Sayembara Jodoh

Sayembara Jodoh
BAB 113


__ADS_3

POV Dira


Sepertinya aku terkena sindrom udara saat ini. Bayangkan sejak menginjak kota ini, hidupku tak lepas dari AC dan air es. Jangan sampai aku pilek berat atau asmaku kambuh saat genting begini. Padahal besok adalah hari yang sakral. Hari yang kami nantikan setelah beberapa tahun tidak di pekain.


Aku mengambil obat flu yang di bawa dari Jakarta. Buat siap siaga. Siapa tahu kumat? ya tapi mana aku sangka bakal menikah disini. lagian kak Juna ada ada saja, pakai acara nikahan di Bengkulu. Kenapa tidak di Jakarta saja. Teman-temanku pada disana semua.


Baru saja aku ingin menyandarkan bahu. Tiba-tiba si bungsu datang menggelendot tubuhku. Aneh, sejak malam lamaranku, Vira sepertinya galau. Apa dia keingat Satria. Bisa jadi, sebab setahu aku cuma Satria cowok yang dekat dengan Vira. Apa mungkin dia menyesal sudah membatalkan rencana pernikahannya. Entahlah, yang pasti Vira mendadak jadi pendiam setelah malam lamaran itu.


"Kamu kenapa, dek?" tanyaku sambil ku elus pucuk rambutnya.


"Nggak apa-apa, kak. Aku ngantuk." Dia masih menyembunyikan wajahnya di balik bantal.


"Ya, udah kalau kamu tidak mau cerita. Geser dikit, dong. Kakak juga mau tidur." Ku gesekkan sebagian badan Vira yang bongsor supaya dapat bagian. Tetapi tetap saja dia tidak bergeming.


"Geser, dek. Kakak juga mau istirahat. Kakak besok mau nikah jadi harus fit." sedikit ku tinggikan nada suara.


Tak berapa lama sepertinya Vira bergeser dari tempat tidur. Aku lega setidaknya bisa beristirahat mempersiapkan hari esok.


"Bagaimana perasaan kakak sekarang?" tiba-tiba pertanyaan itu meluncur dari adik bungsuku.


"Tidak tahu, Vira. Di bilang deg-degan pasti ada. Bahagia pasti itu."


"Oh, .." suaranya terdengar datar saja.


Tangan Vira merayap ke pinggangku. Tentu saja aku risih, emangnya aku guling.


"ini terakhir aku bisa bobok sama kak Dira. Esok dan seterusnya kak Dira sudah ada yang menemani."

__ADS_1


"Ra," aku justru merasa takut kehilangan masa kebersamaan dengan mereka.


"Kamu yakin tidak mau melanjutkan hubungan dengan Satria. Maaf, nih aku tiba-tiba mengungkit soal kalian. Barusan Satria chat kakak. Dia ngucapin selamat menikah buat kakak. Tapi ..." aku merasa tidak enak meneruskan pembicaraan.


"Kak Satria mau nikah kak. Sama sepupunya Elsa, namanya Ana. Beberapa hari yang lalu sebelum kita berangkat ke Bengkulu. Elsa ngabarin kalau sepupunya ngadain lamaran. Kata Elsa, dia baru tahu kalau calonnya Satria."


"Dek?" aku merasa bersalah saat ini. Di tengah kebahagiaanku ternyata menyimpan kesedihan buat adikku.


"Kamu itu perjalanannya masih panjang. Masih banyak yang harus di raih. Ya kakak tahu, tak mudah melupakan seseorang yang sudah bertahun-tahun bersama kita. Tapi hidup harus terus berjalan. Nggak stag gini-gini aja."


"Iya, kak. Aku dan kak Satria nggak jodoh. Nggak mungkin juga ku tunggu dudamu. Keburu ubanan nanti kalau nunggu dia jadi duda. Hahahaha..." dia tertawa tapi kesannya di paksakan. Begini kali ya rasanya bakal di tinggal nikah sama mantan.


"Rian katanya sudah nikah sama Delia." kali ini lagi pengen bahas Rian.


"Bagaimana perasaan kakak sama kak Rian?" tanya Vira.


