
Flashback
"Jadi bagaimana nak Feri? Apakah kamu bersedia menikahi Mayka? Saya tahu kamu masih mencintai Meyra. Sekarang saya sudah sakit-sakitan, harapan saya yang bisa menjaga Mayka hanya kamu, Nak. Ibarat kata orang ini namanya turun ranjang." Ucap Pak Amran Mahar, mantan mertua Feri.
Feri hanya terdiam mendengar permintaan mereka. Permintaan yang sangat berat dimatanya. Bagaimana bisa dia menerima wanita yang tak lain kakak dari mendiang istrinya. Diakuinya, Mayka memang cantik, baik, 11-12 sama Meyra. Tapi untuk turun ranjang Feri harus mendiskusikan hal ini pada mamanya.
"Maaf ayah, saya ..." Feri menyebut lelaki itu Ayah. Lelaki yang membesarkan mendiang istrinya.
"Saya harap kamu berpikir lagi. Harapan saya besar padamu, nak." Lagi-lagi Feri merasa terdesak dengan permintaan mantan mertuanya.
Feri pamit pulang dari rumah mertuanya. Dalam perjalanan dia teringat keinginan mertuanya untuk menikahi Mayka. Tanpa sadar banyak mobil klakson karena akan melanjutkan perjalanan. Feri akhirnya mengemudikan mobilnya.
Pulang ke rumah Feri mencoba menenangkan diri di kamarnya. Mencoba menelaah permintaan mantan mertuanya yang mengejutkan baginya. Tak pernah terpikir olehnya kalau harus menggantikan posisi Meyra dengan wanita lain. Meskipun wanita itu adalah kakaknya Mey. Feri mengambil wudhu untuk melaksanakan sholat isya. Paling tidak hatinya sedikit tenang setelah mengadu pada sang pemilik semesta Alam dan isinya.
Flashback off
"Jadi kami menawarkan kerjasama dengan perusahaan PUTRA NUSA Corps untuk program ramah lingkungan. Kami sudah mendengar pergerakan perusahaan anda mengadakan barang daur di daerah sekitar sungai citarum. Berkat penyuluhan dari perusahaan anda, mereka mendapat kunjungan dari bapak Gubernur Anies Baswedan."
"Akan saya pelajari brosur anda pak Reza. Saya dengan senang hati saya bisa didatangi perusahaan sebesar ini. Seharusnya saya yang mendatangi anda."
"Tak apa. Ini juga rekomendasi dari sepupu saya namanya Satria. Makanya saat mendengar info itu saya mencari tahu dan mengajukan hal itu ke atasan saya. Alhamdulillah atasan saya menyetujuinya dan saya bisa duduk dihadapan anda sekarang." jelas Reza.
"Oke senang bekerjasama dengan anda. Saya akan pelajari dulu berkas anda. Nanti asisten saya yang akan mengabari anda." jawab Feri.
Mereka berjabat tangan menandakan urusan mereka selesai untuk saat ini. Feri pun beranjak dari tempat itu.
Siang ini Feri baru saja menyelesaikan urusan meeting dengan klien dari perusahaan Spencer. Mereka menawarkan kerjasama untuk fasilitas ramah lingkungan di hotel yang mereka miliki. Feri dengan senang hati menerima kerjasama itu. Apalagi bekerjasama dengan perusahaan besar seperti mereka bisa mendongkrak perusahaan kecilnya. Lelaki utusan yang bernama Reza pun akhirnya menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Mereka pun berpisah karena harus kembali ke kantor masing-masing.
Ketika Feri hendak keluar dari resto pertemuan mereka tampak sosok cantik yang menyapanya.
"Kak Mayka..." Sapa Feri mencoba ramah pada kakak iparnya.
__ADS_1
"Kamu ngapain disini,Feri?" Tanya Mayka.
"Ada urusan kantor, kak Mayka mau ngapain disini?"
"Ya mau makanlah, Feri. Masa mau shopping.." Tawa Mayka.
"Feri kamu disini juga ..."
"Mama? kok mama bisa bareng Mayka?" Feri kaget ternyata mamanya sedang bersama Mayka.
"Tadi mama mertuamu main ke rumah. Terus Mayka juga ikut bersama mama mertuamu, hanya saja mama mertuamu ada urusan makanya mama jalan sama Mayka."
Feri hanya tersenyum kecut. Tidak menyangka mama mertuanya sudah bertindak akrab. Padahal dulu sejak Meyra meninggal, keluarga itu tidak pernah mencoba bersilaturahmi pada keluarganya. Setiap mereka berkunjung mertuanya tak pernah ada di tempat.
