
"Jadi kamu mau cari kerja,Na?" tanya Jamal saat menyambangi Tina di rumah lamanya.
"Iya, kak. Nggak enak cuma di rumah saja. Apalagi statusku menumpang disana." jelas Tina.
"Tapi kenapa kamu nggak kerja di kantor salah satu dari mereka. Pasti mereka bakal cariin pekerjaan yang cocok buat kamu."
"Entahlah, kak. Aku kan nggak sarjana. Dulu karena orangtuaku bangkrut dan diajak menikah sama Glen jadi nggak nerusin kuliah."
"Emang kamu dan Glen berpisah berapa tahun, Na?"
"Saat aku dan mama menginjak kaki di rumah ini. Itu waktu aku pergi dari rumah mertuaku. Aku pergi dari rumah karena beberapa wanita datang dan mengaku hamil sama Glen. Kesal, itu pasti. Aku saja tidur terpisah sama suamiku, tapi dia malah ngisi sama perempuan lain." kenang Tina.
"Kamu berapa lama pacaran sama Glen?"
"Sejak masuk SMA, bokapnya Glen itu teman se bisnis papa. Kata papa, dia dan bokapnya Glen temenan saat masih sekolah dulu. Dan nggak nyangka dia juga yang menikung papaku."
Tina mengenang yang pernah dia alami selama menikah dengan Glen. Awalnya dia kira Glen itu benar-benar mencintainya. Tina senang karena Glen tidak pernah aneh-aneh padanya. Walaupun Glen suka nongkrong di diskotik, tapi dia tidak pernah diajak oleh lelaki itu. Bahkan saat Tina mendapat SMS dari Feri untuk bertemu di hotel. Glen yang menemaninya datang kesana.
Ternyata Glen malah meninggalkannya disana. Tina baru tahu kalau yang memakai nama Feri adalah Andre, papanya Feri. Bersamaan dengan munculnya Feri seakan menggerebek dirinya dan Andre. Kemarahan Feri padanya sangat jelas. Tina sudah beberapa kali menjelaskan tapi lelaki itu sudah terlanjur murka.
"Na," Jamal membuyarkan lamunan Tina.
"Iya, kakak." jawab Tina seramah mungkin.
"Kalau seandainya ada yang melamar kamu bagaimana?"
"Ya nggak bagaimana, sih kak. lihat orangnya, tapi bukan maksudnya dari materi ya. Justru aku lihat dari keseriusannya. Mau nggak dia menerima statusku yang janda ini. Apalagi aku punya adik yang tidak bisa ditinggalkan."
"Kalau dia serius sama kamu. Jangankan adik, satu keluarga yang mau kamu boyong pun dia pasti menerima."
"Semogalah, Kak." Jawab Tina terdengar pasrah.
"Sekarang kamu mau kemana? tadi ngapain kamu ke lapas?"
__ADS_1
"Aku ke lapas membicarakan soal kasus itu, kak."
Maafkan aku kak Jamal. Aku terpaksa berbohong kalau Feri tadi nyatakan cinta sama aku. Aku nggak mau merusak perasaan kak Mayka.
"Oh .. Yasudah, aku antar kamu pulang ke rumah, ya." Tina mengangguk lemah. Tampak Jamal menghidupkan motor besarnya.
Sejenak Tina memandang kearah Jamal. Lelaki yang baik selalu ada untuk dirinya dan keluarganya. Sejak dia menginjakkan kaki di gang Purba. Rumah yang di tempati adalah milik saudara mamanya yang sudah meninggal. Saudara mama itu katanya belum menikah, tinggal sendiri di sana. Rumah itu sempat terbengkalai karena tidak ada yang mengurusi. Mama minta izin sama famili yang lainnya untuk menempati rumah itu.
Kenapa aku tidak merasakan apapun pada kak Jamal. Padahal dia selama ini banyak berkorban untuk keluargaku. Bahkan sampai sekarang dia belum menikah padahal usianya sudah diatas 30 tahun.
Dulu aku ingat ada salah satu tetangga kami ingin meminang kak Jamal jadi menantunya. Tetapi lelaki itu menolak. Selama ini banyak yang belum aku ketahui tentang kak Jamal. Apakah dia bujangan atau duda. Entahlah aku tidak ingin berburuk sangka. Selama dia tidak membuat masalah pada aku dan keluargaku, selama itu juga dimataku dia orang baik.
