, masih dalam hubungan keluarga. Tina hanya memandang pilu ketika lelaki yang di tolaknya berkali-kali bersanding di pelaminan. Tapi nasi sudah menjadi bubur, Tina menerima nasibnya sebagai janda.


Motor yang mereka naiki pun berhenti menunggu lampu lalu lintas. Tampak pria tersebut meminta Tina mengencangkan pinggang. Dengan malu-malu Tina memegang pinggang lelaki yang menjemputnya.


Lelaki itu adalah Jamal, tetangganya. Kebetulan dan sangat kebetulan Jamal selalu muncul menjemputnya. Padahal dia tak pernah minta, Jamal bekerja jadi supporter di grosir Tanah Abang. Dia selalu tahu dimana Tina menunggu kendaraan untuk pulang.


Tina mengedarkan pandangan, tampak beberapa anak yang bernyanyi mengitari trotoar jalan. Matanya membelalak melihat siapa yang ikut di kerumunan pengamen.


"Bang, itu...." Tina menunjuk sosok lelaki muda yang berusia 7 tahun.


"Apa?"


"Amar!"


Bagai adegan film action, pengejaran antara motor dan anak kecil terus berlangsung.


"Kejar, Bang!" Omel Tina.


Motor Jamal melaju dengan kecepatan sedang, mata Tina memutar mencari keberadaan adiknya tadi.


"Awas, ya nanti di rumah!"

__ADS_1


Sementara di rumah kediaman Dewi Savitri, tampak seorang lelaki berkutat dengan pekerjaannya. Bahkan ponselnya terus berdering tak di hiraukannya.


"Feri... Handphonemu berdering dari tadi." Sahut Mama Dewi.


"Malas, mah. Paling juga nanyain kepastian lamaran itu."


Dewi mendengar ucapan anaknya langsung menghampiri "Kalau kamu tidak mau sama Mayka kenapa tidak kamu tolak. Jangan kasih harapan dengan anak orang!"


"Tapi, ma ... "


"Selesaikan urusanmu sama mereka." Suara mama Dewi terdengar berang.


"Iya, ma."


BRAAAAAAAK!


Suara pintu terdengar kencang. Suara yang berasal dari ruang kerja Feri membuat si penunggu terkaget.


"Kamu kenapa, Dira?" Tanya Feri penasaran.


"Ada apa ini?" Mama Dewi mendatangi kamar anak sulungnya.


Tampak Dira sudah menangis di depan sang kakak. Rasa kecewa saat tahu kakaknya mengadakan sayembara untuk jodohnya.

__ADS_1


"Kak Feri jahat, ma. Dia ngadain lomba di kantor buat cari jodoh buat aku. Emangnya aku apa? Barang? yang diobral-obral begitu. Kakak sadar yang kakak lakukan sama saja menjual aku! Kenapa harus aku yang diadakan sayembara! Kenapa bukan kakak saja? kakak kan juga tidak punya pasangan? Kenapa!"


Mama Dewi kaget juga mendengar ide anak sulungnya. Dira masih menangis dalam pelukan mamanya. Walaupun di kantor Dira masih menyembunyikan identitasnya sebagai adiknya Feri. Tapi hembusan berita itu semakin kencang. Bahkan Juna juga membenarkan berita tentang sayembara itu.


__ADS_2