
Setiap permasalahan pasti ada jalan keluarnya. Itu yang selalu ditanamkan pada Anca untuk anak tunggalnya. Itu pun boleh dilakukan jika semua terasa berat, daripada terus terkungkung rasa bersalah yang mendalam. Meski apa yang kita lakukan akan memancing keributan yang mungkin membuat seseorang kehilangan kendali. Hingga pada akhirnya membuat semuanya semakin meruncing.
Rian paham apa yang dilakukannya saat ini akan membuat heboh. Tapi bagi seorang Riandra Rahansyah, semakin lama di pendam semakin runyam urusannya. Roger akan semakin tumbuh besar sudah pastinya akan menanyakan perihal ibu kandungnya. Bagaimana dia bisa menjelaskan pada Roger kalau ibunya sendiri tak mengakui anaknya.
Assalamualaikum
Rian memasuki sebuah ruangan VIP. Beberapa mata memandang dirinya penuh arti. Mungkin kedatangannya akan menjadi masalah baru, tapi ini harus dilakukan sebelum terlambat. Seorang lelaki menyilahkan Rian untuk duduk di dekat ranjang pasien. Sesaat Rian memang sang pasien yang masih tertidur lelap.
"Maaf, anda temannya Delia." Tanya Rayyan
"Saya..." Rian menghela nafas berat.
"Kamu bukannya tunangannya Dira?" tanya Oka.
"Dulu, mas. Sekarang sudah tidak lagi." jawab Rian.
"Kenapa?"
"Karena saya akan bertanggung jawab pada seseorang."
Rayyan dan Oka memandang Rian dari atas sampai bawah. Seakan bingung dengan maksud ucapan Rian.
"Saya yang harus bertanggungjawab atas Delia. Kami punya anak. Maaf jika baru sekarang muncul karena selama ini saya tidak tahu Delia hamil anak kami. Kalian boleh marah atau mengamuk pada saya. Tapi itu tidak akan menyurutkan saya untuk mempertanggungjawabkan pada Delia."
BUUUUUUGHH!
Sebuah tinju bersarang di rahang kukuhnya. Telak! Dua bersaudara itu paham arah ucapan Rian bahwa lelaki inilah yang menodai adiknya. Adiknya mereka yang paling di sayang. Kemarahan yang besar ketika tahu lelaki di depan dengan gampang ingin bertanggungjawab. Bukan karena mereka tidak setuju dengan keinginan Rian. yang mereka pertanyaankan kenapa baru sekarang lelaki itu muncul.
"Jadi kamu orangnya!" amuk Rayyan.
__ADS_1
"Kamu tahu apa yang kamu lakukan! hah! kamu sudah membuat adik saya menanggung sendiri karena perbuatanmu. Dia seperti ini gara-gara kamu. Dia harus menerima kemarahan papa semua gara-gara kamu! dan sekarang dengan gampang kamu mau bertanggungjawab dengan adik saya. Oka kabari papa kalau laki-laki laknat ini sudah ada di sini." titah Rayyan.
"Baik, kak." Oka langsung menghubungi tuan Shahab.
Sementara Rian masih seperti tahanan duduk di pegang erat oleh Rayyan. Rian membalas tatapan dari Rayyan, melihat lelaki itu masih menyimpan amarah padanya. lalu Rian memutar pandangannya kearah Delia yang masih terbaring, Delia terlihat pucat seperti mayat. Ada rasa iba tertanam dalam hatinya, entah kenapa air matanya tumpah, Rian pun berujar lirih di hadapan Delia. Sambil menahan pedih di sudut bibirnya.
"Maafkan saya, Del."
Rian berjalan menuju ranjang tempat Delia berbaring. langkahnya yang berjalan gontai karena rasa perih di wajah dan perutnya. Demi Roger dia akan melupakan ego marahnya pada Delia. Biarlah pembaca berpikir jelek untuk dirinya, dia tak ingin Roger kehilangan kasih sayang ibu kandungnya. Dia juga tahu kalau Delia belum bisa menerima dirinya dan Roger.
"Saya sudah dengar tentang yang kamu alami saat hamil Roger dari Alex. Maafkan saya yang saat itu percaya pada Alex saat mencarimu. Dua tahun, Del, saya mencari keberadaanmu. Saya sudah siap mempertanggungjawabkan apa yang terjadi pada kita di London. Saya selalu di hantui rasa bersalah padamu. Meskipun terkadang saya marah karena memang kalian berdua yang menjebak saya saat itu."
