Sayembara Jodoh

Sayembara Jodoh
BAB 97


__ADS_3

Delia memandang kaca jendela di dalam mobil. Hujan turun terasa deras sederas perasaan hatinya sekarang. Kehidupannya kini berbalik seratus delapan puluh derajat. Tatapannya sayu karena nasibnya sudah tak tentu arah.


Sebuah tangan menggenggam erat seakan menguatkan dirinya. Di tolehkan kepalanya demi rasa hormatnya pada sosok di sampingnya. Setitik senyum paksaan pun terbit di wajah manisnya.


Wajah manis itu mencoba memejamkan matanya. Berharap saat membuka mata hanya keceriaan yang di dapatnya seperti dahulu.


"Del." suara sapaan lembut itu semakin dekat.


"Kita pulang kemana, ma?" tanya Delia.


"Ke rumahku," sahut suara seseorang yang sedang mengendalikan lajunya mobil.


"Tapi--" Delia masih mencoba memalingkan wajahnya kearah jalanan. Tampak beberapa anak-anak sedang menelusuri derasnya hujan. Berpakaian seragam sekolah. Menerjang hujan demi sampai di rumah mereka.


Delia hanya menunduk lemah. Matanya memandang sosok lelaki yang saat ini membawa kendali mobil. Lelaki yang tak pernah terbayang akan jadi imamnya beberapa hari lagi. Dia merasa malu, karena kebenciannya pada lelaki itu, kekecewaannya karena tidak bisa mendapatkan Arjuna.


"Bahkan kak Juna tidak marah saat aku berusaha jujur tentang kehamilanku. Apa karena dia sudah tidak mencintaiku? tapi memang selama ini dia tidak pernah mencintaiku, dia mencintai apa yang di lakukan Dira dari balik layar. Hanya saja dia tahu nya aku yang melakukannya selama ini." keluh Delia dalam hati.


Dia selama ini juga mencintai Arjuna sejak SMP. Namun, cinta itu terkikis oleh waktu sejak kejadian one night nya bersama Rian. Bukan karena dia jatuh cinta pada Rian. Tapi dia sudah tidak percaya diri membuktikan cinta itu ada. Lagi-lagi karena dorongan papanya yang membuatnya tetap mempertahankan Arjuna. Delia tahu sepandai-pandainya tumpai melompat pasti akan jatuh juga. Sepandai-pandainya dia menyembunyikan semua ini pasti akan ketahuan juga. Sepandai-pandainya dia menyembunyikan bahwa dia memanfaatkan Dira yang memang mencintai Arjuna sejak kecil akhirnya ketahuan pula. Pada akhirnya sekarang semua sudah terlambat. Tidak ada yang tersisa, bahkan dia yakin maaf pun tidak akan dia dapat dari orang-orang yang disakitinya.


Mobil akhirnya melabuhkan perjalanan di sebuah rumah bertingkat. Sesaat sang sopir menoleh kearahnya. Tampak senyum itu membuat lelaki itu semakin tampan. Delia menunduk sesaat. Dia merasa aneh dengan degup jantungnya. Sesekali mencoba meredam apa yang dirasa bergolak di dalam dadanya.


Bukan, Del. Ini bukan cinta ini hanya kekagumannya karena sudah berbaik hati memberikan tumpangan kepadamu.


Mobil masuk ke garasi bersama dengan penumpangnya. Terdengar suara klakson menandakan kalau mereka sudah sampai di rumah. Andre keluar membantu Rian mengeluarkan barang. Delia memandang Andre dengan perasaan bersalah. Kemarin-kemarin dia mencoba mempermalukan Dira ketiak tahu Andre jadi sopir. Tapi bukan Dira yang malu melainkan Vira yang mogok ke kampus. Itu dia ketahui dari kerabatnya yang satu kampus dengan Vira.


"Del," tangan itu menyambutnya.


Delia dan Yasmin masuk ke dalam rumah kediaman Anca. Rian menuntun Delia yang belum lancar berjalan. Kepalanya hanya terus menunduk, Rian memang menuntunnya tapi lelaki itu tetap dingin padanya. Delia sadar, kalau Rian menerimanya bukan karena cinta.


Tapi hanya sekedar kasihan padanya. Dia memilih ikut bungkam.


"Jeng Yasmin," sapa seorang wanita sambil menggendong anak kecil.


Yasmin menoleh pada sang nyonya rumah. Kepalanya menunduk seraya malu pada si pemilik rumah.

__ADS_1


"Jeng Arumi, maafkan saya." jawab lemah Yasmin.


"Kenapa?" tanya Arumi.


"Maafkan saya tidak bisa mendidik anak saya sehingga mencoreng keluarga anda."


