
Sebelum datang ke lamaran Dira
Setelah bersitegang dengan Ayu tentang kenekatannya menemui Tuan Shahab. Juna akhirnya tetap memutuskan mendatangi calon mertuanya. Dia yakin jika dibicarakan baik-baik Tuan Shahab akan mengerti.
Mobil melaju menuju daerah menteng. Juna melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Dia bisa saja membawanya dengan kencang. Sekencang perasaannya mendengar Dira akan di lamar dengan lelaki lain.
Pada akhirnya mobilnya memasuki deretan perumahan elit, namun ada satu rumah yang aksennya mencolok dari perumahan lainnya. Yaitu, sebuaj rumah mewah bergaya mediterania.
Juna mengklakson mobil menandakan kedatangannya. Seorang satpam berlari memencet tombol di dekat pagar. Tak lama pagar tersebut terbuka dengan otomatis. Juna melambai tangan pada pak satpam, lambaian pun di balas tanda mereka sudah saling mengenal.
Juna turun dari mobilnya, dia sedikit berdoa agar diberi kekuatana dan kelancaran misinya. Entah kenapa dia semakin mantap membatalkan perjodohan tersebut. Dan itu hanya demi mengejar cinta Dira.
Gadis yang mulai dicintai satu tahun terakhir ini. Dia mencintai bukan sebagai pelarian karena Delia tanpa kabar. Perasaan itu tumbuh dengan sendirinya seiring dengan waktu. Pelan tapi pasti cinta tumbuh karena seringnya bersama.
Saat Delia pulang, Juna mencoba melupakan perasaannya dengan Delia. Namun ternyata dia salah, perasaan cintanya semakin berkembang. Itu yang membuatnya semakin mantap mengejar cinta Dira.
Juna berjalan memasuki kediaman milik keluarga Shahab. Beberapa saat kakinya terdiam, terngiang ucapan adiknya agar tidak gegabah dalam bertindak. Juna memberanikan diri memencet bel rumah, tapi belum ada sambutan.
Ceklek
Sosok cantik bergaun borkat merah berdiri di hadapan. Sosok itu membuat Juna tersihir seketika. Lelaki itu tak munafik bahwa pesona Delia tak pernah pudar di matanya. Meskipun begitu, Juna merasa sedikit bersalah pada Delia karena akan memutuskan perjodohan mereka.
"Kak!"
Suara lembut itu membuyarkan lamunan Juna pada Delia. Masih berdiri di depan pintu rumah, Delia mengajak Juna di duduk di kursi teras depan.
"Kamu cantik sekali, Del." Ucapnya masih dalam mode takjub.
"Kak Juna mau jemput aku, ya? Padahal tadinya aku yang mau samperin kakak di rumah."
"Aku mau ketemu papamu. Apakah beliau ada?"
"Ada. Lagi di ruang kerjanya, tadi dia dapat laporan kalau ada yang berniat jahat di perkebunan. Emang ada apa kak Juna cari papa?"
"Ada urusan sedikit. Tapi kayaknya bukan momen yang tepat."
"Iya, kak bukan momen yang pas. Pikiran papa lagi kusut. Kak Juna mau kan temenin aku ke lamaran Dira. Kayaknya kita bakal di langkah sama Dira. Kita saja baru mau tunangan belum lamaran, lah Dira langsung lamaran. Kata Eka mereka mau langsung menentukan tanggal pernikahan gitu."
Juna terdiam sesaat mendengar cerita Delia. Dia merasa serba salah ketika melihat Delia sangat berharap dengan perjodohan ini. Seketika Juna merasa ditampar langsung. Egoiskah dirinya jika membatalkan perjodohan tersebut? Tapi bagaimana dengan cintanya pada Dira? Sementara wanita yang dia perjuangkan akan melenggang ke pelaminan bersama lelaki lain.
"Kak!"
Juna terkesiap saat Delia mengejutkan dirinya. Lelaki itu membuka pintu mobil mempersilakan Delia duduk di sampingnya. Keduanya pun sudah berada di dalam mobil. Juna sesekali memandang gadis disampingnya. Delia membalas tatapan calon suaminya, mereka saling menyunggingkan senyum. Tangan Delia bertumpu di atas jemari milik Juna. Namun, seketika Juna menggeser tangan dari genggaman Delia.
"Kakak kenapa?" Tanya Delia tanpa menatap lelaki di sampingnya.
__ADS_1
"Kenapa apanya, Del?"
"Kakak akhir-akhir ini berubah sejak berhenti dari kantornya Dira. Tadinya aku maklum dan berpikir kakak sedang pusing cari kerja. Tapi, aku merasa hubungan kita merenggang sejak kakak resign dari sana. Kak Juna kalau ada masalah cerita sama aku, kita kan sebentar lagi akan berumah tangga. Jadi harus saling terbuka? Aku rindu kak Juna yang dulu."
Maafkan aku Delia, mungkin aku lelaki egois karena akan membuatmu kecewa dan sakit hati. Tapi entah kenapa hatiku saat ini tidak lagi terarah kepadamu. Kamu boleh mengatakan aku jahat! Karena memang aku jahat buat kamu.
