
Hotel Nala, Bengkulu
Langkah kaki itu berjalan pelan, menghirup udara pagi yang menyapanya dengan lembut. Silauan sinar mentari tampak begitu mempesona. Tubuh tegap itu terus berjalan ke depan, suara deburan ombak terasa jelas. Senyumnyan merekah ketika melihat orang-orang sudah meramaikan jalanan. Kakinya tetap berjalan melihat apa yang ada di daerah itu. Ini hari kedua dirinya berada di kota raflesia tersebut. Dimana seperti permintaan atasannya akan ada pertemuan dengan bos pabrik gula dari Bengkulu Selatan.
Kakinya menginjak kearah pantai panjang.
Dinamakan demikian karena pantai ini memiliki garis pantai yang sangat panjang mencapai 7 km dan lebar pantai (garis pasang dan garis surut) sekitar 500 meter. Hal ini terjadi karena di sekitar pantai tidak terdapat karang sehingga saat air laut pasang membuat hamparannya menjangkau sangat jauh ke dalam pantai.
Selain itu, banyaknya pohon cemara dan pinus yang tumbuh di sekitar pantai ini juga merupakan keunikan tersendiri yang mungkin tidak dimiliki oleh pantai-pantai lainnya. Sebab, secara umum, pohon yang biasanya tumbuh di daerah pantai adalah pohon kelapa, dan ini tidak dijumpai di Pantai Panjang.
Pohon cemara dan pinus ini menambah kesejukan suasana di sekitar pantai. Pantai Panjang ini juga menjadi satu-satunya pusat objek wisata terapi dengan berjogging di saat pagi atau pun sore hari di lintasannya. Pantai Panjang yang memiliki pasri putihnya yang sangat halus, tidak akan mengotori kaki pengunjung saat berjalan-jalan.
Juna menghirup udara pantai yang menjadi ikon kota Bengkulu. Tangannya di bentangkan seakan ingin berkenalan dengan alam pantai tersebut. Tampak beberapa orang sudah berdiri di tengah terjangan ombak dengan jaring untuk menangkap pancingan. Juna mendaratkan tubuhnya di sebuah pondok kecil pinggir pantai. Masih menikmati suasana pantai, dirinya di kejutkan dengan orang yang menawarkan pesanan.
"Bang, nak pesan apa?" tanya seorang lelaki muda yang di tebak sekitar usia 17-an.
"Belum, dek. Nanti kalau saya mau pasti saya pesan." Tolaknya.
"Nggak bisa, bang. Abang duduk di lapak kami jadi harus belanja." si pemuda tetap memaksa.
Juna menghela nafas berat. Dia baru tahu kalau sekedar duduk saja harus belanja. Karena tidak enak pada penjual dia memesan kelapa muda. Tak lama pemuda itu meninggalkan Arjuna. Tangannya merogoh handphone guna mengabari orang-orang. Sambungan pun telah masuk, tinggal menunggu respon dari penerima telepon.
"Assalamualaikum,ma."
"Waalaikumsalam,nak. Kamu sudah sampai?" sapa sang mama.
"Sudah, ma. Ini lagi nunggu kelapa muda. Mama bagaimana keadaan disana. Juna kayaknya bakal lama pulang, ma. Kata pak Burhan ada tiga daerah disini yang harus di kunjungi. Papa gimana keadaannya?"
__ADS_1
"Alhamdulillah, nak. Meskipun pabriknya omset menurun, sekarang dia diajak bos kamu untuk menggabungkan usaha mereka. Cuma sekarang katanya perusahaan Dira yang sedang jadi sasaran debt colector. Kamu tahu sendiri kalau kita bertiga termasuk orang tua Eka terjerat saham dari tuan Shahab."
"Jadi bagaimana solusinya, ma?" tanya juna.
"Mama tidak tahu, nak. Katanya usaha kuliner Minang orang tua Eka terancam tutup. Sudah lima cabang yang di tutup keluarga Eka. Mamanya Eka minta Eka cerai dari suaminya. Mereka malu punya mantu kriminal.
Kalau mama entah kenapa tidak percaya kalau Wandi seperti itu. Dimata mama, Wandi adalah lelaki yang baik."
