Sayembara Jodoh

Sayembara Jodoh
BAB 63


__ADS_3

"Bisakah kita bertemu?" Dira membaca pesan dari Delia.


"Bisa?"


"Oke, di taman nanti aku sharelock lokasinya." Delia membalas pesan Dira.


"Baik."


Dira menutup percakapannya dengan Delia. Helaan nafas panjang terdengar berat dari rongga mulutnya. Di depannya ada beberapa file yang harus di selesaikan. Tapi entah kenapa pikirannya bercabang.


Kenapa Delia minta bertemu denganku? Apa ini ada urusannya dengan kak Juna lagi? Ya Allah aku sudah ikhlas kalau kak Juna sama Delia. Lagian kami memang tidak ada hubungan apapun. Tapi kenapa masih saja aku tersangkut masalah mereka.


"Assalamualaikum" Suara bariton terdengar di pintu ruang kerjanya.


Tampak Rian datang sambil membawa Roger. Dira kaget melihat sosok kecil yang di gendong calon suaminya.


"Ini siapa sayang?"


"Ini Roger Snowden. Anak temanku, papanya sedang dirawat jadi dia dititipkan sama aku. Anaknya anteng nggak rewelan. Kamu tahu, saat aku membawa Roger ke rumah, mama dan papa bahagia sekali, seakan kedatangannya sebagai penerang di rumah." Jawab Rian dengan semangat.


"Ya, Allah lucunya kamu, nak." Dira mencowel pipi Roger karena gemes.


"Sini sama aunty" Tubuh Roger berpindah dari tubuh Rian ke pangkuan Dira.


Beberapa saat Roger tampak tenang dalam gendongan Dira. Namun, tak berapa lama Roger pun akhirnya menangis ingin di dekat Rian.


Bayi berusia 22 bulan tersebut terus melengkung bibirnya menatap Rian.


"pa...pa..." Sahutnya pada Rian.


"Kok dia manggil kamu papa?" tanya Dira.

__ADS_1


"Dia kan belum paham, sayang. Dia baru bisa bilang papa dan mama. Setiap wanita yang dilihatnya di panggil mama. Begitu juga kalau bertemu lelaki yang dilihatnya."


"Kayaknya dia tidak nyaman di dekatku."


"Dia hanya belum terbiasa sama kamu, Ra. Oh, ya kamu sibuk tidak hari ini. Aku mau ajak kamu jalan-jalan bareng Roger."


"Aku ada janji dengan Delia."


Rian mengerutkan dahinya mendengar nama Delia. Entah kenapa darahnya sedikit berdesir ketika mendengar nama itu.


"Aku temani,ya. Aku takut Delia macam- macam sama kamu."


"Oke, kamu juga ikut. Sekalian kita ajak Roger jalan-jalan. Sumpah anak temanmu tampan sekali. Dia lebih mirip sama kamu." Puji Dira menowel pipi Roger.


Rian hanya tersenyum mendengar pujian Dira pada Roger. Entah kenapa dia selalu senang jika ada memuji Roger, seperti ayah yang bangga pada anaknya.


Rian,.Dira dan Roger sudah duduk manis di dalam mobil. Suara Dira yang terus menghibur Roger, membuat Rian senang. Tadinya dia takut Dira berpikir macam-macam saat membawa Roger.


Mobil melaju menuju sebuah taman kecil di sudut kota Jakarta. Layaknya keluarga kecil, mereka melenggang memasuki arena permainan anak-anak. Dira mengedarkan pandangannya ke arah sekeliling taman. Seperti janjiannya hari ini dengan Delia.


"Lucu, ya. Dia dekat sama anak orang tapi tidak pernah peduli dengan calon bayinya sendiri. Ups, aku lupa kalau dia tidak tahu dengan kehamilanku. Tapi bagus sih, lagian aku bisa melanjutkan hubunganku dengan kak Juna." Batin Delia.


Delia sejenak merasakan getaran di kantong celananya. Lalu menempelkan benda pipih tersebut ke daun telinganya.


"Jadi kalian sudah menemukan keberadaan kak Arjuna.Bagus! Pantau terus." Delia mengakhiri teleponnya.


"Mau kamu ngumpet ke ujung dunia pun tidak akan bisa lari dariku. Kamu lupa dengan siapa berhadapan." Ucap Delia dengan liciknya.


