Sayembara Jodoh

Sayembara Jodoh
BAB 76


__ADS_3

"Assalamualaikum"


Suara salam terdengar dari depan pintu kediaman beraksen Mediterania. Seorang pria datang dengan tujuan menyelesaikan urusannya pada seorang wanita. Dia tidak sendiri, ada kedua orangtuanya, adiknya dan suaminya, mereka datang bersama sekalian bersilaturahmi. Mengingat masih dalam suasana lebaran, hiasan open house yang dipajang di depan rumah masih terpasang.


"Kak, semangat!" Sang adik terus menggoda kakaknya. Dia tahu kalau sang kakak terlihat gugup. Sesekali bibirnya kembang kempis, seakan perasaan itu terus mengganggunya.


"Waalaikumsalam, eeeh, besan, masuk-masuk." ajak mamanya Delia.


"Pa, Delia, Oka, Rayyan, lihat siapa yang datang." tampak wajah para keluarga Shahab berbinar melihat kedatangan mereka.


"Ya Allah besan, aku pikir kalian tidak akan datang kesini lagi." kata tuan Shahab.


Arjuna dan Ayu saling melempar pandang. Bagaimana dia bisa menjelaskan pada keluarga itu tentang tujuannya. Juna berserta keluarga besarnya di tuntun duduk di ruang makan. Mereka di jamu layaknya tamu agung yang dinanti kehadirannya.


"Ayo, nak Juna di cicipi hidangannya. Ini yang masak Delia, Lo. Oh ya, Delia mana?" Tanya nyonya Shahab.


"Ada di kamarnya, nyah. Apa saya panggilkan saja." kata bibi yang bekerja di keluarga Shahab. Wanita yang di perkirakan usia 40-an tersebut berjalan meninggalkan ruang makan.


"Iya, panggilkan. Bilang saja ada Arjuna. Pasti dia senang sekali." sahut mamanya Delia.


"Iya, Nyah." Jawab bibi yang akan menaiki tangga.


Delia baru saja akan keluar dari kamarnya. Kamar yang bertema rapshody tersebut menjadi saksi perjalanan hidupnya. Di mana dia menumpahkan suasana hatinya hanya di kamar itu. Delia memandang seluruh tubuh yang masih singset dengan senyum menggoda.


"Mulai sekarang aku akan memperjuangkan Roger, Delia. Aku akan menikahi kamu agar Roger mendapat orang tua utuh."


"Aku tidak peduli dengan anak itu. Kalau kamu mau mengasuhnya silahkan! Aku tidak melarangnya. Jangan libatkan aku dengan anak haram itu. Paham!"


"Tapi kamu ibunya! Dimana hati dan nurani kamu sebagai seorang ibu!"


"Dia bukan anakku! Aku bukan ibunya! dengar, aku ini Delia Shahab, calon istri Arjuna Bramantyo. Jadi aku akan menikah dengan Arjuna bukan dengan kamu.


Ingat, kalau kamu mau mengacaukan semua. Sebelum kamu melangkah hidupmu sudah hancur terlebih dahulu. Termasuk Roger yang jadi tumbalnya."

__ADS_1


"Dasar iblis betina! Kamu itu bukan manusia. Kamu tidak punya perasaan!"


"Kamu yang buat aku jadi jadi seperti ini Rian. Kamu yang buat masa depanku hancur. Kamu nikahi saja Dira, aku yakin dia akan mau menjadi pengasuh buat Roger."


Delia terkenang pembicaraannya dengan Rian tadi malam. Bagaimana lelaki itu mau memintanya bersatu demi kebahagiaan Roger. Delia tentu saja menolak karena dia masih berharap Arjuna akan menikahinya. Matanya memandang sebuah photo yang berjejer di dinding kamarnya.


Rian.. Rian .. kamu dan juga Dira akan hancur perlahan-lahan. Karena kalian yang buat aku jadi seperti ini.


Kak Juna itu milikku, Dira. Selamanya dia punyaku, kamu tidak lupa kan Dira bagaimana dulu kak Juna mengejarku, meskipun aku selalu menggantungnya. Kamu tidak lupa kan, kalau hidup dan mati keluarga Arjuna ada di tangan papaku.


Delia berjalan menuruni tangga rumahnya. Senyumnya mengembang saat melihat seorang lelaki sedang duduk di meja makan bersama keluarga besarnya. Langkahnya terlihat anggun ketika berjalan menuju meja makan.


"Nah ini dia ratunya sudah datang." sambut mama Delia.


Delia langsung menyalami kedua orangtua Arjuna, dia juga menyalami Ayu dan suaminya, lalu duduk di samping Arjuna. wanita itu menunduk malu-malu saat Arjuna bersikap ramah padanya.


"Jadi bagaimana, nak Arjuna? kapan kalian akan meresmikan hubungan kalian ke jenjang lebih serius. Kamu tahu kan saya tidak suka anak saya diulur terus. Bagi saya, apapun akan saya lakukan demi anak saya. Jadi saya butuh kepastian kapan kamu menikahi Delia."


"Saya rasa justru ini momen yang tepat membahas masalah ini. Saat makan bukannya mempererat hubungan kekeluargaan, apalagi ada calon besan kita, ma. Betulkan Johan?"


"Tapi saya setuju kata istri anda, tuan. Lebih baik kita bahas nanti setelah makan. Bukan karena saya lapar, tapi saya rasa momennya kurang bagus. Itu menurut saya, tuan." Sahut Johan.