"Tadi Feri ada bertemu klien, ma. Ma, Feri balik kantor dulu, ya. Masih banyak kerjaan." Ucap Feri mengelak dari Mayka.
"Loh, disini dulu nak, mama pengen ngomong."
"Mama ngomongnya dirumah saja nanti. Feri masih ada kerjaan. Pamit, ya, ma." Feri mencium tangan mamanya.
Klik
"Bagaimana persiapannya, Eka?" Telepon Papanya Delia menanyakan persiapan pertunangan putrinya. Bagaimana pun dia harus turun tangan karena ini adalah pertunangan termegah. Dia pun mengundang beberapa pejabat besar seperti Presiden jokowi dan para menterinya.
"Alhamdulillah, om. Masih tahap persiapan. Om tenang saja, percayakan pada saya." Ucap Eka penuh percaya diri.
Eka menutup telepon dari ayah sahabatnya. Baginya acara ini adalah amanat yang harus dilaksanakan dengan baik. Eka mencatat poin-poin acara yang akan diserahkannya kepada pemilik WO yaitu Rian. Sejak satu bulan ini Rian di rekrut sebagai pengganti ayahnya yang sudah pensiun.
Sejak kejadian dirumah sakit antara dirinya dengan Dira, Rian tidak pernah menemui Dira lagi. Bukan karena dia ditolak melainkan masih tidak enak kejadian waktu itu. Dia sadar kekhilafannya membuat Dira tak ingin mengenalnya. Walaupun sebenarnya masih terbersit ingin tahu kabar gadis itu.
Rian memandang berkas yang menumpuk meja kerjanya. Paling tidak, ini bisa membantunya melupakan perasaannya pada Dira. Tangannya memegang salah satu berkas mempelajarinya dengan seksama.
__ADS_1
"Eka bisa masuk ke ruangan saya?"
Eka muncul di hadapan Rian.
"Ada apa, pak?"
"Bisa kamu jelaskan rangkai acara pertunangan keluarga Shahab?"
"Bisa, pak. Begini keluarga Shahab ini keturunan arab. Mereka akan mengadakan pesta pertunangan putrinya dengan konsep arabian. Serta ada pentas musik dan tarian turki. Jadi bagian utara ada tempat khusus tamu besar seperti bapak presiden dan pejabat lainnya. bagian selatan tamu keluarga dan orang-orang terdekat baik calon pria maupun calon wanita."
"Cukup. Dari situ saya paham kalau mereka mau konsep mewah. Oke terimakasih penjelasannya, kamu hubungi calon wanita dan lelaki untuk menemui saya."
"Baik, pak."
klik
"Bagaimana perasaanmu, Del?" Eka mendatangi kediaman sahabatnya. Delia hanya tersenyum malu mendengar pertanyaan Eka.
"Nggak tahu, Ka. Rasanya masih berdebar-debar. Nggak percaya aku sama kak Juna bakal tunangan, padahal ....!" Delia tak melanjutkan ucapannya.
"Padahal apa, Del?"
"Padahal aku dan kak Juna nggak pernah minta di jodohkan. Aku tahu kak Juna beberapa kali ku tolak, kulihat dia saat itu pantang menyerah. Tapi dari awal papa sudah suka sama kak Juna, ya aku nurut saja. Kamu tahu, ka? Aku sampai jenuh pada hubungan kami, tapi dia rajin mencari kabarku. Dari situ aku yakin sama kak Juna." Kenang Delia.
"Bukannya bagus, ya. Kamu bisa membuka hatimu pada Juna. Seharusnya kamu nggak menghilang saja, kak Juna sampai pusing saat kamu tak ada kabar, Del. Jangan sampai orang lain malah mencari kesempatan dengan hubungan kalian." Ucap Eka.
"Maksud kamu? apa ada orang lain yang mencoba masuk ke hubungan kami? siapa?" Tanya Delia.
"Eh ... anu .. nggak ada Del. Maksud aku kamu harus waswas karena sudah satu tahun kamu hilang tanpa kabar." Eka merasa hampir keceplosan.
Eka menghempas nafas dengan berat. Entah kenapa sejak Dira bilang Juna melamarnya, Dia merasa harus membantu Delia dan Arjuna supaya tidak retak. Eka akan terus mewanti-wanti Dira agar tetap menerima Rian.
__ADS_1
"Oh, ya jadi bagaimana persiapannya?" Tanya Delia
"Pokoknya kamu terima beres saja, Del." Eka tersenyum menang.