
Barangsiapa menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh ibadahnya (agamanya). Dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah SWT dalam memelihara yang sebagian lagi." (HR. Thabrani dan Hakim).
Ya Allah, berikanlah keberkahan kepadaku dan kepada istriku, serta berkahilah mereka dengan sebab aku. Ya Allah, berikanlah rezeki kepadaku lantaran mereka, dan berikanlah rezeki kepada mereka lantaran aku. Ya Allah, satukanlah antara kami (berdua) dalam kebaikan dan pisahkanlah kami (berdua) dalam kebaikan..
Malam itu tampak bulan tertutup awan. Namun keindahan tak dapat mereka lukiskan. Setelah seharian mereka disibukkan dengan acara pernikahan. Belum lagi acara walimah, mau tidak mau harus mereka ikuti. Juna dan Dira di bimbing masuk kamar.
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Juna dan Dira saling duduk membelakangi. Sama-sama malu-malu kucing. Meskipun sudah halal tapi tampak Dira awalnya masih enggan di dekat suaminya.
Juna melepaskan atribut pengantinnya. Dira menatap lekuk tubuh suaminya. Betapa gagahnya lelaki itu. Tak menampik dia terpesona pada otot-otot milik suaminya. Tak berapa lama Juna
pun selesai membersihkan diri. lalu membaringkan tubuhnya di pinggir ranjang.
Juna merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Menunggu sang istri yang sejak lama berada dikamar mandi. Entah apa yang dilakukan wanita itu, Juna hanya menebak Dira masih grogi pada malam pertama mereka. Juna pun tak mau memaksa istrinya menunaikan jika memang belum siap. Bukankah cinta mereka sudah terikat? tentu dia bisa melakukannya kapan saja.
Ceklek!
Pintu kamar mandi pun terbuka. Dira hanya memakai setelah baju tidur pendek. Tangannya masih menggesekkan rambutnya yang basah. Dira merasa rambutnya terasa gatal karena dia menggunakan sanggul modern. Dira sedikit paham bagaimana melunturkan bekas sasakan. Karena dia pernah belajar make up sama mendiang Meyra, kakak iparnya.
"Mas," sapanya melihat suaminya berbaring di ranjang pengantin.
"Iya, sayang." Juna bangkit dari ranjang.
"Kamu nggak bersih-bersih dulu? badanmu dah bau sama keringat. Kamu belum sholat isya kan?"
"Emang masih sempat? ini sudah jam berapa?" Juna melirik jam di dinding.
"Mas, waktu isya itu panjang sampai masuk subuh. Jadi masih bisa sholat. Jangan lalaikan waktu, mas.batas paling akhir sholat isya hanya sampai pukul 12 malam. Sekarang masih jam setengah sebelas malam. Masih ada waktu."
"Istriku ini memang the best." Juna menggenggam kedua pipi Dira.
"Sudah jangan banyak ngomong. Secepatnya bersihkan diri. Aku tunggu." Dira menarik tubuh suaminya dari tempat tidur. Juna sengaja memberatkan tubuhnya agar Dira jatuh ke tubuhnya.
"Ayo, mas. Sholat!"
BRUUUUUK!
Benar saja tubuh Dira sudah berada diatas Juna. Dengan cepat Dira beranjak dari suaminya. Tangan Juna menahan hingga Dira terduduk diatas paha suaminya. Juna membelai rambut Dira dari atas sampai bawah. Menyingsing rambut istrinya yang menutupi leher. Juna menelan salivanya. Tak sabar mereguk indahnya tubuh istrinya.
Dira lupa kalau tadi meminta suaminya sholat. Dia bahkan sudah lupa kalau sudah berwudhu. Tubuhnya pasrah saat Juna menarik dagunya, mencicipi bibirnya, tangan Dira melingkar di leher Juna. Kini tubuhnya sudah bersandar diatas ranjang.
"Dira, aku menginginkannya."
__ADS_1
Tubuh Dira menggeliat ketika merasakan hangatnya ciuman dari suaminya. Tangan Juna terus bermain di setiap titik tubuhnya. Terdengar erangan kecil dari bibirnya wanita itu.
"Aaaaah...Mas! Geli!"
