
"Kenapa baru datang sekarang?" ucap opa Han saat Juna menyambangi kediaman atasannya.
"Maaf, pak. Ada urusan keluarga yang harus di selesaikan. Jadi baru sempat mampir sekarang."
"Juna, cucu saya sudah pulang dari semalam ke kediamannya. Kamu lama banget datangnya. Dia sudah setuju di jodohkan dengan kamu, Jun."
Juna hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Tujuannya mendatangi opa Han bukan untuk membahas tentang perjodohan. Saat ini dia hanya ingin bersilaturahmi pada atasannya saja, tidak lebih dari itu.
Juna bersama kedua orangtuanya di tuntun duduk di ruang tamu. Beberapa jamuan makanan tersaji di meja. Para asisten melayani Juna dan keluarganya layaknya tamu agung.
"Kamu apa kabar Johan?" sapa pak Burhan pada mantan asistennya.
"Alhamdulillah baik." Sahutnya masih menunduk.
"Johan kamu jangan sungkan. Saya tidak pernah marah sama kamu hanya karena orang kepercayaanku bekerja dengan rival bisnisku. Ya, mungkin kamu perlu cari pengalaman kerja dan hasilnya kamu sukses sekarang."
Johan hanya diam saja. Dia bingung mau bicara apa, tangannya terus membuka toples kue kering. Melahap sedikit demi sedikit kacang tojin dari toples.
"Ya, inilah kediaman saya Arjuna. Tidak besar, hanya tinggal sendiri disini."
"Memangnya anak bapak kemana?"
Burhan tergelak mendengar pertanyaan Juna.
"Juna, pak Burhan ini duda tapi nggak ada anak. Jadi istrinya meninggal sebelum mereka punya anak." Cerita mamanya Juna.
"Owh, maaf, pak. Saya tidak tahu, tapi kata bapak punya cucu? apa cucu angkat?"
"Bukan Juna, itu anak kakakku. kakakku dan istrinya sudah meninggal jadi aku yang menggantikannya sebagai orangtua."
"Maaf, pak. Juna merasa tidak enak dengan pertanyaannya."
Sebenarnya kediaman Opa Han lumayan luas ketimbang rumahnya yang di daerah Bogor. Ketimbang rumahnya yang disebelah Dira. Namun rumah seluas itu hanya di tempati seorang lelaki tua tanpa istri dan anak. Mendengar cerita Burhan tentang anak dan cucunya. Pikiran Juna melayang pada sosok Dewi dan ketiga anaknya. Entah kenapa dia teringat pada mereka, mungkin dia rindu sama keluarga itu.
Juna berjalan mengitari area kolam renang. Matanya terus beredar ke sekitar teras yang luas. Tangannya mendekati pelampung berbentuk kuda uniqorn.
Seingatku Dira suka sekali sama uniqorn. Pelampung ini mirip sekali dengan kepunyaan Dira yang dulu ku belikan.
Ah, tidak Juna. Hanya kebetulan saja.
__ADS_1
Ya ampun kenapa aku jadi merindukan Dira.
"Juna,"
Juna menoleh kearah opa Han yang memanggilnya. Tangannya baru saja menyeka air matanya.
Sebegitukah dia merindukan Dira?
Dadanya terasa berdegup kencang saat melihat beberapa barang disana. Barang yang membuka memorinya antara dirinya dan Dira. Meskipun itu memori seputar masa kecil mereka.
"Kamu kenapa?" tanya opa Han.
"Nggak apa-apa, pak. Saya hanya teringat seseorang."
"Ya udah, tadi pagi cucu opa mengirimkan ikan bakar buatannya. Enak banget, kamu mau coba?"
"Hmmm... boleh, pak kalau diperkenankan."
Semua berkumpul di ruang makan. Sejak dari kolam renang tadi entah kenapa pikiran Juna tidak terfokus. Dia mencoba menghormati tuan rumah yang mengajaknya makan bersama.
