
"Mamaaa..." suara manis itu terdengar menggema di indera pendengarannya.
Tubuhnya terpaku melihat sosok kecil berjalan menuju dirinya. Seakan rasa rindu tergambar dari wajah tampannya. Delia mencoba menghindari sosok kecil itu. Dia sudah malas meladeni pemilik suara itu.
"Pergi! saya bukan mamamu! pergi!"
Tentu saja si kecil tersebut tak mengerti apa yang di bilang Delia. Langkah kecil itu terus menuju ke arah dirinya.
"Saya bilang pergi!" usir Delia mempelototi sosok kecil itu.
"Ya Allah, Roger! mama cari kamu ternyata disini." seorang wanita masuk ke ruang rawat milik Delia.
"Maaf, mbak. Anak saya malah masuk ke sini. Sekali lagi maaf kalau Roger tadi menganggu anda."
"Ini anak anda?"' selidik Delia.
"Iya, mbak ini anak bawaan suami saya. Kasihan ibunya meninggal saat melahirkan Roger." Sahut wanita itu yang menggendong Roger dengan kain.
"Tapi kok mirip blasteran?" Tanya Delia masih kepo.
Perempuan itu tak langsung menjawab. Dia malah memilih pamit dari hadapan Delia. Alasannya suaminya juga di rawat karena demam tinggi.
Beberapa hari yang lalu, Delia dinyatakan tipus oleh dokter. Mamanya Delia langsung membawa putrinya ke rumah sakit. Tentu saja dengan penanganan terbaik.
Sementara di sudut ruangan ruangan rumah sakit, Rian berdiri menggendong Roger yang lumayan rewel. Mamanya Roger sedang sibuk mengurusi suaminya yang sedang di rawat.
"Terimakasih Rian, kamu mau membantu kami." Jawab wanita itu yang bernama Nadia.
"Sama-sama, Nadia. Alex itu sahabat saya. Saya tidak menyangka kalau dia sudah lama tinggal di Indonesia. kamu kenal sama Alex darimana."
"Saya dan Alex belum lama menikah. Roger ini anak bawaan Alex dari London. Dia tampan sekali sama seperti Alex. Tapi dia tak mirip dengan Alex kalau menurut saya." Cerita Nadia mengingat pertemuan Alex dengan dirinya.
Aku merasa dekat dengan anak ini. Mungkin karena aku suka dengan anak-anak. Tapi entah kenapa aku bisa langsung sayang sama dia.
__ADS_1
"Maaf kalau di perbolehkan? selama Alex di rawat bolehkah Roger ikut sama saya. Biar kamu fokus merawat Alex." Pinta Rian pada Nadia.
"Owh, gimana ya? saya takut Alex menanyakan Roger saat dia sadar nanti."
Nadia sangat paham Alex sangat sayang pada Roger. Alex saat ini bekerja di sebuah pabrik es batu. Merekapun juga bertemu disana, Nadia dulunya adalah staf di pabrik tersebut.
Saat mengenal Alex, lelaki itu mengaku sudah punya anak. Nadia langsung jatuh cinta pada Roger Snowden, putra bawaan Alex. Alex pun mengajak Nadia menikah di New York, tempat asal Alex.
"saya benci anak itu!" Pekik Delia.
"Del, kamu kenapa?" Mama Delia panik melihat sikap anaknya yang ketakutan.
"Mama, tolong buang jauh bayi itu! dia cuma pembawa sial!"
"Kamu ngomong apa, Del? Bayi siapa?" Mama masih bingung Delia makin menceracau.
Kejadian dua tahun yang lalu kembali menghantui Delia. Apalagi karena sosok kecil yang nyasar ke kamar rawatnya. Hal itu membuat trauma Delia semakin menjadi. Beberapa dokter pun akhirnya turun tangan menangani Delia yang mengamuk.
"Ya Allah apa yang sebenarnya terjadi pada anakku?" Mama Delia kalut melihat kondisi anaknya.
"Iya, dok. saya mamanya dan ini kakaknya." Jawab mama Delia.
"Begini, Bu. setelah saya memeriksa keadaan putri anda. Sepertinya putri anda pernah melahirkan. Itu bisa dilihat dari bekas operasi sesar di tubuhnya. Tapi bisa jadi Putri anda pernah melakukan operasi yang lain."