Juna tak peduli dengan keluhan Dira. Semakin lama dia melancarkan aksinya. Tampak Dira membalikkan badannya saat aksi itu berlangsung.
"I love you istriku." Bisik Juna.
Keduanya tampak semakin asyik dengan hasrat yang semakin membara. Dira semakin terpancing dengan sentuhan demi sentuhan yang diberikan Juna.
"Mas,"
"Iya, sayang." Juna masih menyentuh pucuk rambut Dira. Tangan kanannya meraba pinggul istrinya.
"Aku ...," Dira semakin merasa Juna masih santai dengan permainannya.
Juna membaringkan Dira di ranjang pengantin mereka. Keduanya saling memandang satu sama lain. Dira masih menggunakan pakai lengkapnya, beda dengan Juna yang sudah melepaskan kaosnya.
"Kamu tahu Dira, aku bahagia sekali bisa memiliki kamu seutuhnya." kata Juna.
"Sama aku juga bahagia. Tidak sia-sia 15 tahun aku mencintaimu. Tadinya aku sudah mengubur dalam-dalam perasaan ini." kata Dira.
Juna kembali mendaratkan ciuman di leher milik. Tangan Juna menggelitik seakan meminta Dira melepaskan bajunya.
"Mas...," Dira menunduk malu saat Juna mendapati bukit kembarnya terlihat.
Jejak-jejak merah terlihat di leher Dira. Dira semakin menikmati apa yang di suguhkan suaminya. ******* itu makin terdengar.
"Kau menikmatinya ternyata?" kata Juna.
"Aku menikmati apa yang seharusnya di berikan suamiku." bisik Dira.
"Aku pikir kamu akan malu-malu saat aku mulai menunaikan kewajiban."
"Karena apa yang ada dalam diriku sudah kuserah semua untukmu. Aku milikmu seutuhnya, dan kamu adalah milikku seutuhnya."
Dira mulai melepas kaos yang dikenakannya. Juna semakin terfokus pada bukit kembar milik istrinya.
"Bolehkah..," pamit Juna pada istrinya.
"Untukmu, sayang." Dira menerbitkan senyum terbaiknya.
__ADS_1
"Terimakasih, sayang. Aku mencintaimu." Juna mencium bibir Dira lebih dalam.
"Sayang," Juna merasa miliknya sudah mengeras.
"Iii...ya," manik matanya mengerjap.
"Boleh, aku ..."
"Aku ingin keluar." bisik Juna.
"Apa yang keluar, mas?" Dira masih belum paham.
"Kalau sakit bilang sama aku, ya?" ucap Juna.
Juna pun menancapkan tongkat saktinya ke lapisan pertahanan milik Dira. Seketika Dira menjerit, merasakan sakit luar biasa. Tangannya menggenggam erat bahu suaminya.
"Aaaaahh... Mas! sakit!" pekiknya.
"Maaf, sayang. Jika membuatmu kesakitan." Juna merasa bersalah ketika melihat wajah istrinya yang menahan sakit.
Juna menarik tubuh Dira ke dalam pelukannya. Layaknya seorang ayah pada anaknya. Juna menenangkan Dira yang jauh gemetaran.
"Maafkan aku, aku janji akan pelan-pelan dari yang sekarang." bisiknya.
Juna menarik selimut menutupi tubuh mereka yang polos. Di tuntunnya Dira yang sudah mulai kelelahan dengan malam pertama mereka. "Mas, sakit sekali." rintih Dira.
"Kamu istirahat ya sayang. Ini sudah mau subuh." Juna membelai rambut Dira. Wanita itu sudah mulai memasuki alam mimpi. Di kecupnya kening istrinya dengan lembut.
*
*
*
Assalamualaikum semuanya. Semoga hari ini menjadi ladang berkah untuk kita semua. Saya sebagai author sayembara jodoh mengucapkan terimakasih pada kalian yang sudah menyempatkan membaca kisah Dira dan Juna.
Satu part lagi kisah mereka akan selesai. Mungkin di novel terbaru akan ada kisah mereka walaupun tidak sekuat pemeran utama yang baru.
Kaget, ya! siang siang udah up yang beginian. Nggak papa kok, kalian bisa baca malam hari.
tetap pantengin terus novel ini dengan like komen dan vote. Karena tulisan ini dibuat dengan penuh cinta.
__ADS_1