Sayembara Jodoh

Sayembara Jodoh
BAB 53


__ADS_3

Seorang lelaki bernama Arjuna Bramantio masih asyik dalam pesona langit malam. Sapaan dari sang penerang malam seakan mengajaknya bermain bersama.


"Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan.(Qs luqman 31: 29)


Setelah selesai sholat maghrib Juna lebih memilih menyendiri. Awalnya dia enggan menerima ajakan Delia untuk ke puncak. Karena sebenarnya Juna sudah menyatakan pada Delia tidak bisa melanjutkan hubungan mereka. Meskipun pada akhirnya Delia mengamuk padanya karena merasa di sakiti. Namun, dia harus tegas ketika saat ini hatinya bukan untuk Delia lagi.


Flashback on


Arjuna saat ini sudah berdiri di kediaman keluarga Shahab. Membicarakan masalah yang sudah lama ingin di selesaikannya. Apapun resikonya dia tidak akan mundur, meskipun harta yang menjadi taruhannya.


Senyum manis sudah menyambutnya di depan pintu rumah calon istrinya. Perempuan yang dia dekati, perempuan yang sebenarnya belum mengatakan padanya tentang perasaan mereka, perempuan yang tak pernah menggubris saluran udaranya dalam dua tahun ini, perempuan yang muncul di saat dia sudah move on.


"Kak Juna?" Sapa suara manis itu.


"Assalamualaikum, Del." Juna membalas sapaan Delia.


"Masuk kak" Delia menawarkan tamunya masuk ke dalam rumah.


"Hari ini kamu sibuk?" Tanya Juna.


"Tidak. Emang ada apa?"


"Bolehkah kita jalan-jalan sebentar?"


"Jalan?kemana?" Tanya Delia


"Cari tempat buat bisa berdua." Jelas Juna.


"Tumben. Okelah... Aku siap dulu."


Juna menahan tangan Delia. Seutas senyuman terukir di wajahnya.


"Kita nggak makan di resto atau cafe. kita cuma duduk di taman doang. ya kalau pun ada abang gerobak lewat kan lebih romantis. Gimana?" Bujuk Arjuna.


"Ya sudah kalau itu mau kak Juna." Delia dan Arjuna masuk ke dalam mobil.


Suasana perjalanan mendadak hening. Juna hanya menyalakan musik di mobil. Musik yang lumayan mellow sesuai dengan perasaan hatinya, tapi tidak tahu dengan suasana hati Delia.


"Kamu ingat satu kata yang pernah kamu ucapkan di surat. Kata itu yang dulu membuat aku mantap membuka hati sama kamu, Del." Juna memulai pembicaraan.


"Yang mana?"


"Surat kedelapan. Sebelum kamu berangkat ke London."


"Maaf, kak aku lupa?" Delia hanya menunduk malu. Ada sergapan rasa takut dalam dirinya. Tangannya menggenggam erat ujung bajunya. Sekilas Juna melihat kegelisahan itu. Namun dia mengenyampingkan pikirannya.


"Apa itu? Coba kakak ucapkan kata-kata itu." Delia balik bertanya.


"Kamu selalu bilang setiap pagi ada cahaya yang selalu menentramkan hati.


Setiap pagi ada hempasan rasa yang terus bergolak dan tak pernah padam.

__ADS_1


Cahaya yang muncul dibalik tiram asmara.


Rasa yang bergolak setiap memandangmu.


Terimakasih, Del. Kamu selalu mengingatku setiap kamu membuka mata."


Mobil akhirnya berhenti di taman kota. Suasana malam di taman yang hanya di hinggapi dengan lampu-lampu menambah ke romantisan. Juna menuntun Delia di salah kursi taman. Masih dalam suasana hening mereka duduk berdampingan.


"Kak." Sahut Delia lirih.


Derai perasaan masih sedikit sesak setelah beberapa permasalahan yang terjadi diantara mereka. Delia pun mencoba masih bersikap manis di depan calon suaminya.