"Jangan harap kamu bisa menikahi anak saya!" sebuah tangan besar menarik tubuh Rian keluar ruangan. Tatapan seorang lelaki yang amarahnya lebih besar dari dua pria tersebut.
"Om, saya mencintai Delia. Kami juga punya anak. Kasihan anak saya jika jauh dari ibu kandungnya."
"Tidak sudi saya mengakui anak itu sebagai cucuku. Dalam kamus keluarga Shahab tidak ada anak diluar nikah yang boleh masuk dalam daftar keluarga. Jadi kamu tidak usah ganggu Delia lagi. Atau aku akan buat hidupmu dan anakmu menderita."
"Anda boleh memaki-maki saya. Anda mau bunuh sayapun tidak masalah. Tapi jangan hina anak saya, saya tidak terima! mau anda jungkir balik pun dia tetap cucu anda, anak yang dilahirkan Delia. Jangan mentang-mentang anda orang besar maka seenaknya menghina bayi yang tidak berdosa."
"Memang dia bayi berdosa, kamu mau apa! faktanya dia lahir dari dosa besar!" jawab tuan Shahab dengan angkuhnya.
"Papa!" suara manis melengkih di koridor rumah sakit. Tuan Shahab menoleh. Binar wajahnya terlihat terang saat istrinya duduk di kursi roda. Di dampingi Farhan anak tertuanya.
"Mama sudah sadar." serunya sambil memeluk istrinya.
PLAAAAAAAK!
Tuan Shahab kaget dengan sikap istrinya. Baru saja bahagia karena sang istri akhirnya sadar dari tidur panjangnya selama seminggu ini. Malahan yang didapat amukan dari istrinya.
__ADS_1
"Ma,"
"Maaf tuan Shahab tidak anda lupa. Apa yang terjadi sama cucu saya juga pernah terjadi dengan Delia dulu. Bagaimana keluarga anda menolak Delia sebagai cucu nya karena aku berasal dari kalangan biasa. Anda tidak lupa hal itu, kan tuan.
Tapi kenapa anda tidak belajar dari kesalahan masa lalu. Delia seperti ini juga karena anda terlalu memanjakannya."
Yasmin tentu tidak lupa bagaimana suaminya memilih mempertahankan dirinya saat di tolak keluarga besar Shahab. Apalagi saat itu dirinya belum menikah dan Tuan Shahab sudah punya istri. Dalam benaknya saat itu hanya mengabarkan kehamilannya, dia malah berpikir akan membesarkan anaknya sendiri. Tapi ternyata tuan Abdullah Shahab mau bertanggungjawab atas kehamilannya. Akhirnya mereka menikah dan tinggal satu rumah dengan istri pertama suaminya. Yasmin ternyata bisa diterima oleh istri pertama.
"Pa, Delia sudah sadar!" teriak Oka.
Semua berhambur ke ruang rawat Delia. Yasmin yang duduk di kursi roda langsung memeluk Delia. Tangis ibu dan anak tersebut memecahkan suasana yang tadi tegang.
"Syukurlah anak mama sudah sadar."
"Rian" panggil Delia saat melihat lelaki itu berdiri disamping ranjangnya.
"Delia, syukurlah kamu sudah sadar." jawab Rian terbata-bata.
"Aku minta maaf selama ini sudah mencampakkan Roger. Karena dia mengingatkan sama kamu, Roger sangat mirip sama kamu. Jujur, aku dulu juga mencari kamu dan kata Alex kamu sudah kembali ke Jakarta. Aku minta maaf Rian."
Rian kaget mendengar permintaan maaf dari Delia. Seorang Delia Shahab yang dulunya sangat angkuh mengeluarkan kata maaf. Tangan Delia memegang jemari Rian.
"Rian, maukah kamu menuntunku menjadi ibu yang baik untuk Roger."
"Permisi!" beberapa rombongan datang menemui tuan Shahab.
"Ma, ada apa polisi datang kesini?" tanya Delia.
"mama tidak tahu, nak. kita dengarkan saja apa yang dijelaskan oleh polisi tersebut."
__ADS_1
"Tuan Abdullah Shahab, anda kami tahan atas kasus penculikan saudari medhira Utami."