
Pagi ini udara puncak semakin dingin, menusuk tulang membuat penikmat alam terus merapatkan pakaiannya. Tangan-tangan langit seakan menyapu angin kearah barat.
Suatu goresan indah meskipun sang surya belum menampakkan diri. Langit biru polos tanpa kapas putih pun masih terlihat cantik.
Dira merapatkan , duduk di jendela kamarnya. tatapannya beralih ke sosok yang berdiri di dekat pepohonan. Dira mengucek matanya seakan merasa mimpi. Mencoba mencubit pipinya, tapi itu memang nyata.
"Ngapain dia disini? Nguntit aku! Dasar gila." batinnya.
Dira enggan turun ke bawah. Selain malas bertemu sosok itu. Dia juga enggan cepat-cepat mandi, karena udara pagi yang sangat dingin. Meskipun dia tahu vila tersebut menyediakan air hangat untuk mandi.
"Dira ada Delia datang kesini!" Panggil mama Dewi.
Dira pura-pura cuek. meskipun dia sudah menebak kemunculan Arjuna sudah pasti bersama Delia. Langkah kakinya turun kebawah berbaur dengan semua keluarganya.
Dengan senyum terbaiknya dia say hello pada kedua tamunya. Mencoba ramah meskipun dia malas say hello pada Arjuna.
"Ciyeee yang baru lamaran. Tambah berseri saja wajahnya." Goda Delia.
"Iya, dong. Harus itu! Makanya kalian juga harus cepat-cepat. Jangan mau di gantungin, aku saja belum lama pacaran langsung di lamar. Masa kalian yang sudah bertahun-tahun belum ada tanda pasti." Sahut Dira.
"Iya, ya. Kak Juna kapan nih nikahin aku?" Delia menggelendot manja di dekat Arjuna.
"Iya, cepat nikahin Delia. Jangan lama-lama, kasihan anak orang bertahun-tahun dikasih harapan." Kompor sambil membuang muka pada keduanya.
"Sudah...sudah... ini kalian malah ngobrol. Yuk sarapan" Mama Dewi langsung mengajak tamunya makan.
"Tante, aku mau ajak Dira keluar dulu." Rian muncul di tengah mereka.
Delia melihat kemunculan Rian langsung terdiam. Entah kenapa dia tidak suka dengan kemunculan lelaki itu. Ada emosi yang ditahannya, seakan memori luka yang tertutup kembali terbuka.
__ADS_1
Rian sekilas memutar pandangan ke arah Delia. Tangannya meletakkan diatas dadanya, gadis yang satu tahun ini dicarinya. Sekarang ada di depan matanya. Wanita yang pernah melakukan one night bersamanya.
Rian menyunggingkan senyuman sinis pada Delia.
Murahan! Itu yang ingin dia lontarkan pada Delia. Tapi dia mencoba menahannya, menghormati perasaan pasangan Delia, menghormati tante Dewi sebagai tamunya, menghormati Dira sebagai sahabat Delia.
Lelaki itu meninggalkan Delia dan Arjuna. Meminta izin pada calon mertuanya mengajak Dira keluar.
"Ajak Delia dan Arjuna, vira dan juga Satria" Tawar Mama Dewi.
"Ya, ampun mama mereka mau berduaan. Ih, mama nggak peka banget." Sahut Vira.
Dira hanya tersenyum kecil mendengar protes dari adiknya. Memang benar kalau rame-rame bisa kurang leluasa privasinya. Bukan dia ingin berduaan sama Rian, tapi ini kesempatannya mengenal Rian lebih dalam.
"Jadi gimana? kalian jadi mau ikut?" Tanya Dira.
"Kak Satria gimana?" Tanya Vira pada kekasihnya.
"Ih, kak Sat nggak asyik." Vira kesal melihat respon kekasihnya.
"Ya udah kita ikut mereka. Kak Delia mau ikut juga." Tanya Vira memutar pandangan ke arah Delia dan Arjuna.
"Kalau diajak ayo! gimana sayang?" Delia menggelendot manja pada Arjuna. Dira hanya menatap dengan sinis.
"Ya, udah kalian pergi saja. Mama nggak papa kok."
Mereka akhirnya pamit menyalami mama Dewi. Wanita berusia 50-an tersebut memberikan beberapa bekal untuk kedua anaknya.
Beberapa saat mereka sudah sampai di sebuah tempat yang indah. Entah apa namanya tempat itu, yang pasti di kelilingi pohon-pohon besar. Ada air kali tak jauh dari mereka berdiri.
__ADS_1
Perjalanan menuju ke tempat tujuan tidak memakan waktu yang lama. Lokasinya tak jauh dari vila membuat mereka hanya berangkat berjalan kaki saja. Tiga pasangan saling mengekor, saling bercanda, namun tidak bagi Arjuna, dia bagaikan singa yang akan menerkam musuhnya.
Tangan Dira dan Rian yang bergandeng tangan seakan tak mau lepas. Gandengan tersebut tak pernah lepas dari pantauan Arjuna.
Suhu dingin menyelimuti tubuh mereka, Dira menghirup udara segar yang tidak di dapatkannya di kota. Dira memandang aliran kali yang jernih membuatnya ingin mandi. Namun dia takut kalau air itu dalam secara dirinya tidak bisa berenang.
"Kalau lihat air yang tenang dan jernih seperti ini. Rasanya adem banget, air yang tenang mencerminkan kedamaian. Tapi jangan remehkan sesuatu yang tenang dan tampak baik-baik saja.
Justru yang tenang diam-diam membahayakan.
Ada orang yang terlihat santai tapi menghanyutkan. Ada yag terlihat seperti jahat tapi dia menenangkan. Banyak hal aku pelajari selama di London. Yang baik tak "selamanya baik."
"Del, kamu tahu darimana kalau kami disini? Kenapa harus mengikuti aku?" Tanya Dira sedikit risih dengan kemunculan Delia.
"Kenapa kamu risih?" Delia tanya balik.
Tentu saja kedatangannnya mau membalas sakit hatinya pada Dira dan Rian. Membuat Dira panas akan kemesraannya pada Arjuna. Delia tahu Dira pernah suka pada Arjuna saat sekolah. Namun saat Arjuna memilih dirinya, dia merasa menang dari Dira.
"Tentu saja! Ini privasi aku dan Rian. Kenapa malah ikut kesini."
"Oh ya, emang kamu nggak penasaran Rian itu seperti apa? Kamu saja baru kenal sama dia sudah diajak menikah. Kamu tidak cari tahu dulu siapa dia? Apakah dia sudah punya istri atau ada anak?"
"Bukan urusanmu, Del." Dira tampak tidak suka dengan ucapan Delia.
"Sayang..." Rian muncul di tengah mereka.
"Iya." Jawab Dira.
"Kita jalan sebentar, yuk." ajak Rian meninggalkan Delia.
__ADS_1
"Kalian jalanlah. Tapi pesanku hati-hati, ini hutan banyak predator." Sahut Delia.
"Dan predator itu kamu, Rian." batin Delia.