Sayembara Jodoh

Sayembara Jodoh
BAB 121


__ADS_3

"Jadi mama beneran mau pulang?" sungut Dira.


"Iya, dong. Kerjaan mama banyak di Jakarta. Lagian kamu kan sudah ada suami. Jadi nggak kesepian lagi."


"Siapa yang kesepian? setiap hari ketemu mama, ketemu Vira, ada bibi dan kak Feri. Jadi nggak ada kata sepi." bantah Dira.


"Halah, kalau sepi malah ngintip kamar seberang." sahut Vira.


"Apa yang mau diintip, gelap gitu yang ada serem juga." balas Dira.


"Tapi kata bibi, kalau rumah Juna sudah ada yang menempati" kata mama Dewi.


"Iya, kah?" seru Vira.


"Ehmmm... siapa tahu mereka punya anak lelaki yang bisa di jodohkan sama kamu, Ra. Ingat Vira sayembara jodoh masih berlangsung di keluarga kita. Kamu yang saat ini masih single." Dira mencoba menggoda adiknya.


Vira melototi kakaknya. Tampak Dira tertawa puas melihat ekspresi Dira. Selama ini Vira suka sekali menggangunya perihal sayembara jodoh. Sekarang dia sudah terbebas dari sayembara tersebut. Dira yakin sebentar lagi sang adik yang akan di kejar soal pasangan.


Saat ini mereka sedang menikmati indahnya udara pantai panjang. Tadi nya mereka akan pergi siang. Namun setelah mendapat info pantai panjang ramai jam sore, apalagi weekend.


Diatas pasir putih, tampak beberapa muda mudi bermain menikmati deburan ombak di pinggir pantai. Tak kalah jauh dengan anak-anaknya yang bermain pasir.


Tak jauh dari terjangan deburan ombak tampak sepasang anak manusia berjalan beriringan. Tangan mereka saling menggenggam erat. Sudah tiga hari status mereka sebagai suami istri. Sudah tiga hari mereka merasakan nikmatnya pacaran setelah menikah.


Mereka berjalan sepanjang pantai, sebagai pengantin baru yang dimabuk asmara. Terlihat gurat kebahagiaan di wajah keduanya, dengan pakaian yang sudah basah air pantai mereka berjalan saling berpegangan tangan.


Mereka memilih menghabiskan waktu berdua daripada berbaur dengan keluarga besarnya.


Suasana itu menjadi momen bagi mereka berdua, saling bergandengan, saling memandang, berjalan beriringan menikmati suasana pantai.


"Mas, kalau dilihat ombak itu keren, ya. Gulungannya menjadi daya tarik bagi siapapun yang melihatnya."


"Nggak kok. Bukan ombak yang menjadi daya tarik pantai ini."


"Iya, kah. Lalu apa yang bisa menggantikan daya tarik ombak, Mas."


Juna membalikkan badannya ke arah istrinya. Tangan menggenggam erat jemari cantik Dira.


"Kamu yang daya tariknya lebih keren dari ombak."


Dira mengatupkan kedua tangannya. Bisa-bisanya suaminya merayu.


"Masa!" Dira pura-pura manyun.

__ADS_1


"Kamu itu adalah cahaya matahari yang menyinari hatiku. Seorang wanita yang sudah bertahun sudah memenuhi ruang hatiku."


"Huh! gombal! lagian kenapa baru sekarang mengakui. Apa karena kita sudah nikah? semacam sogokan gitu." cicit Dira.


"Maybe yes maybe no." Juna menjentikkan hidung istrinya.


Juna berjalan meninggalkan Dira sendirian. Dira kesal suaminya main tinggal saja. Sambil cemberut dia ikut dibelakang lelaki itu. Kakinya menendang riak air ombak.


"Aaaawws...!" Dira kaget seketika tubuhnya sudah berada diatas kedua tangan suaminya. Juna terus berlari sambil menggendong Dira.


"Mas, pusing!" keluh Dira saat tubuhnya diajak berputar.


Juna menurunkan Dira yang mengeluh pusing. Lelaki itu membawa Dira duduk di salah satu pondok. Ia menatap lekat wajah istrinya yang kecut.


"Masih pusing?" tangan Juna mengurut dahi istrinya.


"Sedikit lebih baik. Makasih kak Juna pijitannya."


"Kok malah kak, kan kita sudah suami istri."


"Maaf,Mas. Lupa." Dira hanya bisa menyengir.


"Nggak di maafin!" Juna memutar badan membelakangi Dira.