Dira mendekati Delia yang berdiri memandangi Rian dan Roger. Entah kenapa sejak di vila Dira beberapa kali memergoki Delia dan Rian bicara seakan sudah saling kenal. Namun pikiran itu di hempasnya. Dia tahu Delia dan Rian punya sifat yang sama. Gampang akrab dengan orang lain.


"Delia," Sapa Dira saat berada disamping sahabatnya.

__ADS_1


"Duduk, Ra." Mereka melabuhkan bokongnya di kursi panjang area taman.


"Sebenarnya ada apa kamu ingin menemuiku?''Tanya Dira.


"Ra, sejak kapan kalian seperti ini di belakangku?" Tanya Delia.


"Di belakangmu?" Dira menaikan alisnya.


"Iya, sejak kapan? Kalian memiliki hubungan di belakangku. Kenapa kamu tega menikungku dari belakangan. kenapa, Ra? Kita ini sahabat, sejak kecil sudah tumbuh bersama. Kamu tahu aku mencintai kak Juna, kamu juga tahu kak Juna mencintaiku. Tapi kenapa kamu tega merebut kak Juna dari aku."


"Bukan aku yang merebut kak Juna. Tapi kamu yang buat kak Juna berpaling. Kamu tidak lupa, del. Satu tahun lebih tanpa kabar, saat itu kak Juna ingin menyatakan keseriusannya padamu, tapi dia merasa kamu mengabaikannya. Sekarang kamu menyalahkan aku. Aku juga tidak pernah menerima apapun dari kak Juna, tidak pernah dengan hadiah, ataupun menyambut perasaannya. Meskipun .."


"Meskipun kamu memang dari dulu punya rasa sama dia. Iya, kan, Ra,. kamu memanfaatkan renggangnya kami dengan masuk ke kehidupannya. Kamu mencari kesempatan saat kami sedang berjauhan. jahat kamu,Ra. Kurang baik apa keluargaku pada kalian sehingga ini balasannya."


"Del,"


Delia menunduk lemas seketika ingatannya beralih saat Juna pingsan di depan pintu rumahnya. Dalam keadaan tidak sadar lelaki itu memanggil nama Dira. Iya dalam keadaan itu hanya Dira yang diingat Juna. Delia hanya bisa menahan perih kala itu.


"Ra, aku mohon sama kamu. Tolong jangan rusak hubungan kami yang sudah dibina bertahun-tahun. Kamu tahu berapa lama kami saling kucing-kucingan di belakang papaku. Kadang aku iri,Ra. Lihat ayu sama Tio berduaan, lihat Eka sama Wandi makin lengket. Sedangkan aku, hanya saling berkirim kabar tanpa pernah merasakan duduk berduaan dengan Arjuna."


"lalu kenapa kamu menolak pernyataan cinta kak Juna saat kamu mau berangkat ke London. Kamu tahu saat itu kak Juna down banget. Seakan separuh hati-nya hilang. Saat itu aku sering melihat kak Juna melamun di balkon. Tapi tidak berlangsung lama. Setelah dia dapat kabar kalau kalian akan dijodohkan wajahnya sumringah lagi.


Sejak itu kak Juna jarang bersantai di balkon. Hingga saat dalam satu tahun lebih kamu tanpa kabar, dia mulai down lagi. Sejak itu aku dan kak Juna akrab. Hingga ..."


"Sekarang kalau kamu mau memperbaiki hubungan kalian masih ada kesempatan, Del. Aku juga nggak akan mungkin menerima cinta kekasih sahabatku. Bukankah aku sudah punya Rian." Dira berdiri di hadapan Delia.


"Ra, terimakasih. Kamu mau melepaskan kak Juna, terimakasih, Dira. Kamu tahu aku tidak bisa hidup tanpa Arjuna. Aku sangat mencintainya, Ra. Aku janji tidak akan membuatnya kecewa lagi." Delia memeluk Dira dengan erat.


Kenapa rasanya sakit sekali ya Allah.


Tolong bantu aku untuk mengikhlaskan semua ini.

__ADS_1


Dira berjalan menjauhi Delia dari bangku taman. Rasanya dirinya sudah benar melepaskan Arjuna untuk Delia.


Karena kak Juna memang untuk Delia bukan untukku.


__ADS_2