Johan melirik kearah Arjuna, jika benar putranya akan membatalkan perjodohan ini. Maka tamatlah riwayatnya, dimana pastinya atasannya akan melakukan tindakan seperti mencabut saham atau modal miliknya. Johan berdoa agar Juna berubah pikiran, meskipun dia merasa mustahil, karena anaknya tetap berpegang teguh pada keinginannya.


Berbeda dengan Johan, Ayu justru mendukung keinginan kakaknya untuk membatalkan rencana perjodohan dengan Delia. Dia sudah banyak mengumpulkan bukti kalau Delia banyak menutupi rahasianya. Salah satunya kebohongan Delia tentang kuliahnya. Kalau saja dari awal Delia jujur, mungkin dia bisa memaklumi, tapi meski sudah di labrak Delia tetap ngotot minta ayu mendekatkan dirinya dengan Arjuna.


Selesai makan bersama mereka berkumpul di ruang santai. Tentu saja di temani dengan bermacam kue-kue kering dan basah sebagai hidangan wajib lebaran. Sambil mencicipi makanan tersebut mamanya Arjuna dan mamanya Delia saling berbagi cerita tentang masa kecilnya anak mereka.


"Juna dulu suka sekali ngumpet di atas pohon kalau dia melakukan kesalahan. Kadang-kadang kita yang cemas takut dia kenapa-kenapa." Mama Juna memulai cerita.


"Hahahaha .. Delia kecil suka main sama anak cowok. Sampai papanya melarang anaknya keluar rumah. mungkin karena di rumah dia biasa main sama kakak-kakaknya. Sampai dia berteman sama ayu, Dira dan Eka, Delia mulai mengurangi main sama anak-anak cowok."


"Nggak terasa, ya. Mereka sudah dewasa, jeng. Perasaan baru kemarin aku berjuang melahirkan Delia, antara hidup dan mati. Mana dia lahir pas delapan bulan akhir pula. saat itu saya cemas takut dia kenapa-kenapa. Kamu tahu, jeng. Papanya yang awalnya jarang dirumah semenjak Delia lahir, jadi jarang kemana-mana kalau diluar urusan kerja." Kenang mama Delia.

__ADS_1


Juna dan Delia duduk di taman belakang rumah milik tuan Shahab. Mereka terdiam sesaat menikmati sejuknya udara menjelang sore. Dua anak manusia yang pernah saling suka, mereka pun sebenarnya tak pernah pacaran hanya menikmati status perjodohan saja.


"Del, aku minta maaf kalau selama ini banyak menyakiti perasaanmu. Aku tahu kalau kamu pasti sangat membenciku saat ini. Tapi maaf, Del, aku tidak bisa melanjutkan tentang kita, aku punya seseorang yang .."


"Masih berharap sama perempuan yang akan menikah dengan orang lain. Kenapa kak? Kenapa wanita itu harus Dira? Apakah aku kurang dimata kak Juna sampai kakak berpaling ke Dira. kalau Dira cinta sama kakak dia pasti memilih kakak daripada Rian. Tapi nyatanya, dia tetap menerima hubungannya dengan Rian."


"Itu karena Dira mengalah demi kamu, Del. Dia tidak pernah menerima perasaanku. Tapi aku benar-benar mencintainya, entah kenapa sejak aku tahu soal surat itu aku semakin mantap mengejar cintanya. Toh, mereka belum sah jadi suami istri. masih bisa usaha, kan?"


Delia yang tadinya menunduk, mengangkat kepalanya dengan cepat.


"surat? maksudnya apa?"


"Bukan kamu yang mengirim surat cinta buatku. Tapi Dira, iya kan? Saat itu aku bahagia sekali membaca surat darimu, setiap kata yang tertulis selalu membuat cintaku semakin kuat. Saat itu aku yakin semakin mencintaimu, tapi ternyata aku salah. Wanita yang kucintai sebenarnya Dira, bukan kamu, Del.


Maafkan aku, Del. tolong lupakan aku. Carilah lelaki yang benar-benar menerimamu apa adanya."


"Kak Juna jahat! Egois! cuma karena hal sepele kakak memutuskan yang terjadi diantara kita.


Hanya demi perempuan yang sudah jelas tidak menerima kakak." Delia lari menangis meninggalkan Arjuna yang masih terpaku di taman belakang.


"Kamu kenapa, nak?" Tuan Shahab melihat putrinya menangis saat masuk ke dalam rumah.


"Kak Juna membatalkan perjodohan itu,pa. Sakit rasanya, aku selama ini sudah setia sama dia. tapi ini balasannya. Dia Jahat,pa! Dia Jahat,pa."


"Kurang ajar! Dia berani menyakiti anakku berarti dia sudah menantangku. Biar papa yang hadapi anak itu."


Tuan Shahab mendatangi Arjuna yang berjalan masuk ke dalam rumah. Raut wajahnya yang terlihat amarahnya, tanpa mengucapkan sepatah kata tangan langsung beraksi.


BUUUUUUGHH!


Tanpa ampun tuan Shabab terus menghujamkan bogemnya ke perut Arjuna. Tampak Arjuna tidak sempat melakukan perlawanan. Beberapa tersungkur tanpa sempat bangun setelah wajah dan perutnya dihantam.


"Berani menyakiti anakku, maka hidupmu tidak akan tenang. Bukan hanya hidupmu, hidup orangtua dan bahkan hidup wanita barumu akan hancur berkeping-keping."

__ADS_1


__ADS_2