Juna tetap membelakangi Dira. Berharap istrinya membujuk atau minta maaf. Pertahanannya pun runtuh, Juna membalikkan badannya. Ternyata Dira sudah tak ada di pondok. Juna melirik jam sudah menunjukan pukul lima sore. Semakin sore angin pantai semakin kencang. Juna mencari keberadaan istrinya. Tapi tak nampak batang hidungnya.


Tak jauh dari mereka, tampak seorang gadis muda duduk di pasir pantai. Membiarkan deburan ombak kecil membasahi bajunya. Kakinya di lentangkan lurus.


"Boleh duduk di sebelah." sapa seorang pemuda.


Seketika dia menoleh. Hanya segurat senyum dia berikan pada orang asing itu. Matanya menatap sosok itu dari atas sampai ke bawah. Tak lama dia kembali fokus pada pemandangan di depannya.


"Silahkan kalau mau duduk. Lagian ini pantai, bebas siapa saja mau ngapain." sahutnya.


Sosok itu duduk di samping Vira. Dia juga melakukan hal yang sama seperti Vira. Merentangkan kakinya lurus kedepan. Celana panjang abu-abunya di biarkan kotor.


Vira langsung beranjak dari sebelah orang asing itu. pemuda itu hanya tersenyum kecil saat Vira pamit dari sampingnya. "Boleh kenalan, namaku Krisna. Kamu?"


Vira memutar tubuhnya "Vira. Savira Gayatri. Kamu masih SMA kan?"


"Iya, aku masih kelas dua SMA. Hari ini pembagian raport kenaikan kelas. Lusa aku akan pindah ke Jakarta." cerita Krisna.


Vira tertawa kecil "Kamu aneh. Kita baru kenal tapi kamu sudah menceritakan urusanmu."

__ADS_1


Krisna menunduk malu. "Karena aku berharap kita bisa bertemu lagi." Vira tertawa meninggalkan Krisna "Yakin banget kamu. Sekolah yang benar dulu."


"Kak Vira aku yakin kita akan bertemu lagi." pekik Krisna. Vira hanya melambaikan tangan tanpa menoleh. "Dasar anak kecil." gumam Vira dalam hati.


Krisna berjalan mendekati sang mama yang sedang mengobrol dengan temannya. Teman mamanya yang mengaku bernama Dewi menyapa Krisna.


"Ini....Nana ... Ya Santi."


Mama Santi mengangguk. "Iya, Ini Nana, Krisna Nandaran." Mama langsung merangkul putranya.


"Astaga ... anakmu tampan sekali, Santi. Dia masih sekolah?"


"Masih kak Dewi, ini tadi naik kelas tiga. Lusa aku akan bawa pulang ke Jakarta. Selama ini dia tinggal sama ibu di sini. Sebulan yang lalu ibu meninggal dunia. Tidak mungkin kan aku biarin anakku sendiri di sini." cerita Mama Santi.


"Oh, gitu ya. Maaf aku nggak tahu kalau ibumu sudah nggak ada. Turut berdukacita, ya Santi." Mama Dewi menyabarkan hati Santi yang masih berduka.


klik


"Dira!"


Ayu datang menemui sahabat sekaligus kakak iparnya.


"Yu, mulai sekarang kamu biasakan panggil Dira dengan sebutan kak Dira. Karena sekarang malam ipar kamu, bukan sepantaran kamu lagi." protes Juna.


"Apa sih, Mas! biarkan saja. Aku malah keliatan tua kalau di panggil kak."


"Tapi, sayang...,"


Dira mengalihkan ke arah Ayu "Ada apa, Yu?"


"Soal Eka," jawab Ayu hati-hati.


"Eka kenapa?" Dira masih belum paham.


"Eka menyerahkan diri soal penculikan kamu, Dira." tambah Ayu.


"Sayang, apa yang kamu mau lakukan?" tanya Juna pada istrinya.


"Maaf, Yu. Jika kamu minta aku membantu Eka. Aku tidak bisa, dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Mas Wandi yang malah menggantikannya. Padahal suaminya sudah mengingatkan Eka supaya tidak ikut campur. Tapi Eka malah membekapku. Itu sama aja dia juga terlibat dalam kasus ini."


"Tapi, Ra. Kasihan Radit!"


"Dia sendiri nggak kasihan sama anaknya. Kalau dia memikirkan anaknya, dia juga tidak senekat ini." Dira berjalan meninggalkan area pantai.

__ADS_1


__ADS_2