"Tidak ada yang mencoreng, jeng. Semua yang terjadi tidak usah diingat lagi. Disini saya dan suami saya membuka lembaran baru bersama putri anda dan cucu kita, Roger Snowden." jawab Arumi ramah.


"Jadi ini cucuku," Yasmin mencoba memegang Roger namun anak itu menolak. Mungkin karena dia merasa asing dengan orang lain.


"Dulu waktu Roger datang pertama kali kesini dia juga enggan sama kami. sepertinya dia tidak gampang akrab dengan orang lain. Tapi lama-kelamaan dia bisa menyesuaikan diri dengan kami. Di butuhkan kesabaran menghadapi anak seperti Roger."


Yasmin takjub dengan ucapan Arumi. Betapa bangganya dirinya jika Delia punya suami seperti Rian dan mertua seperti Arumi. Beda dengan mamanya Arjuna yang terkesan matre. Apalagi setelah tahu putrinya di putuskan demi perempuan lain. Keluarga Arumi sudah masuk paket lengkap dimatanya.


"Pak Andre jangan terlalu berat bawaannya." sahut Rian.


"Ah, nggak apa-apa, den. Sudah tugas saya seperti ini." jawab Andre.


"Tapi bapak baru saja habis donor, Lo." Rian mencoba mengingatkan.


"Pak Andre saya perintahkan kamu untuk istirahat. Jangan banyak membantah kalau tidak mau di potong gajinya." kata Anca.


Andre merasa takut saat atasannya sudah memberikan titah. Mau tidak mau dia pun masuk ke kamar untuk beristirahat.


Di kamar Andre membuka photo keluarga kecilnya "Cuma ini yang bisa papa lakukan untuk anak-anakku." tangan Andre mengusap ke wajahnya yang penuh kerutan.


Flashback on


"Jadi bagaimana keadaan anak saya, dok?" tanya Dewi.


"Maaf, bu. Anak anda mengalami penurunan hemoglobin dalam tubuhnya. Mungkin ini disebabkan oleh kondisi saat disekap. Maka itu anak anda membutuhkan golongan darah B. Sedangkan di rumah sakit stoknya sedang menipis." jawab dokter.


Dewi duduk termenung memikirkan ucapan dokter. Dirinya bergolongan A sedangkan yang golongan B adalah mantan suaminya. Bagaimana bisa dia mencari golongan darah itu, sementara selama ini dia tidak tahu keberadaan Andre. Tapi jika dia menemukan Andre apakah anak-anaknya akan terima. Sungguh dilema yang melanda dirinya.


Rian yang saat itu melintas. Sekilas mendengar pembicaraan Dewi dan dokter. Ada rasa iba ketika tahu kondisi Dira semakin parah. Rian pun berinisiatif menghubungi Andre, mengabari soal yang terjadi pada Dira. Sejak mengurusi soal Delia, dia belum sempat mengabarkan pada Andre soal penculikan Dira.

__ADS_1


"Pak, bisa kerumah sakit?"


" Bisa, den. Mau di jemput, ya?" jawab Andre.


"Iya, saya tunggu di ruangan melati no 19."


"Baik, Den."


Rian menutup komunikasi antara dirinya dan Andre. Lelaki itu berharap Andre bisa membantunya menyelamatkan keadaan Dira.


Rian menyempatkan diri menjenguk Dira. Beberapa orang sudah berkumpul di kamar rawat Dira. Dari cerita yang dia dengar ada keterlibatan Eka dalam menyekapan Dira. Sesaat Rian mengelus dadanya, seakan tidak percaya Eka bisa melakukannya.


Ting!


"Den, saya sudah berada di depan pintu kamar yang dibilang."


Rian langsung pamit dari kamar Dira. Lelaki itu melesat menemui Andre di depan pintu kamar Delia. Rian menarik Andre menceritakan soal kejadian yang menimpa Dira. Ada rasa sedih ketika mendengar apa yang dialami putri keduanya. Sesaat Andre menangis dalam pelukan Rian.


"Saya ayah yang jahat. Bahkan saat putri saya dalam bahaya pun tidak bisa melakukan apapun."


"Om golongan darahnya apa?"


"B"


"Tadi saya dengar Dira membutuhkan golongan darah B karena Tante dewi tidak memiliki golongan darah tersebut." jelas Rian.


"Apapun akan saya lakukan demi anak-anakku. Saya mau mendonorkan darah untuk Dira."


"Om langsung katakan pada Tante Dewi."


"Tidak, den. Karena jika saya muncul yang ada malah bikin runyam. Donorkan saja darah saya tanpa harus mereka tahu. Saya sudah tidak punya muka bertemu mereka."


"Om yakin? setidaknya Dira harus tadi yang papanya lakukan. Bukankah om dulu membuat kesalahan pada Vira bukan Dira."


"Tetap saja, den. Saya malu."

__ADS_1


__ADS_2