Sayembara Jodoh

Sayembara Jodoh
BAB 84


__ADS_3

Ayu masih mencoba menyatukan ketiga sahabatnya untuk berkumpul bersama. Sejak masalah Arjuna, Delia dan Dira, persahabatan mereka jadi renggang, Eka masih berpihak pada Delia yang menuduh Dira sebagai pelakor. Belum lama aku dengar Dira putus sama Rian. Delia katanya sempat drop karena Arjuna lebih memilih Dira, namun ternyata tadi mamanya bilang kakaknya akan di jodohkan dengan perempuan lain karena ditolak Dira.


Ayu hanya ingin ketiga sahabatnya kembali akur seperti dulu. Tadi Eka bersedia kumpul dan akan mengajak Delia. Dira pun bersedia, tapi Ayu tidak bilang kalau Delia juga akan datang. Takutnya, Dira atau Delia menolak datang kalau tahu hal ini.


Ayu ingin sekali menyatukan ketiga sahabatnya, bukan ingin memperkeruh keadaan. Dia cuma semua yang terjadi bisa saling memaafkan.


Sebelum berangkat, ayu harus merayu Tio, suaminya untuk mengantarkan ke cafe langganan. Ayu tahu Tio paling susah kalau diajak bertemu teman-temannya. Paling nanti alasannya males nungguin cewek reuni. Padahal cuma minta antarkan bukan menemani. Meskipun begitu, pada akhirnya Tio tetap mengantar Ayu, dan menemani istrinya sampai teman-temannya datang.


Ayu duduk di cafe menanti ketiga temannya. Sesekali melirik arlojinya, sudah 20 menit dia menunggu tapi belum juga satu dari mereka menampakkan diri. Baru saja dia akan meninggalkan cafe, kakinya terhenti melihat siapa yang datang.


"Aku tahu kamu pasti datang, Del, Ka." Ayu menyambut kedua temannya. Tampak Eka menyalami Ayu, beda dengan Delia yang langsung duduk tanpa merespon si pengundang.


Ayu paham Delia masih marah padanya terkait masalah yang kemarin. Tapi saat ini dia rela mengenyampingkan rasa kesalnya pada Delia, apalagi terkait kebohongan temannya itu.


"Langsung pesan aja, deh." Sahut Delia nada suaranya terdengar ketus.


"Duduk ajalah dulu, Del. Kalian baru saja sampai, ngobrol kek apa kek, memang kalian tidak kangen kumpul kayak gini." Ayu masih mencoba sabar.


"Si pelakor nggak di undang kan, yu. Kalau dia datang mending kami pulang saja." Sahut Eka.


"Memangnya siapa yang suaminya di rebut. Kamu ya, ka?" tanya Ayu.


"Enggaklah, amit-amit jabang bayi!" seloroh Eka.


"Lah terus yang kamu bilang tadi?"


"Sudah, Ka. Dia mah nggak akan peka, dia kan pendukung si pelakor." Sahut Delia.


"Oooo saya paham disini, kalian ngomongin Dira kan?


Del, dia bukan pelakor. Karena dia nggak ngambil suami orang. Kakakku itu belum beristri, paham! Lagian Dira sudah ada Rian."

__ADS_1


"Mereka sudah putus. Rian yang mutusin, karena dia mau tanggung jawab sama ibu yang melahirkan anaknya."


"Uhuuuuk...uhuuuk." Delia merasa minumannya merusak kerongkongan.


"Del,kamu kenapa?" tanya Eka.


"Nggak apa-apa. Cuma tersedak doang." Kelit Delia.


"Jadi Rian pernah punya masa lalu pada seseorang. Ternyata mereka punya anak dan Rian mau yang tanggung jawab. Makanya dia mutusin Dira. Walaupun sebenarnya dia lebih berat ke Dira." Jelas Eka.


"Oh, begitu. Tapi kata kak Juna, Dira mau dijodohkan sama pilihan kakeknya. Makanya dia nolak kak Juna. Dan kakakku juga terlibat perjodohan masa kecil dengan ayah angkat papaku." cerita Ayu sambil menjelit kearah Delia.


Delia hanya terdiam mendengar obrolan antara Eka dan Ayu. Dia malah meladeni obrolan yang dianggapnya tak penting. Tak


berapa lama pesanan mereka sampai. Ayu langsung menawarkan kedua temannya untuk mencicipi hidangan.


"Maaf aku telat." terdengar suara menyapa mereka.


"Kan aku sudah bilang jangan undang si pelakor, kamu masih menghargai kita nggak sih!" amuk Eka.


