
"Dira, Rian mana? mama mau ngomong sama dia."
"Nggak tahu, ma." Jawab Dira.
"Ya, kamu susul dong. Bisa jadi dia dikamarnya."
Dira dengan malas menyusul Rian ke kamar calon suaminya. n
Ceklek!
Dira hendak membuka pintu bertepatan dengan Juna yang hendak keluar. Mata mereka saling bertabrakan lama. Sesaat dia sadar tak ingin berlarut dalam rasa.
Dira memasukkan kepalanya di daun pintu guna memeriksa keberadaan Rian. Karena yang di cari tak ada di kamarnya memilih balik ke ruang makan.
"Ra." Suara bariton itu memanggilnya.
"Iya." Dira menjawab tanpa membalikkan badannya
"Tolong, dong. Aku mau ke ruang makan." Juna masih berjalan kakinya masih terasa sakit.
"Kalau kakak masih bisa bangun itu tandanya masih mampu." Jawab Dira ketus.
"Mulai sekarang kita adalah orang asing." Jawab Dira.
"Kenapa? kenapa kamu begitu keras kepala, Ra? Kenapa kamu begitu gengsi mengakui perasaanmu."
"Karena memang tidak ada perasaan itu." Jawab Dira lantang.
__ADS_1
" katakan pada saat menatapku kalau katu tidak mencintaiku."
Dira memutar tubuhnya kearah Arjuna. Tangannya dilipat bawah dadanya.
"Aku bukan pelarian kak Juna. Aku tahu kak Juna mendekatiku karena Delia tidak ada kabar dalam satu tahun.
kakak pikir aku bodoh mau menerima lelaki yang sedang galau.Enggak!"
"Tapi aku benar-benar mencintaimu, Ra." suara Juna lirih.
"Mulai sekarang aku minta kakak jangan ganggu hidupku lagi. Anggap kita tidak saling mengenal. Itu lebih baik untuk menghormati pasangan masing-masing."
"Kamu kenapa sih, Ra? Oke, kalau kamu nggak punya perasaan apa pun sama saya. Saya ikhlas! kakak paham perasaan tidak bisa di paksakan. Tapi bisa kita tetap menjadi seperti dulu. Dimana kamu menganggap aku seperti kakakmu.
Sejak kamu sama Rian, kamu berubah,Ra. Kamu semakin menjauh dari kakak. oke, kakak paham kamu menjaga perasaan Rian. Tapi itu membuat kakak yakin! Kamu mencintai saya bukan Rian!"
Dira hanya melengos meninggalkan Arjuna sendiri di depan kamar Rian.
"Kamu belepotan sih, sayang."
"Yang, aku mandi saja, ya. Biar segar." Rian merasa tidak enak.
Pasalnya Dira bersikap seperti itu di depan orang di ruang makan. Rian merasa segan pada tamu-tamu di vilanya.
Rian pamit pada tamunya untuk mandi membersihkan diri. Tadi membenarkan beberapa alat mobil, membuatnya terlihat belepotan.
Sementara Arjuna duduk di kursi makan. Delia menyiapkan sepiring nasi untuk calon suaminya. Pandangan Arjuna mengedar ke semua penjuru meja makan. Tampak sebagian mereka asyik dengan gadgetnya.
__ADS_1
"Kita buat permainan yuk! Judulnya tes kejujuran." Arjuna mencoba mencairkan suasana.
"Permainan?" Vira sedikit dengan ide juna.
"Iya. Ini ada botol. Kalau putar nanti harus jawab pertanyaan." Sahut Juna.
"Nanti mainnya, mending kalian makan dulu, deh." potong Dewi.Jun
Sejenak mereka menikmati hidangan yang ada di depan mata. Satria memuji masakan yang dikira buatan mama Dewi.
"Enak banget, tante." Puji Satria.
"Iya, dong ini bukan masakan mama. Tapi buatan kak Dira. Kak emang suka masak akhir-akhir ini. Hasilnya nggak mengecewakan. Lihat kak Juna makannya lahap."
Juna yang disebut namanya menghentikan aktivitasnya. Ada rasa tidak enak saat jadi bahan testimoni. Delia membersihkan bekas makan yang menempel di sekitar kumis milik Arjuna.
Rian muncul setelah selesai membersihkan diri. Wajahnya sudah terlihat segar dan tampan. Dira membuka kursi untuk calon suaminya. Lalu menyodorkan nasi untuk pasangan ikan bakar.
"Yang, cicip dong." Dira menyuapi potongan ikan bakar ke mulut Rian. Dira mengucapkan dengan lantang di depan Delia dan Arjuna.
"Enak, yang?" Dira masih menunggu reaksi Rian.
"Enak banget, yang." Rian mengacungkan jempol kearah Dira.
"Kamu memang calon istri idaman sayang. Pintar masak, sholehah, gadis baik-baik pokoknya sempurna buat kamu.Aku makin cinta sama kamu." Rian melabuhkan kecupan ke kening Dira.
"Ehmmmm... mama masih disini, lo." Sahut mama Dewi.
__ADS_1
Adzan maghrib berkumandang merdu. Menyerukan umat untuk melaksanakan sholat tiga rakaat. Semua yang ada di vila mempersiapkan diri untuk sholat.
.