Sayembara Jodoh

Sayembara Jodoh
BAB 67


__ADS_3

Senja di langit Jakarta terlihat begitu merona. Kilauan matahari berwarna kuning keemasan memantul di rumah-rumah sekitar kompleks tempat tinggal Dira. Semburat cahaya kuning memantul dari genangan air kolam renang. Sehingga siapapun yang melihatnya merasa damai.


Malam ini malam terakhir bulan Ramadhan. Dimana esok adalah hari kemenangan akan tiba. Semua umat manusia akan menyambut hari dimana setelah satu bulan berpuasa, dan sekarang kemenangan itu datang.


"Ra," Mama Dewi memanggil putri tengahnya.


"Iya, ma." Dira langsung berdiri ketika namanya dipanggil.


"Kamu ngapain disitu?sini bantu mama nyiapin buat lebaran besok. Oh, ya besok kita berkumpul di rumah opa Han, ya. Masa opa Han terus yang nyambangi kita."


"Iya, ma." Jawab Dira beranjak dari area kolam renang.


Saat ini Feri, Dira, dan Vira berkumpul di ruang tengah. Mereka bahu membahu menata ruangan untuk menyambut para tamu. Biasanya satu minggu menjelang lebaran opa Han menginap di sana. Namun, beberapa hari yang lalu opa Han meminta keluarganya berkumpul di rumahnya. Karena keponakannya hanya anak-anak Wirya, sang kakak.


Sejak Wirya meninggal dunia, Opa Han merasa Dewi adalah tanggung jawabnya. Apalagi Wirya meninggal saat Dewi belum menikah. Masih berstatus mahasiswa. Mamanya Dewi meninggal dunia setelah melahirkan putri tunggalnya. Sejak saat itulah Opa Han turun tangan setiap urusan Dewi hingga saat cucunya beranjak dewasa.


Assalamualaikum..


Suara bariton menyapa di depan pintu kediaman Dewi Savitri. Dewi dan ketiga anaknya berhambur menyambut tamu yang mereka hormati. Mereka berempat berganti menyalami sang tamu tersebut.


"Kalian jadi nginap di rumah Opa?" Tanya opa Han.


"Nginap?" Dira dan Vira saling bertukar pandang. Seingat mereka mamanya cuma bilang kalau besok datang mengunjungi kediaman opa-nya.


"Bukannya besok kita kesana?"tanya Vira.


"Mama lupa bilang kalau kalian bertiga diminta opa menginap disana. Besok mama menyusul, jadi kalian duluan yang menginap disana." Jelas Dewi.


"Kamu juga ikut, Dewi. Masa kamu sendirian di rumah. Besok setelah sholat kita ziarah ke makam orangtuamu. Om sudah lama tidak jenguk papa kamu. Sekalian om mau jenguk istriku yang masih satu kompleks sama makam mama kamu." Jelas opa Han.

__ADS_1


"Iya, ma. masa cuma kami bertiga saja yang disana sementara mama sendirian di rumah." Sahut Feri.


Dewi memandang ketiga anaknya dengan intens. Dia terharu melihat sikap ketiga anaknya yang masih memikirkan dirinya. Tangannya membentang memeluk ketiga buah hatinya bersamaan.


Allahuakbar, allahuakbar, aailahaillallahuallahhuakbar, allahhuakbar walillahilkhamdu


Artinya: "Allah maha besar Allah maha besar Allah maha besar. Tiada Tuhan selain Allah, Allah maha besar Allah maha besar dan segala puji bagi Allah.


Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar, Allahu akbar walillaahil-hamd


Allahu akbar kabiira walhamdulillahi katsiiraa wasubhananallaahi bukrataw-wa ashillaa.


Laa-ilaaha illallahu walaa na'budu illaa iyyaahu muskhlishiina lahuddiin


Walau karihal kaafiruuun, walau karihal munafiqun, walau karihal musyrikun


Laa ilaaha illallahu wahdah, shadaqu wa'dah


Artinya: "Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, Allah Mahabesar. Tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Allah dan Allah Mahabesar. Allah Mahabesar dan segala puji hanya bagi Allah


Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, Allah Mahabesar. Allah maha besar dengan segala kebesaran. Segala puji bagi Allah sebanyak-banyaknya. Dan maha suci Allah sepanjang pagi dan sore. Tiada Tuhan selain Allah dan kami tidak menyembah selain kepada-Nya dengan memurnikan agama Islam meskipun orang kafir, munafiq dan musyrik membencinya".