Dira hanya bisa diam. Saat ini dia hanya dalam posisi tersudut. Ayu menyilaukan Dira duduk di sebelah Eka. Namun, Dira memilih duduk disamping Ayu. Tangan Dira terus membolak-balik. Tatapan tajam terus mengarah ke dirinya. Ayu menggenggam erat tangan Dira. Seakan menguatkan sahabatnya yang mulai kalut. "Ra, are you okay!" Dira mengangguk tanda dia tidak apa-apa.


Keempat sahabat tersebut akhirnya bertemu dalam satu tempat. Sebuah cafe kecil tempat mereka dulu suka berkumpul saat masih sekolah. Tak ada yang berubah dengan suasananya, setelah 11 tahun mereka tak kesana. Hanya saja yang berubah adalah keadaan persahabatan mereka, sudah hancur hanya karena seorang lelaki.


Hari masih menunjukkan terangnya, meskipun sudah jam 3 siang. Dira membuka ponselnya menemukan pesan dari Vira yang menanyakan keberadaan dirinya. Tentu saja Dira memilih mengabaikan pesan itu. Dia tak mau adiknya tahu kalau saat ini sedang satu meja dengan Delia.


Suasana masih terasa tegang. Ayu masih berusaha mendamaikan ketiganya. Namun nampaknya Delia seperti mendapatkan durian runtuh. Dia bercerita selama di London Juna sering meneleponnya, bahkan mengirimkan kata-kata cinta padanya.


"Kak Juna dulu suka sekali mengirimkan pesan-pesan cinta padaku. Dia sangat romantis, kalian tahu, dia bahkan mengirimkan boneka Little poni buat aku." Kenang Delia.


"Iya aku ingat banget saat dia nanya boneka kesukaan kamu apa? tapi aku bilang nggak tahu karena yang aku tahu kamu jarang koleksi boneka." tambah Eka.

__ADS_1


"Jadi little poni itu atas ide siapa?" tanya Delia.


"Ide saya!" Sahut Dira.


Mereka menoleh sinis kearah Dira. Namun tak membuat Dira surut untuk menjelaskan sebenarnya.


"Kenapa kaget? kak Juna memang minta pendapat aku, dan aku menyarankan little poni untuk kamu, Del. Tapi pas kamu pulang kemarin little poni kamu kasih ke Cindy kan? Alasannya kamu nggak suka boneka." Jelas Dira.


"Kamu selalu mengatakan kalau kak Juna sangat mencintaimu, memang dia sangat mencintaimu dulunya, tapi kamu tidak pernah menghargai perasaan kak Juna. Semua barang pemberian kak Juna kamu kasih ke orang lain. Kak Juna sempat kaget saat Cindy bilang kalau boneka kuda poni itu kamu yang kasih.


Jangan playing victim,Del. Aku bisa saja kasih tahu ke mereka soal penyebab aku dan Rian putus. Tapi aku masih mandang baik perempuan itu. Aku sadar nggak mudah menjalani hidup punya anak tanpa suami jadi lebih baik aku merelakan Rian mempertanggungjawabkan perbuatannya." Dira mengambil tas nya meninggalkan teman-temannya.


"Ra, maaf." ayu menyambangi Dira yang sudah di depan parkiran cafe.


"nggak apa-apa, yu. Aku tahu diri kok, mereka masih marah. Tapi maaf kalau aku sudah mengacaukan acara kalian. Aku pulang, yu." Pamit Dira.


Ra," Vira menutup laptopnya saat mendengar namanya di panggil.


Gadis itu berjalan kearah si pemilik suara. Tampak sosok cantik tersebut masuk ke kamarnya dan langsung memeluk guling. Vira langsung membangunkan kakaknya, seakan tidak terima kasurnya dikuasai Dira.


"Kakak ngapain tidur sini! Kamar kakak diatas bukan disini." Usir Vira. Tapi yang diusir tetap tak bergeming. Terdengar suara susutan hidung. Vira tahu kakaknya butuh tempat berbagi. Gadis itu duduk di samping Dira. Tangannya mengelus punggung Dira, seperti seorang ibu yang menenangkan anaknya.


"Are you okay?" Bisik Vira pada kakak perempuannya.


"im not okay!" terdengar isakan di bawah bantal.


"About Juna?" Dira menggeleng.


"Lalu?"


"Aku sepertinya terkena kutukan. bagaimana mungkin setiap dekat sama lelaki aku selalu bermasalah. Dari wawan, terus Rian.."

__ADS_1


__ADS_2