Sayembara Jodoh

Sayembara Jodoh
BAB 89


__ADS_3

Hari sudah menjelang sore, Juna dan penjenguk lainnya pamit pada keluarga Delia. Juna minta pada Oka jangan sungkan mengabari kondisi Delia, baginya Delia sudah seperti adiknya sendiri. Oka minta maaf jika ada sikap Delia selama ini yang menyinggung perasaan Juna serta teman-teman yang lain.


Dira sudah berdiri di depan pintu masuk rumah sakit. Tubuhnya sedikit di jongkokkan membenarkan posisi sepatunya, karena merasa tidak nyaman. Dira baru ingat kalau tadi dia menumpang di mobil Wandi, suami Eka. Ketika tangannya hendak menggapai gawainya, sebuah tangan lain menahan keinginannya.


"Kenapa?" tanya Dira saat di cegah menghubungi sopirnya.


"Ikut, aku!" tangan kekar itu menarik dirinya.


"Kemana?aku pulang bareng Eka, kak Juna."


"Nggak usah ikut mereka. Mereka pasti butuh waktu berdua kayak kita."


"Kita?" Dira menggaruk kepalanya masih heran dengan sikap Juna.


"Kak Juna kesini tadi sama siapa?"


"Sama Ical. Tapi Ical sudah balik lagi ke kantor. Aku sudah izin sama bos ku untuk libur hari ini. Nggak apa-apa kan?"


"Tapi, kak ... aku harus balik lagi ke kantor. Masih banyak kerjaan yang harus aku selesaikan."


"Aku bisa telepon Feri untuk memberi kamu izin supaya meluangkan waktu buat aku."


Dira terkikik mendengar ucapan Juna yang sedari tadi ngototnya minta ampun. Dia merasa sikap Juna sangat aneh. Tidak biasanya lelaki itu mengajaknya jalan.

__ADS_1


"Ra, aku ingin meluangkan waktu buat awal hubungan kita. Aku ..." Dira menempel telunjuk jarinya ke bibir lelaki. Sedikit menghela nafas pendek serta mencoba mengalah.


"Oke hari ini aku ikuti kemauan kakak. Tapi ingat kak, saat ini kita bukan memulai hubungan seperti yang kak Juna bilang tadi. Tapi aku menganggap sebagai penyelesaian permasalahan yang terjadi diantara kita."


"Ra,"


"Ayo, katanya mau ajak aku keluar." Dira menagih ucapan Juna, sebelum pembicaraan mereka merembet kemana-mana.


"Ra,"


"Iya," Dira memandang kearah lelaki didepannya. Sambil meredam perasaan yang bertalu-talu.


"Aku cinta kamu. Sedari tadi aku merasa kamu menghindar pembicaraan awal. Ya, mungkin kamu masih patah hati soal Rian. Tapi apa salah aku mencoba mengobati luka yang diberikan Rian."


"Kak Juna jangan ganggu Dira lagi, lusa dia akan ditunangkan sama calon pilihan keluarganya. Jadi aku mohon jangan rusak hubungan Dira dengan calonnya lagi." ujar Eka.


Juna mengejar Dira yang sudah didalam mobil Wandi. Beberapa kali dia menggedor pintu jendela mobil. Namun Wandi sudah menguncinya dari dalam. Beberapa saat Eka masuk ke dalam mobil lalu melesat meninggalkan Arjuna. Lelaki itu berlari mengejar mobil Wandi.


"Ka, kamu keterlaluan." Amuk Dira.


"Kamu yang keterlaluan, Dira. Aku tidak mau kamu merusak hubungan antara Delia dan Arjuna. Kamu tahu? tadi di ruangan om Abdullah sedang membujuk om Johan untuk menikahkan Delia dengan Arjuna. Delia kritis! yang dia butuhkan hanya kak Juna."


"Delia tidak akan bisa menikah dengan kak Juna." Jawab Dira lantang.

__ADS_1


"Kenapa? mereka itu saling mencintai. Kamu jangan coba-coba merusak hubungan mereka."


"Delia tidak akan bisa menikah dengan kak Juna sebab dia punya anak dari pria lain."


"Cukup Dira! cukup kamu memfitnah Delia hanya karena perasaanmu dengan Arjuna."


"Fakta itu, ka. Delia punya anak dari laki-laki lain sewaktu di London. Kalau kamu tidak percaya tanyakan saja dengan atasanmu. Asal kamu tahu yang buat Rian membatalkan rencana pernikahan kami adalah Delia!"


klik


"Jadi bagaimana Johan?" Tuan Shahab duduk di kursi dekat ranjang Delia. Detakan suara komputer pendeteksi jantung pun kalah volume dengan lelaki paruh baya tersebut.


Johan hanya terdiam. Dia bingung harus bagaimana menjelaskan kalau Juna sudah di jodohkan dengan perempuan lain. Dialihkan pandangannya ke arah istrinya. Hanya ada mereka bertiga dalam ruangan tersebut. Sementara Oka sedang menemani Yasmin di ruangan lain.


"Maaf, Abdul." Jawab Johan.


"Hay, kamu tidak lupa kan, saham yang ada di pabrikmu punya siapa?"


"Tapi---"


"Kenapa? kamu tidak mau lagi terlibat kerjasama dengan saya. Tidak masalah. Aku bisa mengerahkan anak buahku untuk menutup pabrikmu, dan kamu akan jatuh miskin lagi seperti dulu." ujar tuan Shahab dengan santai.


Johan mengepal tangannya dengan erat. Ada emosi tersembunyi yang dirasakannya. Sesekali dia menghela nafas berat. Terbayang bagaimana hidupnya yang dulu mengandalkan bantuan dari atasannya yaitu pak Burhan.

__ADS_1


__ADS_2