
Yasmin dan Arumi duduk di ruang makan. Yasmin ingin mengenal seperti apa calon menantunya. Maka dari itu dia meminta izin pada Arumi mengajak Rian jalan-jalan sebagai pendekatan mertua dan menantu. Arumi pun mengizinkan.
Jalan kota Jakarta basah di guyur hujan. Tampak beberapa bangunan metropolis seperti mall, rumah makan, dan gedung lainnya.
"Rian, apa kamu mencintai Delia?" tanya Yasmin sambil memandang guratan wajah tampan anak muda di sampingnya.
"Saya mencintai Delia, Tante."
"Bukan karena sekedar bertanggungjawab untuk Roger."
"Tidak, Tante."
"Maaf Rian kalau Tante bertanya hal ini. Saya takut Delia kembali di kecewakan. Sebagai seorang ibu, Tante cuma ingin Delia bahagia pada lelaki yang tepat. Tante tidak akan melihat lelaki itu dari sudut harta, asalkan dia bisa menerima keadaan Delia saat ini, menerima status ekonomi Delia sekarang."
"Tante percaya sama saya. Saya memang awalnya menerima Delia karena status Roger. Tapi sekarang saya menerima Delia karena hati saya terarah sama dia. Kalau Tante bilang soal keadaan Delia, sayalah yang buat Delia seperti itu. Saya minta maaf kalau dulu tidak peka dengan apa yang terjadi selanjutnya dengan Delia.
Maka izinkanlah saya untuk mempertanggungjawabkan apa yang saya perbuat pada Delia dulu. Izinkan saya untuk membahagiakan Delia apa pun keadaan dan status ekonominya."
"Terimakasih, nak. Tentu saja Tante akan restui jika memang Delia juga menghendaki pernikahan ini."
Rian langsung mencium tangan Yasmin sebagai tanda hormat pada calon mertuanya. Ada rasa haru menyelinap dalam hatinya. Dia akhirnya menerima restu dari mama Delia.
"Kamu mau ikut saya?" tanya Yasmin setelah mereka duduk kembali ke dalam mobil.
"Kemana, Tante?"
"Rian karena kamu akan menikah dengan anak saya. Kamu jangan panggil saya tante lagi, panggil saya mama Yasmin."
"Iya, mama Yasmin." jawab Rian terbata-bata.
Andre yang mendengar ucapan antara calon menantu dan mertua pun sedikit terharu. Dia seperti merindukan kehangatan keluarga. Rian melihat raut wajah sopirnya mencoba berkomunikasi.
"Pak Andre kenapa?"
__ADS_1
"Saya nggak apa-apa, den." suara pak Andre terdengar gugup.
"Pak Andre mau ketemu sama anak-anak? saya bisa antar bapak kesana."
"Saya belum berani, den. Mereka pasti masih marah sama saya."
"Pak, bukankah setiap manusia pasti di beri kesempatan untuk bertobat. Tuhan tidak akan menguji hambanya di luar kemampuan. Saya tahu bapak sudah tobat, dan itu sudah menjadi modal untuk menemui mereka."
"Maaf Andre saya ikut campur, tapi maaf kalau saya di posisi Dewi akan susah memaafkan, kamu menghancurkan perusahaan dengan judimu, kamu juga hampir melecehkan putri bungsumu, usianya Vira saat itu belum tahu apa-apa. Susah sih, itu menurut saya."
"Saya sadar itu, Yasmin. Makanya saya sudah tidak punya muka untuk menemui mereka."
"Sabar pak Andre. Akan ada masanya mereka memaafkan ayahnya. Apalagi bapak sudah menyumbangkan darah pada Dira. Itu saja sudah termasuk pengorbanan anda demi keselamatan anak." Rian menepuk pundak Pak Andre.
"Terimakasih, den."
Perbuatan dosa, baik besar maupun kecil, merupakan sebab utama kesengsaraan manusia. Dosa itu berdampak negatif pada diri pelakunya; keresahan, keterpurukan, bahaya kesehatan, akal, dan pekerjaan. Dampak lain berupa menghilangnya rasa persatuan, keguncangan maupun keributan pada masyarakat.Panggilan bertaubat sering dikumandangkan, hanya soal indera pendengaran saja yang bermasalah. Mendengar tetapi tidak fokus pada inti yang disampaikan. Mungkin bisa saja mendengar, tetapi menerima panggilan tersebut adalah soal lain.
