Sayembara Jodoh

Sayembara Jodoh
BAB 44


__ADS_3

Sang mentari menyapa bumi dengan kehangatan sinarnya. Kicau-kicauan burung tak mau kalah menyambut datangnya hari baru. Terdengar suara mesin motor yang berlomba memecah keheningan subuh. Semua makhluk menatap indah hari yang penuh makna.


Kicauan burung membelah kesunyian pagi disertai dengan cahaya kuning keemasan yang membuat kita terbangun dari mimpi. Sejuk angin pagi pun seolah menambah semangat kita memulai hari, rasanya begitu segar dan nyaman. Tak mau kalah embun-embun kecil pun, mencoba menarik perhatian kita dengan memancarkan kilauannya yang indah.


Udara pagi yang masih menembus kalbu, membuat kedua mata ini enggan tuk memulai pembicaraan. Terlebih ketika mentari yang masih malu-malu, untuk memunculkan sinarnya dan embun-embun yang terlihat sedang menari-nari di atas daun segar. Namun langkah-langkah kaki yang bersemangat mulai memecahkan kesunyian,dan berbagai aktivitas mulai berdatangan di pagi yang menyenangkan.


Dira bangun dari ranjang besarnya sambil mengumpulkan separuh nyawanya. Sesekali meregangkan otot kakinya.


Pagi ini Dira berdiri di depan rumah. Rencananya keluarganya dan keluarga Rian akan liburan ke puncak. Sebenarnya itu adalah rencana Rian untuk menenangkan Dira saja. Walaupun sebenarnya Dira tak merasa ada masalah apapun.


Dira menatap langit yang terang benderang, di depan pagar balkon kamarnya. Sesekali terbit senyum merekah bagaikan bunga yang baru mekar di pagi hari.


"Pagi cantik, aku yakin kami saat ini sudah berdiri di depan balkon. menunggu seseorang yang kamu intip setiap pagi."


Suara itu menggaung di pelupuk pikirannya. Menari-nari seakan benar-benar nyata. Tapi sayangnya itu hanya halusinasi semata. Pada kenyataannya kamar itu tetap gelap dan tak berpenghuni.


"Seminggu ini kamar kak Juna gelap terus?" Dira bertanya pada dirinya sendiri.


"Kak Dira kangen, ya sama kak Juna. Rumahnya emang dijual kak. itu udah dipasang plang tanda dijual" Vira tiba-tiba muncul dibelakang Dira.


"Kenapa dijual?" Tanya Dira.


Vira menaikan bahunya, dia pun tak tahu kalau rumah tetangganya itu dijual. Dia juga tahunya dari mamanya yang ngegosip sama Bibi.


"Kak Dira mau kemana?" Vira kaget melihat kakaknya turun dengan cepat kebawah.


Dira yang tadinya kepo dengan berita dari adiknya mengurungkan niatnya. Langkah kaki berbalik kembali ke dalam rumah.


"Ingat Dira, kamu akan menikah dengan Rian. Mau mereka ngapain bukan urusan kamu,Dira." Dira duduk di tangga depan pintu masuk.


"Ya, ampun Dira. Kamu ngapain masih disini? Bentar lagi Rian datang jemput kita ke puncak. Kamu pasti belum mandi, uuuhhh...anak gadis mau ketemu calon suaminya kok malah kucel. Sana mandi!" Mama mendorong Dira masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


"Mama tenang saja, aku kucel gini Rian tetap cinta sama aku. Jadi mama nggak usah takut kalau Rian kabur." Sahut Dira langsung melancong ke kamarnya.


Mama Dewi hanya menggelengkan kepalanya. Lalu kembali mempersiapkan untuk dibawa ke Vila. Tampak Feri turun sudah mengenakan jas ke kantor.


"Fer..." Mama Dewi heran dengan penampilan putranya.


"Iya, ma." Feri berkaca di depan wastafel dapur membenarkan dasinya.


"Makanya cari istri, biar ada yang membantu persiapan kamu." sahut mama Dewi sambil membetulkan dasi putranya.


Feri menghela nafas berat. Dia malas membahas soal pasangan. Seperti yang diketahui istri Feri, Meyra, meninggal dalam keadaan hamil muda dan sesak nafas. Sejak Vira dilamar Satria, mamanya mulai menagih dirinya dan Dira mencari pasangan. Dimatanya, tidak ada yang bisa menggantikan mendiang istrinya.


