
"Gimana rasanya dilamar, Vira?" Dira masuk ke kamar Vira setelah menguping pembicaraan Satria dan Mamanya. Dira mendaratkan bokongnya di ranjang springbeb yang bergambar barbie.
"Maksud kak Dira apa sih?" Jawab Vira yang belum paham arah pembahasan sang kakak.
"Kamu tahu, Satria sedang minta izin sama mama untuk menikahimu. Dia memperjuangkan kamu untuk menjadi hubungan yang halal." Jelas Dira.
"Hubungan yang halal? Nikah maksudnya?" Dira mengangguk. Vira kaget dengan cepat turun dari ranjang. Padahal dia mewanti-wanti Satria kalau belum mau nikah muda.
"Kamu mau kemana?" Dira mengejar Vira yang keluar kamar.
Sampai di ruang tamu Vira tak menemukan kekasihnya disana.
"Kamu cari Satria? Dia sudah pulang." Sahut Mama Dewi yang masih duduk di ruang tamu.
"Sini kamu, mama mau ngomong?" Mama Dewi menarik Vira duduk disebelahnya. Sudah pasti Vira merasa akan diinterogerasi sama mamanya.
"Mama mau tanya sama kamu? apakah kamu mau menikah muda? Apakah kamu siap menjadi seorang istri dengan rutinitas rumah tangga." Vira hanya diam mendengar cercaan dari sang mama. "Vira nggak tahu, Na. Soal pernikahan itu murni niat dari kak Satria" jawab Vira takut-takut.
Mama Dewi menghela nafas panjang." Vira dengar kata mama ya? Cepat atau lambat, suka atau tidak suka kamu pasti harus menikah, Nak. Mama cuma tanya sama kamu, kamu mau nggak nikah sama Saria. Satria itu dari keluarga militer, disiplinnya tinggi, sedangkan kamu masak aja nggak bisa, bersihkan kamar juga masih urusan mama. Setelah kamu menikah kamu akan melakukannya sendiri."
Vira tetap menunduk. Terbayang di ingatannya dimana dia tidak sempat dandan, tidak sempat hangout bareng teman-temannya. Sungguh hal itu tidak mengenakkan baginya apa lagi mungkin suatu saat nanti tubuhnya tak semulus dulu. Semua itu sudah ada di benaknya, menjadi hal yang menakutkan baginya. Sejak awal Vira sudah mewanti-wanti Satria untuk tidak membahas soal pernikah. Intinya Vira belum mau nikah muda sekarang.
"Feri, Dira sini mama mau ngomong sama kalian." Dewi memanggil dua anaknya yang lain. Memulai pembahasan tentang lamaran Satria.
"Oke, mama akan memulai pembicaraan penting ini. Ini masalah keluarga jadi harus di rembukkan sama-sama. Bismillah, tadi Satria kesini menemui mama. Kalian tahu apa yang dibahas Satria. Dia mau melamar adik kalian Savira. Mama minta kalian dengarkan permintaan mama."
"Apa itu, ma?" Tanya Feri.
"Sebelum Vira menikah mama mau melihat kamu nikah Dira. Mama sudah tua harapan mama hanya sama kamu, nak."
"Tapi Dira belum mau nikah, ma. Banyak hal yang masih Dira kejar."
"Umur kamu sudah berapa Dira? 25 tahun kan. Sudah waktunya menikah. Kalau kamu terus mengejar ambisi yang ada kamu bakal ketinggalan kereta. Menurut kamu gimana, Feri." Mama Dewi meminta pendapat anak sulungnya.
__ADS_1
"Ada benarnya kata mama. Kamu harusnya belajar dari yang terjadi sama Meyra, istriku. Kalau saja ketika hamil dia tidak disibukkan dengan urusan pekerjaan. Mungkin aku masih bisa merasakan menjadi suami dan ayah. Kamu tahu kan, Mey itu kalau soal pekerjaan ambisinya tinggi. Saat itu, aku juga tidak tegas sama Mey, ma, karena tadinya aku pikir selama yang dikerjakan itu bersifat positif dan nggak bikin dia keluyuran itu nggak masalah. Tapi ternyata aku salah, dia sampai lupa memikirkan kesehatannya hingga kena covid dan meninggal bersama bayinya.
Dan kakak mau kamu memikirkan kebahagianmu sendiri."
"Kak, maaf ya masalah ini mengingatkan kakak sama kak Mey." Dira merasa tidak enak.
"Nggak masalah. Itu sudah lima tahun yang lalu." Feri mencoba menguatkan diri sendiri.