"Melahirkan! Nggak mungkin dokter. anak saya belum menikah. Bagaimana bisa dia melahirkan seorang anak? Tapi kalau dia operasi yang lain, kenapa dia tidak bilang sama kami." Mama masih tidak percaya dengan penjelasan dokter.
"Maaf, Bu. itu yang kami temukan saat memeriksa tubuh putri anda." Jelas dokter.
"Rayyan!" Panggil Mama Delia.
"Kamu jangan bilang ke papamu soal ini. Kita harus cari tahu dulu apa yang sebenarnya terjadi. Kalau papamu tahu, bisa runyam semuanya."
Rayyan hanya mengangguk. Dia juga paham bagaimana papanya menghadapi setiap masalah. Dengan menggunakan kekuasaannya, tuan Shahab akan melakukan apapun agar menjaga imagenya.
__ADS_1
Maka itu Rayyan memilih meninggalkan rumah karena tidak tahan dengan kekangan papanya. Papanya mengatur semua tindak tanduk anaknya. Termasuk memilih dengan siapa dia bergaul, kemanapun dia pergi papanya selalu tahu.
Memiliki ayah diktator seperti tuan Shahab memang membuat anak-anaknya terkekang. Semua keinginan ayahnya pasti harus dipenuhi. Sang ayah paling tidak suka kemauannya di bantah. Dia bahkan akan menghancurkan orang-orang atau komunitas yang dianggap menghalangi keinginannya. Itulah tuan Shahab yang sebenarnya.
"Tapi mama.. apa mungkin terjadi sesuatu pada Delia selam di London." Rayyan masih penasaran dengan masalah Delia.
Klik
Dikediaman Keluarga Dewi Savitri
Dira mengumpulkan keluarganya berkumpul di ruang makan. Hal itu dilakukan karena rasa penasarannya pada keinginan opa Han yang mendadak. Siapa yang tidak kaget kalau kakeknya itu malah sudah menemukan calon untuknya. Sementara saat ini dirinya sudah menerima lamaran dari Rian.
"Kenapa kalian diam! kalian sudah tahu kan soal ini?" Dira mengalihkan pandangannya kearah mamanya. "Mama tahu kan? jawab,ma! mama kan tahu Dira sudah mau menikah dengan Rian. Tapi kenapa mama malah menyetujui soal perjodohan ini. Emangnya Dira ini barang, ma. Diopor sana sini! Dira nggak mau di jodohkan dengan pilihan opa Han! Titik!"
"Dira, maafkan mama,nak. Mama juga belum ngasih keputusan sama opa-mu. kamu tahu sendiri kan, opa-mu tidak bisa dibantah. Dulu mama dan papamu juga opa yang menjodohkan. Feri dan Meyra pun juga campur tangan opa-mu, nak."
"Lalu nanti lelaki pilihan opa apa sama kelakuannya dengan papa. Dira tidak mau bernasib sama dengan mama."
Braaaaak!
Dira menutup kamar dengan kencang. Bukan bersembunyi di kamarnya melainkan di kamar Vira. Rasa kesal menyeruak di dadanya. Bagaimana mungkin dia akan di jodohkan dengan lelaki yang tidak dikenalnya. Seperti apa orangnya pun tidak ada yang tahu. Sesaat Dira menumpahkan air matanya, meluapkan kegundahan hatinya.
"Ra, buka pintunya. Nak? Mama mau ngomong." Panggil mama Dewi dari luar.
"Ma," sahut Vira.
"Iya, nak. Mama tidak enak dengan kakakmu. Dia seperti ini karena mama terlalu menuntut mencari pasangan. Mama cuma takut dia jadi bahan omongan karena kamu yang akan duluan menikah."
"Enggak, ma. Vira dan kak Satria tidak jadi menikah. Kami sepakat break dulu. Vira belum siap buat nikah muda. Banyak yang harus Vira kejar saat ini. Maaf,ma. Vira baru cerita sekarang.
Kalau memang kami berjodoh pasti akan dipertemukan lagi." Jelas Vira.
"Terus bagaimana dengan mahar dari Satria?" Tanya mama Dewi.
__ADS_1
"Besok kami akan menemui keluarga kak Satria untuk mengembalikan mahar itu."