Mereka tiba di sebuah tempat dimana akan ada seseorang yang menunggunya. Rian menghela nafas sejenak, seketika dia mendapat suntikan kesegaran saat masuk ke tempat itu. Sampai disana Delia sudah berdiri di dekat ruang pemeriksaan. Bukan karena dia terjerat kasus melainkan menunggu mama dan calon suaminya. Wanita itu menyambut keduanya dengan senyuman khasnya. Dia pun menyalami mama dan calon suaminya.
"Kamu sudah lama sampai?" tanya Rian.
"Belum lama, sih. Cuma nggak enak duduk disini." Delia memberi sinyal salah satu oknum polisi terus memperhatikannya.
"Oh, dapat penggemar ceritanya."goda Rian.
"Alhamdulillah masih ada fans, dia lebih ganteng dari kamu. Lumayan buat cadangan papa baru untuk Roger." Delia terkikik melihat pelototan dari Rian.
"Yakin, dia bisa bikin anak yang lebih ganteng dari Roger?"
"Aaaaawwww ..." Rian meringis akibat cubitan Delia.
"Lihat dia makin terpesona sama aku."
__ADS_1
"Maaf, pak. Istri saya jangan dilihatin terus." Rian mendatangi polisi muda tersebut.
"Owh, maaf, mas. Istrinya cantik mirip Syifa hadju. Sudah punya anak, mas?"
"Sudah dapat jagoan umurnya dua tahun." jawab Rian percaya diri.
Mereka melangkah ke ruang jenguk tahanan. Masih menunggu kedatangan Abdullah Shahab, mereka memilih duduk di kursi yang sudah di sediakan.
"Pa," Delia memeluk papanya dengan penuh haru. Setelah kasur pencambukan dia belum ada bertemu dengan papanya. Ini pertama sejak pulang dari rumah sakit dia bertemu papanya.
"Kamu apa kabar, Del?" suara tuan Shahab terdengar serak.
"Alhamdulillah baik, Pa. Papa apa kabar? kenapa kurus sekali. Papa sehat-sehat saja,kan." Delia menatap pilu kondisi papanya.
Lelaki usia 50-an tetap terdiam saat Delia memegang lekuk wajahnya.
"Alhamdulillah, papa baik, nak. Maafin papa ya, nak. Atas yang terjadi waktu itu."
Delia menggeleng "Tidak, pa. Delia yang salah. Karena sudah mencoreng nama keluarga. Delia sadar sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga. Delia minta maaf belum bisa membanggakan mama dan papa." isaknya.
"Om eh papa," Rian ikut bersuara.
"Saya juga minta maaf karena tidak peka dengan yang dialami Delia. Saya hanya manusia yang penuh khilaf dan dosa. Tapi om percayakan Delia sama saya, insyaallah saya akan membuat dia bahagia."
Tuan Shabab masih terdiam. Tak ada raut wajahnya terlihat sedih ataupun senang. Datar-datar saja. Delia menganggapnya reaksi papanya termasuk tidak setuju dengan Rian. Delia memegang tangan sang papa. Wanita itu memegang kedua pipi papanya dengan intens.
"Papa tolong restui kami. Delia yakin akan bahagia bersama Rian, apalagi kami punya anak. Papa pernah bilang kan, tidak punya orangtua lengkap itu nggak enak.
Bukankah papa dan saudara papa yang lain tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu. Papa mau cucunya seperti itu. Delia tidak akan membiarkan Roger tumbuh tanpa orangtua lengkap."
Tuan Shahab memandang keduanya secara bergantian. Lelaki itu berjalan menuju Rian, langkahnya terlihat gontai. Lama dia memandang Rian, lalu memeluk dengan erat.
"Papa, titip Delia. Tolong didik dia menjadi istri yang baik. Maafkan saya atas yang pernah saya lakukan sama kamu Rian. Dan maaf, saya tidak bisa menjadi wali nikah Delia. Karena nasab Delia ada pada ibunya."
__ADS_1