Matanya tertuju pada gerobak sate padang yang sedang berjalan kearah mereka. Delia pun menyetop abang sate karena sudah merasa lapar.


"Kak, aku mau sate padang. Kakak mau?"Tawar Delia.


Arjuna hanya mengangguk. Dia juga butuh energi untuk mengumpulkan keberanian bicara sama Delia.


"Kak, aku mau nanya sama kak Juna, boleh?"


"Waktu dan tempat di persilahkan."


"ih, belajar bahasa indonesia aja ... hehehee.."


"Sok atuh, dipersilahkan."


"Kakak sudah dapat pekerjaan belum?" Tanya Delia.


"Kenapa nggak kerja sama papa saja? Sesuai dengan ilmu kakak di kuliah."


"Del, kakak mau mandiri. Kakak nggak mau bergantung sama papamu. Selama ini aku dan keluargaku bergantung sama papamu. Pabrik teh yang di kelola orangtuaku juga dari papamu, kan. Kakak mau mandiri, Del. Bagaimana nanti kalau kakak bisa menghidupi anak istri kalau masih bergantung sama orang lain."


"Tapi, kak. Niat papa itu baik lo." Sanggah Delia.


"Iya, saya tahu niat papamu, baik. Tapi kenapa harus aku? kenapa tidak minta kakakmu yang meneruskan usaha papamu. Apalagi Oka sudah lima tahun kerja di sana. Sampai dia menunda pernikahan dengan Kirana." cerita Arjuna mengingat Oka pernah curhat padanya.


"Papa nggak setuju sama kak Kirana. Papa punya pilihan sendiri, kak. Sama kayak kita, papa pernah bilang sudah lama menjodohkan kita sejak aku masih kuliah. Papa dulu pernah bilang sudah lama menyiapkan calon suamiku, makanya aku dilarang pacaran. Dan ternyata Tuhan menjawab doa kakak kalau kita di jodohkan."


"Del,apakah itu doamu juga? apakah yang selama ini aku rasakan juga kamu rasakan?"


Delia menaikan alisnya. Gadis berwajah arab tersebut memperbaiki cara duduknya. Masih dengan menyantap sate padang sekaligus mengatasi kikuknya dengan pertanyaan Juna.


"Makan dulu satenya, kak. Entar sate-nya nangis lo di PHP-in." Delia mengalihkan pembicaraan.


Juna akhirnya melahap sate yang ada di depan matanya. Walaupun hatinya mulai tak karuan karena hubungan mereka yang belum jelas.


"Kak Juna kayak nggak semangat gitu? Sate nggak enak,ya. Enak kok kak, aku aja lahap makannya." Delia memperhatikan Juna seperti tidak berselera makan.


"Enak, kok Del." Jawab Juna sedikit santai.


Del, apakah kamu mencintaiku?"

__ADS_1


Delia yang hendak memasukkan lontong ke mulutnya mendadak urung melahap. Wanita berusia 25 tahun tersebut menatap Arjuna penuh arti.


"Kenapa kakak tanya begitu?"


"Karena aku merasa selama ini berjuang sendiri. Merindukan seseorang yang lebih dari satu tahun mengabaikanku. Kamu juga tidak pernah memperlihatkan bagaimana perasaanmu sesungguhnya padaku, Del."


"Kak.. bukankah sudah jelas kalau aku menyambut perasaan kakak dengan menerima perjodohan ini. Kalau tidak sudah lama aku menentangnya."


"Kamu menerima semua ini karena permintaan wajib papamu, Del. Bukan karena benar-benar menyambut perasaanku dari hatimu yang terdalam. Aku juga manusia, Del. punya batas kesabaran. Dan kesabaranku sudah pada puncaknya."


"Apa ini karena Dira kakak ngomong begitu?"


Juna tak bergeming saat Delia mengungkit soal Dira. Lelaki itu menunda tegukannya lalu menunduk lemas.


