
Assalamualaikum semua pembaca disini.
Terima kasih sudah sempatkan mampir di karya saya. Ya walaupun tidak sekeren yang pemes. Tapi insyaallah bisa menghibur anda semua.
Soal kisah ini saya mau tanya masih ada yang mau lihat kisah Dira Juna Feri dan Tina. Tapi sepertinya pembaca disini sudah banyak mundur lima langkah.
Saya nggak bisa maksa kalau ada bacaan yang lebih menarik dari kisah ini.
Saya minta maaf kalau masih ada cerita yang kalian bilang bertele-tele. Sebenernya bukan bertele-tele sih, tapi jika di lompatin bisa jadi tanya menyelesaikan masalah yang ada berasa kurang buat saya. Seperti ada tanggung jawab yang saya tinggalkan. Tapi saya berterimakasih kalian sudah mengingatkan agar nantinya bisa di perbaiki lagi.
Saya minta maaf kalau tidak dilanjutkan disini lagi tapi akan dilanjutkan ke novel baru.
Saya mau memperkenalkan novel lanjutan kisah mereka di karya baru saya.
SEMESTA MERESTUI KAMI
SINOPSIS:
Selagi masih ada cinta, pasti masih ada jalan untuk pulang.
Sebuah keyakinan yang membuat Dira tetap yakin bahwa suaminya masih hidup dan suatu saat akan kembali. Tak peduli meski semua orang menganggap Arjuna telah meninggal dalam kecelakaan, tetapi selama jasad belum ditemukan, Dira percaya suaminya masih bernyawa.
Setahun dalam penantian, Dira dipertemukan dengan Sandi—seorang lelaki yang sangat mirip dengan Arjuna. Dira bersikeras menganggap Sandi sebagai Arjuna, tanpa mau tahu dengan status lelaki itu.
__ADS_1
Sampai akhirnya, waktu yang menjawab segalanya, mengungkap siapa Sandi dan apa hubungannya dengan Arjuna.
...Jika semesta merestui kami pasti akan bersama lagi...
...~Dira~...
blurb :
Malam ini aku terbangun mendengar suara gelegar petir. Suara gerimis terdengar sangat kencang. Kilat mengerjap dan halilintar menyambar. Suasana di rumah sakit tampak begitu lenggang. Netraku beralih pada kaca rumah sakit yang basah di guyur hujan.
"Ma, mas Juna mana?" tanyaku.
"Ma, aku merasa sesuatu yang tidak enak?"
"Kamu hanya tidak biasa jauh dari Juna. Nanti setelah kamu pulih, mama izinkan kamu ikut sama Juna ke Lembang."
"Tapi bagaimana dengan pekerjaanku?"
"Ada mama, ada kakakmu Feri. Kamu tenang saja."
Aku melihat mama mendapatkan telepon entah dari siapa. Aku tidak tahu kenapa perasaanku gelisah. Satu yang ku pinta darimu ya Allah, lindungilah suamiku dimanapun dia berada.
__ADS_1
"Assalamualaikum, Dira."
"Waalaikumsalam, Eta. Terimakasih sudah datang menjenguk aku."
"Sama-sama, Ra. Kamu yang sabar, mungkin si debay belum rezeki, lagian kalian masih banyak waktu untuk bikin lagi."
Aku mendengar suara orang berdebat di luar pintu ruang rawat. Entah apa yang apa yang mereka ributkan. Aku seperti mengenal pemilik suaranya. Ya, itu suara mama dan kakakku.
"Mama mohon jangan sekarang kabari Dira."
"Cepat atau lambat Dira harus tahu, ma."
"Tapi situasinya sedang tidak memungkinkan, Dira baru semalam di operasi."
"Sampai kapan, ma. Sampai dia nanti tahu kalau sekarang dia sudah jadi janda."
Deg! janda! apa-apaan ini! aku bukan janda, aku masih punya suami. Kenapa mereka bilang aku sudah jadi janda.
Entah kenapa aku membuang rasa bingungku dengan membuka televisi. Entah kenapa jantungku seperti berdetak kencang.
"Pemirsa telah terjadi kecelakaan tunggal di simpang desa Mening agung. Mobil dan pemiliknya jatuh ke dalam jurang yang dalam. Di pastikan mobil dan pemiliknya masuk ke dalam danau. Saat ini mobil sudah di evakuasi. Hanya saja pemiliknya masih dalam pencarian."
Mobil itu!
__ADS_1
Tidaaaaaakk!