
"Kau tahu kalau aku dan Dira akan menikah sehabis lebaran ini. Tidak menyangka bisa bertemu dengan kamu saat lamaran kemarin. Ya, Tuhan menakdirkan kita agar bertemu dan menyelesaikan urusan kita.
Kamu juga akan menikah dengan Arjuna kan. Saya minta kamu jaga tunanganmu agar tidak menjadi duri dalam hubungan kami,paham!"
Delia hanya tersenyum sinis mendengar ucapan Rian. Tubuhnya yang semok mendekati lelaki "Mantan one nightnya" tangannya dilipat menutupi dada. Sesekali menggelengkan kepalanya dengan pelan.
"Rian...Rian... aku pikir kamu adalah lelaki gentle. Seorang lelaki gentle akan berani mengakui masa lalunya yang kelam. Tapi aku salah. Kamu itu lelaki pengecut yang bersembunyi di balik kata komitmen."
Rian hanya menghela nafasnya dengan berat. Saat ini di hadapannya adalah perempuan yang dia cari selama ini. Perempuan yang selalu mengejarnya di dalam mimpi. Tapi itu sudah dia lupakan, karena yang dicintainya hanya Dira bukan Delia.
Delia berjalan meninggalkan Rian yang masih mematung. Beberapa Rian pun kembali mengikuti Delia, masih berharap penjelasan tentang tragedi yang mereka alami.
"Kenapa kamu mengikutiku? Jangan bilang kamu mau melakukannya lagi padaku. Heeh! Dengar, ya! Sedikitpun aku malas berurusan dengan kamu! Lelaki laknat, tampang suci, kamu kira bisa nipu aku seperti yang akan kamu lakukan pada Dira, hah!"
Rian menahan keras tangan Delia. Tak peduli wanita itu meringis kesakitan, genggaman tangannya semakin kuat.
"Hey! Perempuan tidak tahu malu. Apa tidak terbalik? Kalian tidak diundang. Tiba-tiba muncul di vila saya. apa coba kalau bukan kamu yang cari perkara? Saya sudah punya kehidupan baru begitu juga kamu. Jadi tolong lupakan yang terjadi di London dulu. Bukannya itu juga kerjaan kamu bersama Alex untuk menjebak saya. Kamu pikir saya bodoh!
Semua orang tahu bagaimana pergaulan Alex dengan para wanita. Yang jelas semuanya bukan perempuan baik-baik. Kalau perempuan baik pasti membatasi pergaulan dengan lelaki hidung belang seperti Alex.
__ADS_1
Bagaimana perasaan orangtuamu kalau tahu anaknya seperti itu. Kasihan sekali. Mereka sampai bikin pertunangan mubazir, kasihan Arjuna kalau tahu calon istrinya seperti ini."
Delia tetap santai menghadapi sikap Rian. Tubuhnya berputar mengelilingi lelaki itu. Sesekali tertawa kecil, menutup ginsulnya.
"Kenapa? Kamu takut? Hahahahaa... saya kesini juga demi Dira bukan karena kamu. Saya mau 1melindungi Dira dari lelaki macam kamu Rian. Dasar predator!" Delia terus mempertahankan benteng dirinya.
Langkahnya tetap berjalan meninggalkan Rian. Tangan Rian di tepisnya dengan kasar. Dia memang bertujuan ingin membalaskan sakit hatinya pada Rian. Tubuhnya rebahan di atas ranjang.
"Kakak kenapa?" Vira melihat Delia masam rebahan di ranjang.
"Nggak papa, Vir. Kakakmu mana?" Tanya Delia sedari tadi tak melihat Dira.
"Tapi aneh, masa mancing di kali malah kena ranting?" Delia masih belum paham.
Vira hanya menaikan bahunya. Dari yang di dapat infonya melalui Satria, Arjuna hanya iseng mengganggu binatang yang ada di batang kecil dekat kali. Si binatang marah sampai ranting terlepas mengenai Arjuna.
Delia duduk di sudut jendela vila. Menatap langit yang mulai gelap. Udaranya semakin dingin membuatnya harus menutup tubuhnya dengan jaket tebal. Delia mengganti bajunya di depan Vira, sehingga sisa bekas sesar terlihat.
"Itu kenapa perut kak Delia?" Tanya Vira.
__ADS_1
Delia hanya diam. Dia bingung harus dari mana menjelaskan pada gadis muda di depannya. Cepat-cepat dia berpindah ke kamar mandi. Lalu keluar sudah mengganti bajunya.
"Makan sudah siap!" Seru mama Dewi memanggil para anak-anaknya.
"Yuk, kak kita makan. Kak Delia belum mencicipi ikan bakar buat kak Dira kan? Enak banget!" Vira mengacungkan jempol. "Kak Juna aja pernah nyicipin masakan Dira. Sampai makannya nambah." Tambah Vira.
"Sebenarnya tanggung kalau makan sekarang. Ini baru jam lima sore. Kenapa nggak sekalian makan malam?" Sahut Delia.
"Mama malam ini mau pulang diantar kak Satria. Mama memikirkan kak Feri yang tidak ikut. Padahal kak Feri kan dah gede. Ngapain juga di jagain." oceh Vira.
"Vira, perempuan kalau sudah jadi ibu pasti perasaan hatinya akan tajam. Semua yang menyangkut sang anak akan menjadi prioritas utama bagi ibu. Meskipun anaknya sudah tumbuh dewasa dan mandiri, dimata ibu anaknya tetap sosok kecil yang harus di jaganya." jelas Delia.
Vira menatap takjub mendengar ucapan Delia. Seakan tersihir dengan kata-kata bijak tersebut. Selama ini Vira selalu menganggap Delia itu sombong. Karena selama ini semua sahabat kakaknya tidak ada yang dekat dengannya. Tapi dugaannya salah, Delia adalah wanita baik yang dikenalnya.
Di meja makan mama Dewi mengumpul para muda mudi yang sudah seperti anaknya sendiri. Hal itu sengaja dia lakukan agar mempererat hubungannya dengan calon menantunya. Dewi duduk di kursi utama layaknya seorang ibu yang berkumpul dengan anak-anaknya.
"Alhamdulillah. Mama bisa berkumpul bersama kalian. Saya senang kalian bisa mempererat hubungan persaudaraan walaupun tidak sedarah. Saya juga merasa terhormat Delia mau membaurkan diri. Mama malam ini akan pulang ke jakarta bersama Satria. Soalnya banyak yang akan mama urus terkait menjelang pernikahan Dira dan Vira."
Mama Dewi mengumumkan rencana kepulangannya ke Jakarta. Wanita berusia 50-an tersebut juga mengumumkan kalau persiapan pernikahan Dira dan Vira akan di serempakkan. Demi menghemat waktu dan biaya.
__ADS_1