Sayembara Jodoh

Sayembara Jodoh
BAB 85


__ADS_3

Ayu cukup kaget mendengar Dira menerima perjodohan dari kakeknya. Dia bingung mau cerita kepada siapa. Karena sejak kecil dia tak terbiasa dengan Arjuna. Memang sejak kecil Ayu merasakan kasih sayang mama dan papa lebih banyak ke Arjuna daripada dirinya.


Arjuna ganteng, memang. Dia saja kadang minder jalan sama kakaknya. Semua orang fokus ke sang kakak daripada dirinya. Seperti slogan yang sering dia dengar "Semua mata tertuju kepadamu." Itu yang dirinya rasakan saat berjalan bersama Arjuna. Dulu saat SD banyak kakak-kakak cantik mendatanginya hanya untuk merebut hati sang kakak. Ayu saja sampai bosan meladeni teman-teman putih biru kakaknya. Hanya saja sejak Arjuna jatuh cinta sama Delia, Ayu mulai merasa tenang.


Barusan aku melihat Dira masuk ke butik dalam sebuah pusat perbelanjaan. Ayu sempat ingin mengobrol banyak dengan Dira. Terkait urusan dengan sang kakak, Arjuna. Belakang Ayu memergoki kakaknya melamun di teras rumah. Sejak soal reuni beberapa hari yang lalu, Ayu merasa Dira jaga jarak dengan dirinya. Apa Dira marah pada dirinya, entahlah ayu enggan berpikir panjang.


Ayu paham kalau selama ini Dira sudah berusaha menjaga jarak dengan Arjuna. Memikirkan perasaan Delia. Maka itu Ayu yakin kalau sebenarnya Dira punya perasaan pada Arjuna. Hanya saja dia memilih memendam dalam hati, sejauh itu penilaian Ayu pada Dira. Tapi salah satu pemicu beratnya adalah papa Johan. Ayu tahu kalau papanya masih berat menerima Dira sebagai wanita pilihan Arjuna. Tapi namanya hati kita tidak bisa menebak kapan datangnya.


Sama saat Ayu mau dijodohkan dengan Rayyan, kakaknya Delia. Ayu tidak menolak tapi Rayyan yang menolak dirinya. Tuan Shahab saat itu murka, tapi ya balik lagi ke mereka. Ayu malas mengemis agar di terima. Dia membiarkan Rayyan tidak memilihnya. Pada akhirnya Ayu kembali di pertemukan sama Tio, mantan pacarnya waktu SMA. Sekarang Tio pun sudah menjadi suaminya. Mereka pun hidup bahagia, meskipun Ayu tinggal bersama mertuanya.


Ayu menghentikan langkahnya ketika mendapati Dira menyapanya ala kadarnya. Bukan ceria seperti biasanya.


"Aku merindukan kita yang dulu,Ra, Del, ka. Kenapa persahabatan kita jadi seperti ini."


Begitu juga dengan Delia, temannya yang satu itu juga menjaga jarak dengan Ayu. Dia paham perasaan Delia masih sakit hati perihal pembatalan perjodohan. Apalagi ini menyangkut persahabatan mereka. Tapi Ayu tidak bisa berbuat apa-apa. Ini semua pangkal masalahnya adalah sang kakak. Kakaknya yang tidak tegas sejak awal. Sejak masalah antara Dira dan Delia, Arjuna lebih banyak diam. Ketimbang Arjuna yang biasanya ceria.


Pagi ini Ayu mendatangi kontrakan Arjuna. banyak hal yang ingin dia bicarakan dengan sang kakak. Termasuk acara pertemuan keluarga cucu opa Han.


"Kak,"


Mungkin dia kaget ketika Ayu menemukan kontrakannya. Padahal sejak awal Juna memilih mandiri belum ada memberitahukan dimana tempat tinggalnya. Tapi saat ini adiknya sudah berdiri di depan pintu rumah Jamal. Juna mempersilahkan adiknya duduk di ruang tamu.


"Eh, ada tamu." Jamal muncul dari dalam kamarnya.


"Kenalin ini adik saya, Ayu namanya. Ayu ini Jamal, yang sudah kasih kakak tumpangan disini."