"Nah, ini ikan bakar buatan cucuku. Ayo dicicip kamu pasti suka Juna."
Lagi-lagi Juna hanya tersenyum kecil mendengar opa Han memuji cucunya. Tangannya mencuil sedikit ikan yang sudah di piringnya.
Kenapa ini persis buatan Dira?
Please, Juna, ini mirip masakannya Dira.
Ya Allah aku ini kenapa?
Setelah lama berbincang mereka pun pamit. Juna meminta pada orangtuanya untuk pamit ke rumah Dira. Beberapa rentetan kenangan yang berasal dari barang rumah opa Han selalu mengingatkan pada Dira.
Klik
Kediaman Dewi Savitri
Hari sudah mulai senja. Langit-langit masih bertahan dengan warna biru putih. Dira dan Vira sedang membersihkan beberapa ruangan karena sudah lima hari ditinggalkan.
Debu-debu lantai rumah mulai menggelitik penciuman dua gadis beda generasi tersebut. Vira mulai geli menutupi hidung dan mulutnya dengan masker.
__ADS_1
"Ini kayak setahun nggak di bersihkan, padahal ini kamar kamu, Vira!" Omel Dira melihat lemari pakaian adiknya sudah berdebu.
"ckckcckck, ini kamar anak perempuan apa gudang, sih?" Dira masih menggelengkan kepalanya.
"Ih, kak Dira bawel amat. Kan yang bersihkan bibi bukan aku! itu sudah tugas dia. Ini karena mama yang nyuruh makanya aku mau."
"Ya, kalau begitu bersihkan. Ini anak perempuan kamar kayak kapal pecah. Ini apa lagi, bekas permen kok kamu tumpukin disana. Nanti bersemut gimana? Nanti kamu dapat suami brewokan, mau?"
Vira tertawa mendengar ocehan kakaknya. Sejak pulang dari rumah opa Han, Dira mulai ceria lagi. Meskipun dia tahu kakaknya menyimpan luka yang dalam. Lamaran, persiapan pernikahan yang rencananya sehabis lebaran, kini tinggal cerita. Namun Vira yakin, ada hikmah dibalik semua ini.
"Kalau si brewoknya kaya, aku maulah, kak? Kak Dira juga nggak akan nolak kan?"
"Ih, malah ngebalas omongan orangtua? nanti suamimu diambil orang kalau pemalas."
"Yaudah kak. Cari saja suami baru yang lebih keren dari yang lama, gitu saja repot."
Dira meninggalkan kamar Vira. Tubuhnya hanya memakai kaos lengan setengah dan celana batas lutut. Tak ada yang tahu jika usianya sudah memasuki 25 tahun. Mungkin sebentar lagi akan melewati usia itu.
Di seberang kamarnya, ada sosok yang sedari menunggu kemunculan gadis cantik di depannya. Tampak dia sedang bertopang dagu memandang wanita idamannya asyik membentang kain selimut.
Serasa melihat adegan lambat, sosok yang tersenyum melihat betapa manisnya pemandangan di depannya.
Untungnya, rumahnya belum ada yang membeli. Jadi dia bisa masuk ke rumah yang sudah kosong tersebut.
"Hai calon istri!"
Dira yang asyik melipat selimut menghentikan aktivitasnya. Pendengarannya seperti ada yang menyapanya.
"Hai, calon istri!"
Sambil menghela nafas panjang. Tubuhnya memutar ke arah balkon. Sosok tampan berdiri di seberang rumahnya. Berdiri di balkon sambil melambaikan tangannya.
"Muuuuaaah! I love you Medhira."
"Apaan sih? gaje banget nih orang!" Dira menutup gorden balkonnya.
Dira lagi-lagi mengintip kearah balkon. Tak tampak lagi sosok Arjuna. Tangannya mengurut dada.
Ting!
__ADS_1
Dira membuka pesan dari Arjuna
"Nyariin aku, ya!"