Mama dewi duduk diantara ketiga anaknya. Setiap anak-anaknya mempunyai permasalahannya sendiri. Mereka pun punya cara sendiri untuk menyelesaikannya. Tapi tidak Vira, Dewi melihat putri bungsunya masih gamang memikirkan lamaran Satria. Mungkinkah Vira akan menolak keinginan Satria? Entahlah Dewi hanya bisa menebak saja.
"Vira, mama punya syarat buat kamu." Dewi kembali membuka percakapan.
"Apa itu, ma? Jangan yang berat-berat, Ma." Tawar Vira.
"Feri, mama pengen kita cari calon suami untuk Dira. Karena mama pengen sebelum Vira nikah, Dira sudah punya calon pendamping. Oh, ya siapa lelaki yang jemput kamu kemarin?"
"Rian, ma? Bentar! Kenapa jadi aku yang dipermasalahkan. Kita kan membahas soal Vira bukan Dira."Protes Dira.
"Oh, Rian yang kemarin jemput kamu itu, ya? kakak kenal sama bosnya. Bolehlah...tapi saya juga sedang menyiapkan calon buat Dira, ma?"
"Bukan." Jawab Feri.
"Siapa?"
"Alif, adiknya Mey."
"Oh, Nooooo..." Tolak Dira.
Dira tahu Alif agamanya kuat. Bahkan sekarang pakaiannya selalu memakai gamis kurta, berjanggut panjang. Dira pun tidak bisa membayangkan kalau menikah dengan Alif pasti akan disuruh pakai cadar.
"Kamu Vira .." Mama menodongkan ke arah si bungsu.
"Kalau aku pilih .... kak Juna aja deh!"
__ADS_1
"Jangan Juna lah. Kamu nggak tahu kalau Juna sudah di jodohkan dengan Delia. Bahkan kata mamanya, papanya Juna sudah melamarkan Juna ke orangtua Delia."
"Dan kalau kalian sudah punya pasangan. Mama punya permintaan yang terakhir."
"Apa itu, ma?"
"Kalian cari papa kalian untuk menjadi wali nikah nanti."
"APAAAA!"
"Vira mending nggak usah nikah daripada ketemu papa!" Vira berlari masuk kamar menutup pintu dengan keras.
...💐💐💐💐...
Dira duduk di meja kerjanya. Beberapa hari ini perusahaan bekerjasama dengan perusahaan besar. Dira diminta mendampingi Arjuna untuk menemui klien. Tentu saja Dira menolak, mengingat sikap Arjuna yang aneh. Seakan dirinya adalah pacar lelaki itu. Padahal sudah jelas Juna sudah ada Delia. Dira tahu kalau Juna sudah ada ikatan perjodohan dengan Delia. Jadi mana mungkin dia bisa menggeser posisi Delia.
Mobil yang mereka kendarai melaju di jalan raya Jakarta. Pertemuan yang tadinya di rencanakan di sebuah hotel ternama, diganti sang klien ke sebuah resto cepat saji. Mau tidak mau mereka harus mengikuti keinginan kliennya, karena mereka lah yang akan menawarkan kerjasama tersebut.
Mata Dira mengarah kalung bulan sabit. Kalung tersebut tidak dipakai Juna melainkan di jadikan hiasan mobilnya. Kalung yang berleher tali hitam. Ditengahnya tergantung bulan sabit.
"Kakak masih simpan ini?" Tanya Dira
"Iya, itu sepasang. Pasangannya ada sama Delia, kan kamu yang jadi kurirnya dulu."
Dira memandang lama kalung tersebut. Kalung yang sebenarnya bukan milik Delia. Helaan nafas panjang terdengar dari mulutnya.
"Oh, maaf lupa. Lagian aku mana tahu kalau itu isinya kalung, kan cuma di suruh anterin saja."
10 tahun yang lalu
"Ra, kamu bisa tolong aku." Pinta Delia sehabis pulang sekolah.
"Apalagi, Del. Nganterin untuk kak Juna lagi?kasih aja sendiri. Kenapa aku terus yang di suruh, kamu bisa titip sama ayu, adiknya kak Juna. Atau Eka yang selalu setia sama kamu. Kenapa harus aku?"
__ADS_1
"Mereka nggak ada yang mau, Ra. cuma kamu yang aku andalkan saat ini. Sekalian hadiahnya ini kalung sabit, aku malas pakainya, kayaknya murah harganya. Buat kamu saja." Delia menyerahkan kalung liontin bulan sabit.