"Del, aku.."


"Kakak pikir aku tidak tahu antara kakak dan Dira ada sesuatu, Hah! Kakak harusnya sadar, Dira sudah memilih lelaki lain. Artinya kakak bertepuk sebelah tangan.


Dan sekarang kakak mengungkit soal perasaan? Kakak pernah memikirkan perasaanku ketika kakak memberi nafas buatan untuk Dira. Enggak kak! Kakak nggak pernah memikirkan perasaanku saat kakak menyatakan perasaan pada Dira pada malam lamaran itu. Sampai sekarang kakak tidak memberi keputusan kapan menikahiku."


"Del, daripada kita saling menyakiti. Lebih baik kita sudahi saja semua ini. Aku lelah, Del. Aku lelah dengan hubungan kita. Jujur disini aku seperti pungguk merindukan bulan. Maaf, Del. Aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita." Juna menunduk tak berani menatap gadis di hadapannya.


"Del, maafkan aku."


"Kakak ingin membatalkan perjodohan ini, kan. Aku tidak bisa memutuskan semua ini. Semua keputusan ada di papa bukan padaku. Jadi kalau kakak mau menyelesaikan semua ini, bilang ke papa." Jawab Delia.


Juna mengepal tangannya. Lagi-lagi semua harus ke papanya Delia. Bukankah mereka yang menjalani hubungan. Tapi kenapa orangtua Delia yang mengatur gerak gerik percintaannya.


"Del, ini yang bikin aku kecewa sama kalian. Kenapa setiap gerak langkah kita diatur papamu? Apakah sepanjang hidupmu kamu akan begini? Aku paham kamu pasti akan bilang kalau itu bentuk kasih sayang papamu pada anaknya. Tapi pernah kamu belajar mandiri tanpa campur tangan papamu.


Oh, ya kamu pernah bilang selama dua tahun tidak memberi kabar pada papamu. Kamu bilang ingin mandiri keterlibatan mereka. Itu kamu bisa mandiri tapi sekarang kamu masih berlindung di belakang papamu."


Delia meletakkan sisa makanannya dengan nada membanting. Dia terlihat tidak suka arah pembicaraan lelaki itu. Tubuhnya bertegak lurus berjejer dengan gerobak sate. Wanita itu meletakkan lembaran uang biru diatas meja gerobak. Langkahnya pergi meninggalkan Arjuna, tak lama terdengar suara susulan kaki di belakang.


"Bukankah kita sudah putus? Kenapa masih mengejarku?"


Delia terus menyahuti Arjuna yang berjalan mengikutinya. Tapi sosok dibelakangnya hanya diam dan terus berjalan. Dia membiarkan wanita itu mengomel sesuka hati. Karena Juna paham suasana hati Delia pasti sedang tidak baik.


"Kakak egois!"


"Kakak cuma memikirkan diri sendiri tanpa memikirkan perasaanku. Kakak tahu selama ini aku selalu setia sama kak Juna. Tapi kenapa ini balasan buatku.


Kakak suka sama Dira cuma sesaat, karena kita jauh, ya kan? Kakak coba ingat kenangan manis diantara kita. Walaupun yang kita jalani selama ini bukan pacaran. Sekarang semudah itu kakak berpindah hati?"


Juna sengaja tidak membantah ucapan Delia, tapi sebelum mereka masuk mobil Juna menahan tubuh Delia.


"Tetapi kamu juga egois, Del! Kamu tidak pernah membalas apa yang aku lakukan selama ini. Salah kalau aku mencari yang pasti? Salah kalau aku mencintai wanita yang sudah pasti membalas perasaanku?"


Delia tersenyum menyeringai " Apakah kak Juna yakin Dira punya perasaan yang sama? Kalau dia cinta sama kak Juna, dia tidak akan menerima lamaran Rian. Disini yang kasihan bukan Dira tapi kak Juna."


.

__ADS_1


__ADS_2