Dan aku merasa, itu yang mungkin Delia rasakan. Kamu tahu, Vira. Saat kak Juna menyatakan perasaannya di malam lamaran kakak dengan Rian.


mendengar semuanya. Sejak saat itu Delia seakan mengibarkan bendera perang padaku."


Aku merasakan Vira sudah tidak bereaksi lagi. yakin seyakin-yakinnya, Vira pasti sudah di buai dunia mimpi. Ku putar tubuhku menghadap adik bungsu kami. Ternyata benar, dia sudah berlabuh ke pulau kapuk.


"Dek, setelah aku menikah nanti. Kakak mau kamu fokus kuliah, kejarlah cita-citamu setinggi langit. Kamu masih muda, jangan memikirkan menikah jika belum siap.


Tapi kakak berterimakasih sama kamu. Sebab kalau tidak ada sayembara ini. Mungkin kakak tidak akan bisa seperti sekarang. Mungkin kalau kak Juna tidak tidak tiba-tiba melamarku. Akan beda ceritanya.


Perjalanan aku bisa bersama kak Juna banyak kerikilnya. Aku sama sekali tidak pernah berpikir bisa sampai di titik ini.

__ADS_1


Dari sebuah lamaran yang mengejutkan, menjadi sebuah prahara yang tak terduga. Soal persahabatan, keluarga dan cinta. Semua menjadi drama yang menguras emosi."


Aku menarik selimut karena merasakan dinginnya AC kamarku. Mencoba memejamkan mata. Tapi ternyata susah. Akhirnya aku memilih sholat malam. Siapa tahu hati ini sedikit tenang. Semoga esok aku tidak ada hambatan.


POV Juna


Malam ini rasanya sulit sekali mataku ini di pejamkan. Tadi siang adikku dan suaminya sampai ke Bengkulu. Aku tadinya ingin menjemput mereka, tapi di larang karena masih dalam pingitan. Ya Allah rasanya aku tidak sabar menanti hari esok. Menanti dimana aku meresmikan hubungan kami ke jenjang lebih serius. Dimana besok ada sebuah ikatan kuat yang tidak akan memisahkan kami lagi. Aku menanti dimana masa itu pasti akan datang. Ya Allah berilah kemudahan untuk acara kami besok.


"Juna," aku mendengar suara mama memanggilku.


"Iya, ma."


"Bagaimana perasaanmu saat ini?" tanya mama.


"Jangan ditanya lagi, ma. Aku makin nggak konsen untuk istirahat. Rasanya aku seperti insomnia karena kepikiran dengan acara besok. Deg-degan itu pasti, tapi aku yakin besok adalah hari yang indah. Karena aku bisa memilikinya seutuhnya."


"Mama harap juga begitu, nak. Mama cuma bisa mendoakan kamu dan Dira bisa menjadi keluarga yang bahagia. Pesan mama satu, jaga istrimu dengan baik. Perlakukan dia sebagai mana dia diperlakukan baik oleh keluarganya. Ingat istri bukan pembantu yang harus melayani semua kebutuhanmu. Memang melayani suami adalah kewajiban istri, tapi ingat kamu juga mempunyai kewajiban membahagiakan istrimu. Itu saja pesan mama buat kamu, nak."


Aku bersujud mencium telapak kaki mama. Ada rasa haru menelusup ke dalam hatiku. Aku meminta restu mama untuk melangkah ke sebuah ikatan pasti yaitu pernikahan.


"Maafkan Juna, ma. Belum bisa menjadi anak yang dibanggakan. Juna janji, ma. Akan memperlakukan Dira seperti bagaimana orangtuanya menyayanginya. Juna janji, ma, akan membahagiakan Dira semampuku. Juna senang kalau mama dan papa merestui pernikahan kami. Bantu doakan aku, ma. Supaya besok bisa berjalan dengan lancar."


"Tidak ada orangtua yang tidak ingin melihat anaknya bahagia. Mama dan papa akan senantiasa mendoakan kalian berdua. Restu mama akan selalu menyertai kalian." Mama mengecup keningku.


"Juna sayang mama." ucapku.


"mama juga sayang sama kamu, nak. Sudah kamu istirahat. Bukankah kamu akan bersiap besok."

__ADS_1


__ADS_2