Jika suatu saat aku jujur sama kamu. Aku harap kamu tidak merusak tali persahabatan kalian yang sudah terbina sejak kecil.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Keduanya hanya terdiam tanpa sepatah kata. Masing-masing tenggelam dalam pikirannya sendiri.
"Kak ... Aku boleh nanya?" Delia kembali membuka pembicaraan.
"Iya, silahkan."
"Kakak masih ingat surat cinta yang aku kasih ke kak Juna dulu."
"Masih. Bahkan barangnya masih aku simpan. Emang kenapa?"
"Nggak papa, kak. Aku cuma nanya saja."
Maafkan aku kak Juna, surat cinta yang kakak terima selama ini bukan dari aku. Tapi punya Dira.
"Del, sejak kamu pulang. Kamu belum jelaskan pada saya,kenapa kamu tidak memberi kabar selama satu tahun? Kenapa kamu seperti menyimpan sebuah rahasia padaku? kamu sendiri yang bilang harus ada keterbukaan diantara kita."
"Bukannya aku sudah bilang sama kakak kalau aku kerja. Makanya tidak bisa menghubungi kak Juna. Jangankan kak Juna, keluargaku saja tidak aku kabari. Aku sedang mencoba mandiri, kak. Kalau mama dan papa tahu mereka pasti mengerahkan koneksinya untuk mempermudah urusanku. Aku nggak mau yang seperti itu.
Maafkan aku kak Juna, aku terpaksa berbohong sama kamu.
Aku tidak bisa jujur dengan keadaanku sekarang.
Aku takut kakak akan membenciku setelah tahu yang sebenarnya.
Klik
Di kediamanan Anca
Rian berdiri mematut dirinya di depan kaca kamarnya. Tubuhnya yang atletis di tutupi dengan kemeja batik dan celana dasar. Senyumnya mengembang ketika membayangkan sosok cantik yang ada dalam pikirannya. Namun, senyumnya terhenti ketika wajah seorang wanita lain kembali menari dalam ingatan.
Aku harus melupakan Delia. Dia tak ada kabar sampai saat ini. Bagaimanakah keadaannya setelah kejadian malam itu, toh dia yang menjebakku, bukan aku yang membuatnya seperti itu. Dimana-mana perempuan yang bergaul dengan Alex tidak ada yang benar.
Dia juga tidak menemuiku setelah kejadian malam itu. Kalau memang dia hamil, kenapa tidak mendatangiku? Itu tandanya tidak terjadi sesuatu padanya.
Rian berjalan meninggalkan kamarnya. Tampak kedua orangtuanya menunggu di ruang utama. Suasana kediaman Anca penuh haru. Dimana putranya akan melamar pujaan hati melenggang ke hubungan yang lebih serius yaitu pernikahan.
Anca berjalan mendekati putra tunggalnya. Terlintas di ingatannya saat sang anak lahir setelah kakak kembarnya meninggal di dalam kandungan. Seperti keajaiban saat dokter bilang salah satu janin di perut istrinya bertahan hidup. Maka saat itu, Arumi harus dioperasi padahal masih 8 bulan.
__ADS_1
Dan sekarang
Putranya tumbuh menjadi sosok tampan dan berkepribadian baik. Anca dan Arumi mendidik Rian untuk menjadi lelaki yang bertanggung jawab. Soal percintaan, Anca tidak pernah mengekang anaknya. Dia selalu menekankan pada Rian agar bertanggung jawab pada pilihannya.
"Pa." Suara bariton muda mengagetkan lamunannya.
"Rian, kamu gagah sekali, nak" Puji Arumi pada putra semata wayangnya.
"Iya, dong, ma. Turunan siapa dulu" Sahut Anca tidak mau kalah saing.
"Ih, papa nggak mau kalah sama anak."
"Ya, kan like father like son, ma." Anca masih percaya diri.
"Sudah, mama, papa, kita berangkat yuk" Ajak Rian, mengingat waktu terus berjalan.
"Pak Andre sudah siap mobilnya?" Tanya Rian pada sopirnya.
Pak Andre langsung mempersilahkan majikannya memasuki mobil.
"Pak Andre habis nangis?" Tanya Anca melihat wajah Andre yang sembab.
"Saya teringat sama anak-anak saya, pak. Yang besar usianya sekitar 29 tahun, anak saya 3 semuanya sudah dewasa." Cerita pak Andre.
"Kalau rindu sama mereka saya izinkan kamu pulang kampung. Menemui mereka, saya yakin mereka juga rindu sama ayahnya."
Pak Andre menunduk. Dia malu pulang ataupun menemui mantan istrinya. Setelah kesalahan fatal dan jadi bahan amukan putra pertamanya.
*
*
*
*
Segini dulu, ya.
Tetap terus pantengin cerita ini.
Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpa kalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.
Jangan lupa likenya
Jangan lupa komennya juga rate
__ADS_1
Kalau berkenan bantu vote dan hadiah
Bersambung