Tina beranjak dari tempat duduknya. Rumah nya yang sudah beberapa hari tidak di tunggu semenjak kasus penggerebekan dirinya dan Glen. Tina belum bisa mengambil keputusan apakah rumah itu akan dijual atau mungkin di sewakan.
Dia harus meminta persetujuan dari famili mamanya. Dia bahkan belum mengabari familinya tentang meninggalnya mamanya.
"Yuk, kak kita pulang." Tina menaiki motor besarnya Jamal.
Tina dan Jamal meninggalkan area komplek gang tempat mereka tinggal. Keduanya saling terdiam selama perjalanan. Jamal pun enggan memulai pembicaraan karena melihat sepertinya suasana hati Tina sedang tidak baik.
"Kamu mau kemana, Del? rapi dan wangi." sapa Arumi yang melihat menantunya sudah berpenampilan gaya.
"Mau antar makan siang buat mas Rian, ma. Aku tadi masak ayam kecap kesukaan mas Rian. Sekalian mau bawa Roger ke dokter, ma."
"Oh, tapi kalau menurut mama nggak usah ke dokter. Roger itu masih dua tahun. Kalau dia belum lancar bicara tinggal di latih saja." sahut Arumi.
"Tadinya begitu, ma. Tapi aku pengen tahu apa kata dokter dulu. Kata mamaku, aku dulu sampai di bawa ke dokter dan psikolog saat usia tiga tahun. Aku nggak mau apa yang aku alami nular ke Roger juga."
"Yasudah kalau itu menurut kamu baik. Mama nurut saja, kalian yang lebih tahu soal Roger." jawab Arumi.
Delia pamit sama mama mertuanya untuk ke kantor suaminya. Saat ini Delia tinggal bersama mertuanya. Sedangkan mama Yasmin tinggal bersama salah satu putranya di Bandung.
Mobil mengantarkan Delia sampai di depan kantor WO milik suaminya. Dengan penuh percaya diri dia melenggang ke ruang kerja milik Rian. Nada sumbang tentang status pernikahannya yang sudah memiliki anak pun menjadi bahan pembicaraan para staf.
__ADS_1
"Kalau aku sih setuju pak Rian sama mbak Dira. Dira mah nggak murahan kasih tubuhnya ke lelaki. Beda sama yang onoh. Bawa anak pas nikah. Belum tentu juga itu anak pak Rian." umpat salah satu karyawan.
Delia hanya bisa diam. Dia malas buang energi meladeni ocehan karyawan suaminya.
Ceklek!
Delia mengerjap matanya saat sampai di ruang kerja suaminya. Tak ada Rian dalam ruangan tersebut. Padahal tadi dia sudah mengabari kalau akan ke kantor membawa makan siang.
Delia menelepon suaminya. Terdengar deringan ponsel dari dalam meja kerja Rian. Delia membuka gawai suaminya, ternyata pesannya tak dibuka Rian.
Dengusan kesal terdengar dari bibir tipisnya.
"Dia kemana?"
Beberapa saat terdengar suara orang sedang mengobrol di luar. Suara wanita yang terdengar akrab pada suaminya.
"Terimakasih atas kerjasamanya, Rian. Aku nggak nyangka bakal ketemu kamu lagi setelah tamat SMA." ucap wanita tersebut.
"Renata maafkan aku yang dulu pernah selingkuh dari kamu. Masa itu masih menjadi transisi buat aku. Dimana aku masih belum yakin dengan perasaanku pada kamu."
Delia mendengar pembicaraan mereka hanya menggenggam ujung bajunya. Ternyata suaminya reuni bareng mantan pacarnya.
BRAAAAAK!
Delia membuka pintu dengan keras. Rian kaget melihat istrinya sudah ada di depan dirinya.
"Sayang!" Rian mengejar Delia yang pergi membawa rantang.
Delia memasuki lift dan di tahan Rian.
"Kenapa kamu tidak temani mantan pacarmu itu. Kamu pasti sudah pergi makan siang sama dia. Pantes saja ponselmu ditinggal, rupanya ..."
"Del, dengar dulu penjelasan aku." Delia keluar dari lift.
__ADS_1
Dalam perjalanannya dia merasa kepalanya agak pusing. Semua penglihatannya berbayang. Dia tak tahu lagi apa yang terjadi, Delia melihat tetesan darah yang entah dari mana. Seketika pandangannya gelap.