"Ma, sampai kapanpun tidak ada yang bisa menggantikan Meyra, bahkan mama mendesakku untuk menerima Mayka pun tidak akan mengubah keputusanku."


"Ya, sudah bilang sama mertuamu untuk menolak Mayka. Jangan kasih harapan ke anak orang, Feri."


"Feri ke kantor dulu, ma." Feri menyalami tangan mama Dewi lalu melesat meninggalkan rumah.


Ini bukannya hari minggu,. ya?


Ngapain Feri ke kantor hari minggu?


Mama Dewi terus bermonolog ria melihat keanehan sikap putranya. Rasa penasaran menyelinap di hati wanita usia 52 tahun tersebut. Tangannya berselancar di layar gawainya.


klik


Disebuah bangsal rumah sakit, tampak seorang wanita paruh baya duduk di tepi ranjang besi warna putih. Wajahnya sudah lumayan berseri ketimbang beberapa hari yang lalu. Tangannya yang penuh urat berpegang pada dinding ranjang tersebut. Netra memutar melihat pasien lain, beberapa dari mereka belum ada di jenguk ataupun di jemput keluarganya.


Masing-masing ranjang masih penuh dengan pasien yang beragam penyakit. Namun dia dan juga mereka hanya mampir masuk perawatan bangsal no 3. Sesuai dengan keadaan ekonomi mereka.


"Mama..." Wanita itu tersenyum ketika seorang wanita menghampirinya.

__ADS_1


"Tina, kamu sama siapa kesini?" Tanyanya pada putri sulungnya.


"Naik gojek, ma" Sahut Tina sambil merogoh tasnya karena mendengar handphone berbunyi.


"Amar sama siapa? Kenapa tidak diajak?" Mamanya melihat kanan kiri berharap si bungsu ikut menjemputnya.


Tina menghela nafas berat, adiknya yang satu itu memang susah diajak kompromi. Tahunya hanya bermain saja. Nanti kalau lagi-lagi kedapatan ngamen lagi di jalanan Tina tidak akan memberi ampun.


"Mama tahu sendirilah Amar kayak gimana. Mana dia peduli untuk mikirin hidup, yang dia tahu cuma main saja. Awas saja kalau dia ngamen lagi."


"Tina, adikmu itu masih kecil. Masih 8 tahun, ya wajar kalau masih suka bermain. Karena memang dunianya seperti itu. Kamu jangan keras pada adikmu." Nasihat mamanya Tina.


"Mama terlalu manjain dia jadi sikapnya begitu. Yuk, ma kita siap-siap mau pulang." Ajak Tina sambil menenteng tas kecil milik ibunya.


"Maafin, mama ya, nak. Seharusnya kamu bisa hidup bahagia bersama Glen. Tapi karena keadaan kita, kamu jadi berpisah dengan suamimu." Ratap Mamanya Tina.


Tina menghela nafas berat. Seandainya mamanya tahu suami macam apa menantunya itu. Seandainya mamanya tahu kalau mertuanya ternyata terlibat dalam kasusnya papanya, apakah masih berpikiran baik sama keluarga Glen.


"Ma, Tina bersyukur terlepas dari Glen. Dia bukan lelaki yang baik, kalau memang dia cinta sama aku, dia akan membuat aku betah dalam lingkup keluarganya. Tapi ternyata dia melepaskan aku begitu saja. Itu tandanya, dia nggak butuh aku sebagai istrinya lagi. Jadi aku nggak mau berharap lagi buat dia.


Ah, Iya aku urusin pembayaran dulu, ya, ma." Tina berjalan meninggalkan ruang rawat menuju tempat resepsionis.


"Pembayarannya sudah dibayar, bu." Jawab resepsionisnya.


"Sudah dibayar! sama siapa?" Tina kaget mendengar pembayarannya sudah lunas. Resepsionis tersebut hanya mengangguk, mengiyakan ucapannya.


"Sama seorang lelaki muda, bu."


Jangan-jangan bang Jamal yang bayar. Ya Allah semakin banyak hutangku sama bang Jamal.


Tina berbalik arah, berjalan menemui ruang rawat ibunya. Matanya membulat melihat lelaki berpenampilan parlente tertawa riang bersama mamanya.

__ADS_1


__ADS_2