"Cakep adeknya," Bisik Jamal.


"Bini orang," Jawab Juna.


"Aduh, ketinggalan lagi." Jamal menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Mas, mbak saya duluan, ya. Soalnya mau kerja."Pamit Jamal.


Sepeninggalan Jamal, Ayu dan Juna pun kembali asyik dengan pertemuan mereka. Mata ayu mengedar ke sekeliling. Memperhatikan dengan seksama sudut ruangan tempat mereka bersama. Lama dia berpikir apakah kakaknya bisa betah di tempat seperti ini. Dia pun masih dikuasai rasa heran dengan keinginan kakaknya untuk mandiri. Padahal kalau mau cari kerja di tempat lain kan bisa tinggal dirumah. Bisa berangkat kerja dari rumah. Bukan jauh dari keluarga.


"Ayu,"


"Iya, kak."


"Kamu ada apa, pagi-pagi kesini?"


"Nggak ada, kak. Aku pengen ngobrol sama kakak."


"Tapi aku mau berangkat kerja, yu."


"Duh, calon menantu bos harus disiplin juga ya?"

__ADS_1


"Calon mantu apaan?"


" Ya kan kakak mau dijodohkan sama cucunya bos. Otomatis kakak akan diwariskan perusahaan milik atasan kak Juna."


"Pikiranmu kejauhan, yu. Ya kalau cewek itu mau sama aku. Kalau nggak ..."


"Bukannya ceweknya sudah setuju? semalam pak Burhan kerumah membicarakan soal kalian. Kata pak Burhan hari sabtu akan ada pertemuan keluarga. Itu tandanya calon kakak mau sama kak Juna."


"Semoga."


"Yaudah, kakak mau kerja kan? biar aku antar. Mumpung aku bawa mobil."


Juna dan Ayu masuk kedalam mobil. Kali ini Ayu yang menyetir sedangkan Juna duduk disamping sopir "Kamu sepertinya sudah lancar bawa mobilnya."


"Lumayan, kak. Untung mas Tio sabar ngajarin aku."


"Kamu beruntung punya suami kayak Tio."


"Alhamdulillah kak. Mas Tio sabar banget ngadepin aku, kayak ayah yang menghadapi anaknya yang bandel."


Sesampai di kantor, Juna dan Ayu berpisah. Ayu mengeluhkan lokasi tempat kerja kakaknya yang lumayan jauh. Dengan gaya khasnya Ayu meledek kakaknya demi kebucinan yang dirasakan Juna. Hanya saja Juna menimpali ledekan Ayu dengan candaan "Kamu harus sabar, yu. Inilah resikonya punah kakak ganteng." Ayu tertawa mendengar ucapan Juna.


Setelah mereka berpisah, Juna memasuki pelataran pabrik tempat dia bekerja. Netranya beralih saat seorang pria asyik mengobrol dengan atasannya. Dia mengenal pria itu dengan baik. Juna berencana menyapa pria itu namun diurungkannya. Dia memilih fokus bekerja, Juna memeriksa gudang pabrik. Dia menemukan beberapa trouble saat memeriksa gudang tersebut.


"Pak, Dono," panggil Juna.


"Maaf, ini kenapa tebu-nya seperti ini. Kan nanti susah diproduksi."


"Maaf, mas Juna saya kurang paham soal itu. Lebih baik mas Juna tanyakan sama Ical. Dia yang kemarin mengangkut tebu ini ke gudang."


"Oh yasudah, pak. Maaf kalau aku mengganggu pekerjaan bapak." Juna merasa tidak enak pada pak Dono.


"Nggak apa-apa, mas Juna. Saya ngerti." Pak Dono pun berlalu dari hadapan Juna.


Juna pun mendatangi ruang kantor milik pak Burhan. Dia mengadukan apa yang dia temui di gudang barusan. Menurutnya tebu yang sudah tua tidak bisa menghasilkan gula lagi. Intensitas airnya pun hanya sedikit. Sesekali menghembuskan nafasnya dengan pelan. Tampak pak Burhan berjalan menuju ruang kerjanya.


"Ada apa, Juna?"