Selesai menikmati kelapa muda. Juna pun meninggalkan areal pantai, hanya dengan berjalan kaki Juna menikmati betapa indahnya ciptaan Tuhan. Pikirannya melayang seandainya ada seseorang ikut menemaninya di pantai.
"Pak Juna disini ternyata," seorang lelaki datang menghampiri Arjuna ketika sampai di hotel.
"Hari ini schedule kita apa pak?" tanya Juna.
"Hari ini kita ada pertemuan di aula gedung, pak. Dengan pak Wawan dari Bengkulu Selatan. Terus nanti akan ada tour guide yang akan menemani bapak mengenal wisata Bengkulu. Besok kita akan ke Manna buat melihat langsung cabang perusahaan yang mau dibuat pak Burhan. Soalnya yang akan menggantikan pak Burhan adalah cucu perempuannya."
Pak Hadi hanya tersenyum mendengar pertanyaan Juna. Dia sudah di wanti-wanti oleh Burhan agar tidak cerita soal siapa sebenarnya cucu atasannya.
"Non Tami sudah pernah diajak survey kesana, Mas. Nanti dia juga akan datang ke sini menjelang acara ulang tahun tuan Burhan."
"O" hanya itu yang di lontarkan oleh Juna.
Pak Hadi pamit meninggalkan Juna. Lelaki berusia 28 tahun tersebut kembali ke kamarnya untuk siap-siap melaksanakan schedule selanjutnya.
Selesai membersihkan diri, Juna pun sudah rapi untuk kegiatan selanjutnya. Ketika sampai di lobi hotel, dia duduk sambil memainkan gawai.
Matanya tersenyum ketika melihat story Delia yang mempersiapkan pernikahannya dengan Rian. Ada sedikit kelegaan tertanam di dadanya. Karena ada seorang lelaki yang mau mempertanggungjawabkan kesalahannya pada Delia.
__ADS_1
"Lihat tuh si Juna, sudah berasa dia yang jadi bos. Gayanya selangit," bisik Boy teman satu rekan Arjuna.
"Ya kan dia memang bakal kecipratan soalnya mau nikah sama cucu bos." sahut Darel.
"Tampangnya sok kalem tapi penjilat." jawab Boy lagi.
Kedua rekan Juna yang satu rombongan berangkat terus menjelek-jelekkan lelaki itu. Juna juga tahu itu, makanya dia berniat bicara pada cucu Burhan saat bertemu di acara nanti. Juna yakin cucu pak Burhan juga mungkin terpaksa menerima perjodohan itu. Dia pun lelah di jadikan cibiran orang-orang di kantornya.
"Mas Juna," sapa Hadi yang sudah di dalam mobil.
"Loh, katanya bakal acara di aula?"
"Tadi si klien bilang mau bertemu di Restoran Padang Sederhana dekat kantor Rakyat Bengkulu. Yuk, mas berangkat." Juna masuk ke dalam mobil diikuti Boy dan Darel.
...****************...
Jakarta, kediaman Dewi Savitri.
"Om kecewa sama kamu, Dewi. Kenapa kamu malah terlihat saham dengan si Shahab. Berapakali om bilang kalau ada apa-apa hubungi saya. Bukan malah bekerjasama dengan orang licik macam dia. Sekarang kalau sudah begini, menyesal kan?"
Dewi hanya diam saja. Dia juga tidak tahu kalau urusan dengan keluarga shahab berbuntut panjang. Tapi seharusnya dia tidak kena karena korban tuan Shahab adalah putrinya.
"Maafkan Dewi, om. Dewi waktu itu terdesak karena perusahaan di ujung tanduk. Om tidak lupa kan, Andre terlibat judi dan main perempuan yang memakai uang perusahaan. Saat itu Dewi masih kesal sama om, karena Andre adalah lelaki pilihan om Burhan."
Burhan duduk di salah satu sofa ruang tamu. Matanya mendadak berkaca mengingat perusahaan yang di bangun kakaknya dari nol. Haruskah berakhir seperti ini? hancur ditangan lelaki licik akibat ketamakan menantunya dulu.
"Om, akan ganti saham kalian dengan perusahaan gula. Jika umurku tak panjang, aku tak punya penerus. Jadi om mau kalian lah yang meneruskan pabrik, om. Sisa tebu yang ada di pabrik bisa kalian oleh menjadi barang daur ulang."
__ADS_1