
London, Maret 2020
Delia
"Congratulations madam, you are pregnant. Age of pregnancy It's been two months." Jelas Dokter di sebuah rumah sakit kota London.
"Pregnant?" Delia masih tak pernah apa yang baru saja dia dengar.
"Yes, madam." Jawab Dokter sambil tersenyum.
Delia berjalan mengitari koridor rumah sakit. Hatinya hancur saat tahu dirinya telah berbadan dua. Bagaimana bisa hal itu bisa terjadi? Padahal dia tak pernah kencan sampai ke ranjang. Kebanyakan lelaki yang mengajaknya kencan hanya diberi obat tidur. Tapi dia langsung pergi setelah mengambil beberapa barang milik si lelaki. Hanya saja dia ingat saat bangun ada sosok Rian di samping.
Ya, dia harus menemui Rian. Lelaki yang merenggut kesuciannya. Kesucian yang dia jaga untuk Arjuna, lelaki yang sudah menjadi calon suami. Lelaki yang dulu mengejar dirinya, lelaki yang mulai dia jaga perasaannya. Sekarang dia merasa takut jika keluarganya tahu, takut Arjuna menjauhinya, takut semua hal yang akan menjadi imbas kelakuannya.
"How?" Alex muncul di depan gerbang rumah sakit.
Saat ini bagi Delia, Alexlah yang selalu ada buat dirinya. Tak pernah lelaki itu beranjak dari sisinya meskipun dia paham kehidupan Alex penuh kebebasan. Delia juga tidak menyesal punya teman seperti Alex. Meskipun cassanova, Alex selalu menjaga Delia dari temannya hidung belang.
"Seandainya kamu tidak memberikan obat buat Rian. Mungkin tidak akan seperti ini."
If you don't give medicine to Rian. Maybe it won't be like this."
"So you blame me? I only gave medicine to Rian. Not for you, Delia! ( Jadi kamu menyalahkanku? Aku hanya memberi obat pada Rian bukan padamu Delia."
"Come on, don't deny it! You are the cause of all this! Our job is only to highlight the money, not even sleeping with him (Sudahlah jangan menyangkal! Kamu penyebab semua ini! Tugas kita cuma memoroti uangnya bukan malah tidur dengannya)"
__ADS_1
"Sekarang aku mau menemui, Rian! Aku mau minta pertanggungjawabannya. Ini anaknya, benih yang dia tanam. Aku tidak tahu harus bilang apa pada kakak Juna, pada orangtuaku."
Sungguh dia tidak berani memikirkan bagaimana reaksi orangtuanya. Delia paham bagaimana papanya sangat ketat pada dirinya. Bagaimana papanya yang menentukan langkahnya dengan siapa dia boleh berteman. Kemana dia pergi papanya selalu tahu. Sebegitunya ketatnya hidup Delia yang membuatnya tertekan. Bagi Delia kehidupan barunya di London adalah awal kebebasannya dari papanya.
"Antarkan aku ke apartemen Rian!" Pinta Delia pada Rian.
"Itu apartemenku juga. Kami satu kamar." Jelas Alex
"Tapi.." Alex menjeda ucapannya.
"Apa?"
"Rian sudah pulang ke Indonesia satu bulan yang lalu. Malam itu saat pertemuan kalian adalah minggu terakhirnya di London. Kalau kamu mau minta pertanggungjawabannya sebaiknya kamu pulang ke indonesia. Temui dia, aku tak tahu alamat rumahnya tapi pasti orangtuanya punya usaha wedding organizer." jelas Alex.
Delia merasa dilema. Jika dia pulang ke indonesia otomatis orangtuanya akan tahu kalau dia sedang hamil. Langkah kaki berjalan seperti terseret, hidupnya sudah hancur, tamat, the end ataupun mampus, tak ada artinya dia hidup di dunia ini.
"Aku ..." Delia hanya bertumpu pada lantai.
Dia hanya bisa menangis sejadi-jadinya. Meratapi nasibnya yang hamil di luar nikah. Hujan membasahi bumi negeri ratu elisabet. Delia tak peduli kondisi tubuhnya yang terkena hujan. Dia bahkan berharap jika sakit akan mematikan bayinya.
Beberapa hari kemudian Delia berjalan memasuki klinik. Tetap dengan langkah gontai antara hidup dan mati, dia memasuki klinik tersebut. Pasrah itulah yang dirasakannya sekarang.
"Nona, apakah anda ingin aborsi." Tanya petugas klinik.
Delia hanya mengangguk lemah.
__ADS_1
"Anda yakin?" Tanya petugas tersebut.
Delia kembali mengangguk. Dia sudah mantap melepaskan janinnya.
"Silahkan anda berbaring disana. Kami akan mengecek kesehatan anda. Kami tidak mau menangani pasien yang punya penyakit lain. Anda bersedia?" Delia tetap mengangguk.
?
Anakku maafkan ibu! Ibu terpaksa melakukan ini demi masa depan. Percuma kamu lahir tanpa seorang ayah. Maafkan ibu!
Delia memejamkan mata saat alat-alat medis sedang dipersiapkan. Dalam pejamannya tampak bayang-bayang bayi lucu. Dalam pejamannya bersama dengan Arjuna bermain dengan bayi tersebut. Delia tersenyum simpul dalam pejamannya.
"Hentikan!" Suara Alex yang menggema di tempat operasi menghebohkan sekitar klinik.
Tak hanya Alex namun beberapa polisi pun menyergap klinik tersebut. Alex akhirnya membawa pergi Delia dari klinik tersebut.
Di sudut kota London
PLAAAAK!
Sebuah tamparan melayang di wajah cantiknya. Ayunan tangan dari seorang lelaki yang selama ini dianggap sebagai sahabat. Tampak urat lehernya menyekat seakan ingin putus saking emosinya.
"Are you crazy!" Pekik Alex.
"Yes, I'am crazy. I'm going crazy thinking about all this! my life has been ruined because of this kids!Son, bring me bad luck, he will destroy my future later. And I don't want my future to be ruined because of the cursed child! I hate him! I don't want to die but he has to die."
__ADS_1
( Ya saya gila! saya sudah gila memikirkan semua ini. Hidup saya sudah hancur gara gara anak ini. Anak yang pembawa sial yang akan menghancurkan hidupku suatu saat nanti. Dan aku tidak ingin masa depanku hancur karena anak terkutuk itu! Aku benci dia! Saya tidak ingin mati tetapi dia harus mati."