"Maaf, pak saya lancang. Tapi bisakah bapak ikut dengan saya ke gudang. Ada yang ingin saya perlihatkan."


"Oke, sebentar. Oh ya, tadi ada dari perusahaan PUTRA NUSA menawarkan kerjasama. Saya minta kamu yang akan mempersentasikan produk kita disana. Bisa?"


"Aduh, pak. Jangan saya, saya nggak punya pengalaman ..."


"Bukankah kamu mantan manajer. Pasti bisalah. Pokoknya saya percaya sama kamu."


"Okelah, akan saya coba. Kapan pak?"

__ADS_1


"Hari ini!" Ucap pak Burhan mantap.


"Haaa .. pak saya saja belum punya bahannya. Bagaimana saya bisa mempersentasikan program kita?"


"Saya ada bahannya. Sudah saya persiapkan, kamu tinggal persentasi."


klik


Dira duduk di depan laptopnya. Memeriksa beberapa berkas untuk persentasi nanti. Ada program kerjasama dengan perusahaan Opa Han. Dira mendengar ada utusan dari perusahaan yang akan mewakili. Helaan nafas beratnya terdengar pelan. Tangannya masih mengetik untuk ikut mempersentasikan program kerjasama mereka.


"Ra," terdengar suara kakaknya memanggil. Dira yakin pasti tamu itu sudah datang. Setelah membereskan beberapa barang di mejanya, Dira pun keluar dari ruang kerjanya.


"Sabar sedikit kenapa, sih? orangnya saja belum datang." Goda Feri.


"Bukan nggak sabaran. Tapi memang kerjaanku sudah selesai. Tadi kenapa kakak manggil aku?"


"Mau ngingetin kamu soal rapat tadi. Takutnya kamu lupa, oh ya nanti setelah persentasi selesai. Kita undang utusan opa untuk makan siang, bagaimana?"


"Terserah kakak aja deh!" sahut Dira.


menampakkan tampang jengahnya."


Dira sudah mempersiapkan bahan persentasi. Mama Dewi pun turut hadir memimpin untuk meeting tersebut. Dira duduk disamping mamanya dan Feri. Apalagi dia yang di minta ikut persentasi dengan kliennya.


"Assalamualaikum," terdengar suara menyapa di depan ruang meeting. Suara ketukan pun mengiringi seruan sama di depan pintu.


"Silahkan masuk..." Semua yang ada di ruangan terpaku saat tahu siapa yang datang.


"Mas Juna," Seru Eta saat melihat siapa yang datang.


"Nana, Aris, Sandra .. itu mas Arjuna." Eta memanggil teman yang lainnya.


Beberapa staf yang ada diruang meeting pun berhambur memeluk Arjuna. Mereka semua senang bisa melihat mantan manajernya yang dikenal supel dan ramah.


Dira yang melihat hal itu tampak kesal. Suasana di ruang meeting berubah menjadi acara temu kangen.


"Nanti reuninya, kita harus cepat menyelesaikan meeting. Masih ada pekerjaan lain menunggu." Ultimatum Dira.


Juna berjalan mendekati mama Dewi dan Feri. Lelaki itu menyalami mama Dewi sebagai tanda hormatnya pada orangtua. Tak berapa lama Dira langsung memimpin rapat, tanpa memperdulikan kehadiran Arjuna.


"Jadi kamu utusan dari perusahaan pak Burhan?" tanya Feri.


"Iya, saya orangnya." Jawab Juna.


"Heeem, ini kalau mau ngobrol kapan meetingnya." Omel Dira.


Selama satu jam lebih meeting berlangsung. Dua anak manusia tersebut akhirnya menyelesaikan tugasnya dalam menyampaikan visi misi project mereka. Juna tak henti melirik Dira yang duduk di hadapannya. Merasa dirinya ada yang mengintai, Dira memilih sibuk dengan gawainya. Dia berusaha mengalihkan pandangannya, tapi entah kenapa jantungnya berdegup kencang. Pada akhirnya dia memilih kembali ke ruangannya padahal kegiatan mereka belum selesai. Dira mengunci pintu ruangannya. Tangannya melipat berganti menandakan rasa gelisah.

__ADS_1


__ADS_2