Suara takbir berkumandang sejak sehabis magrib hingga saat ini. Di kediaman opa Han yang dekat dengan perumahan biasa, alunan takbir kemenangan terdengar dari mesjid di belakang rumah Opa Han.


Setiap rumah nampak menyalakan obor di depan pagar masing-masing.


"Kamu tahu, opa sengaja tinggal di dekat perumahan warga karena suasananya mengingatkan kami waktu kecil dulu. Opa Han dan opa Wirya bukan anak orang kaya. Kami besar dari petani, zaman kami kecil masih hidup dalam masa penjajahan. Ya, walaupun dalam kehidupan mencekam, kami tetap pergi ke mesjid setelah magrib, bermain bersama teman-teman merasakan takbiran obor dengan warga lain.


menikmati kebahagiaan yang sama yaitu dengan membuat “Mercon Bumbung” – terbuat dari bambu yang agak panjang dan dilubangi kemudian dimasukkan karbit, disulut api dan mengeluarkan suara ledakan seperti meriam artileri."

__ADS_1


Opa Han duduk di tengah dua cucu cantiknya. Mengenang masa kecilnya yang indah, meskipun masa itu warga selalu di buru ketakutan karena kekejaman Jepang. Namun, terselip kenangan-kenangan.


"Kalian istirahat, ya. Besok kita lebaran." Ajak opa Han pada kedua cucunya.


Dewi memandang cara om nya pada dua putrinya. Sebagai keponakan, Dewi senang merasakan kasih sayang seorang ayah meskipun bukan ayah kandung. Bagaimana sejak ayahnya meninggal dunia, opa Han langsung turun tangan mencukupi kebutuhannya, mencarikannya suami, semua yang dilakukan layaknya ayah pada anaknya.


"Dari dulu, opa selalu memperlakukan kalian seperti cucu kecilnya. Padahal kalian semua sudah dewasa, dan sebentar lagi menikah. Opa juga pernah bilang pada mama, dia takut saat meninggal tidak ada yang mengurus pabriknya. Makanya dia sempat berniat menjodohkan Dira saat kalian masih kecil. Namun mama saat itu keberatan, kalian masih kecil, masih banyak yang harus dikejar. Toh, belum tentu juga lelaki yang akan di jodohkan mau sama Dira."


Feri masih menyimak cerita mamanya. Dia baru tahu kalau Dira sudah disiapkan jodohnya sejak kecil. Kalau memang begitu ceritanya kenapa mamanya masih heboh mencarikan jodoh buat Dira. Kenapa mamanya tidak mempertanyakan soal perjodohan itu sama opa? pertanyaan demi pertanyaan terus bergulir. Terkadang pemikiran orangtua sulit dimengerti.


"Mama tahu siapa yang di jodohkan sama Dira?" Tanya Feri.


Dewi menggelengkan kepalanya, dia tidak tahu siapa yang akan dijodohkan sama Dira. Sepertinya Om-nya masih merahasiakannya. Om-nya itu suka bikin kejutan, yang pasti pilihan om nya nggak akan asal. Seperti om nya menjodohkan Feri dan Meyra dulu.


"Mama tidak tahu, Feri. Pastinya Opa nggak akan memilih sembarang orang. Dia pasti mencari yang bisa di sepadankan dengan Dira." Jelas mama Dewi.


"Ma, aku mau istirahat dulu, ya. Capek banget." Sahut Feri meninggalkan mamanya sendiri di pintu teras.


"Feri,"


"Iya, ma."


"Kamu sendiri bagaimana? Apakah.."


"Ma, aku ngantuk sekali. Besok saja ngomongnya." Feri pergi meninggalkan mamanya. Lebih baik dia menghindar dari pada ditanya macam-macam.


Feri merebahkan tubuhnya di kamar yang disediakan oleh opa Han. Mata menerawang ke langit-langit kamar, seakan ada kerinduan yang mendalam.


"Mey, apa kabar? kamu tahu aku melalui hari demi hari, waktu demi waktu, tahun demi tahun tanpa kamu. Rasanya hampa sekali.

__ADS_1


Biasanya kamu setiap malam selalu bercerita tentang suasana kantormu, kamu juga sering bercerita tentang sepupumu yang lama tak ada kabar.


Mey, aku juga ingin bercerita padamu, tapi nanti, saat ini aku lelah sekali. Aku sangat merindukanmu, Mey."


__ADS_2