Sayembara Jodoh

Sayembara Jodoh
BAB 34


__ADS_3

Seorang gadis muda berkulit putih berdiri di depan pintu kelasnya. Kelas yang berada di lantai dua kampus swasta tersebut menjadi tempat melepas penatnya.


Gadis itu adalah Savira. Di usianya yang masih 19 tahun dia sudah menerima pinangan sang kekasih yang di pacarinya selama 5 tahun. Bagi Vira, Satria adalah paket lengkap sebagai seorang lelaki.


Satria selalu sabar menghadapi sifat Vira yang labil. Kadang baik, kadang ketus dan yang seringnya masih kekanak-kanakan.


Namun, bukan itu yang menjadi pikiran gadis itu. Dia memikirkan bagaimana kelanjutan rencana pernikahannya yang rencana di gelar agustus mendatang. Bukan dia tak yakin pada pria itu, namun hebohnya sang mama dengan urusan kakaknya membuat sedikit ragu. Akankah pernikahannya tetap di laksanakan? Sementara mamanya sibuk dengan lamaran kakaknya.


Kakinya terus mengayun saat duduk di kursi panjang di lantai dasar kampusnya. Tangannya menari diatas layar gadgetnya, menghubungi seseorang.


"Iya, aku lagi di jalan." Sapa si penerima telepon.


"Cepetan, ya, kak. Aku sudah lapar, nih." Rengek Vira.


"Ini sebenarnya lapar apa kangen sama aku." Jawab pemilik bariton itu.


"Dua-duanya. Pokoknya cepetan ya!"


"Iya, aku sudah dekat arah kampus kamu." Si penerima telepon menutup komunikasinya dengan Vira.


Vira berdiri di depan pintu masuk kampus. Matanya menunggu penampakan mobil Jeep hitam yang biasa dipakai Satria.


Senyumnya mengembang ketika melihat mobil itu terparkir dengan sempurna. Tampak lelaki itu mengklakson supaya memberi tanda kedatangannya. Vira langsung menghampiri mobil tersebut. Tubuhnya langsung memanjat ke mobil dan duduk dengan sempurna.


"Jadi kita kemana, sayang?" Tanya satria sebelum menghidupkan mesin mobilnya.


"Cari makan terus kita ke mall."


"Ke mall? Ngapain?"


"Kamu harus tampil menawan nanti. Jangan kalah sama kak Rian."


"


"Rian siapa? emang nanti malam ada apa?" Satria masih belum paham.

__ADS_1


"Rian itu calon suami kak Dira. Nanti malam acara lamarannya. Jadi kakak datang bawa om dan tante. Makanya kita ke mall buat persiapan penampilan kakak nanti malam."


"Nggak usah ke mall segala. Bajuku masih banyak yang bagus. Kamu bukannya banyak gaun cantik di lemari. Jangan boros, sayang. Mending uang kamu di tabung."


"Tapi, kak... Ini kan uang bulanan aku nggak akan habis-habis, kok"


"Mulai sekarang, kamu harus belajar mengatur keuangan. Dimana nantinya dalam rumah tangga kita, harus mengatur pengeluaran. Mana yang perlu dipakai dan mana yang tidak. Aku rasa sebagai anak baru, gajiku tidak besar. Belum lagi buat uang kuliahmu nanti."


"Kan ada mama."


"Vira, kalau kita menikah nanti semua urusan kamu bukan tanggung mamamu ataupun kakak-kakakmu. Tapi akulah yang bertanggung jawab terhadapmu. Makanya dari sekarang aku minta kamu belajar mandiri. Supaya nanti tidak kaget.


Aku tidak akan membuat kamu bersusah payah bekerja. Aku akan bawa asisten yang akan mengurusi keperluanmu."


klik


Malam yang dingin ini membuat ku menangis


Melihat gambar kita yang dulu bahagia


Tuhan tolong kembalikan kisahku


Cinta dan sakiti hatiku


Kalau itu dapat membawamu


Kembali ke pelukanku lagi


Aku rela memberi segalanya ho


Cinta aku sakiti aku


Kalau itu dapat membawamu


Cinta dan sakiti hati ku

__ADS_1


Kalau itu dapat membawamu


Kembali ke pelukanku lagi


Aku rela memberi segalanya ho (cinta sakiti aku bila itu dapat bawamu)


Untuk selamanya


Kembali ke pelukanku lagi


Aku rela memberi segalanya untukmu


"Apaaaa! Dira malam ini mau lamaran." Juna terkejut saat Ayu mengabari terkait acara lamaran Dira.


"Kenapa kak Juna kaget, sih!" Sahut Ayu heran dengan reaksi kakaknya.


"Iya, karena dia baru saja kenal dengan lelaki itu. masa langsung lamaran." Juna mencoba menetralkan pikirannya.


"ya, bagus dong, kak. Dari ngelamar cuma omongan doang tapi nggak ada actionnya. Aku senang Dira dapat lelaki yang benar-benar mencintainya. Bukan buat pelarian doang." Ayu sengaja memancing reaksi sang kakak.


"Yu, jadi aku harus bagaimana?"


"Ya, ampun kakak harus terima konsekuensinya. Kalau memang kakak ragu Delia. Kenapa dari kemarin kakak nggak batalin saja perjodohan itu?"


Juna hanya menunduk. Bukan tidak tegas, dia pernah mengutarakan keinginannya pada kedua orangtuanya. Tapi di tentang oleh papanya. Menurut papanya, membatalkan perjodohan sama saja bunuh diri. Karena keluarga Shahab sudah berjasa pada keluarga Arjuna. Papanya takut Tuan Shahab mencabut modal yang sudah di berikan sebesar 70%.


"Kak Juna mau kemana?" Tanya Ayu melihat kakaknya terburu-buru.


"Aku mau bicara Tuahn Shahab untuk membatalkan perjodohan kami. Kamu tahu, Yu, keluarga Delia yang membuat aku resign dari kantornya Feri. Mereka melakukan itu tanpa bicara denganku. Itu sudah bertanda kalau kita di kendalikan mereka."


Ayu mengernyitkan dahinya. Seakan tak percaya dengan cerita kakaknya. Selama ini dia mengenal keluarga Delia yang terbilang terlalu baik. Jadi tidak mungkin Tuan Shahab sampai segitunya mengatur kehidupan kakaknya.


"Jangan gegabah, kak. Pikirkan matang-matang, kakak tahu resikonya kalau kakak melakukan ini. Dampaknya bukan hanya pada kakak. Tapi juga keluarga kita, ingat mama dan papa, kak. Toh kakak nantinya juga akan menempati posisi bagus di perkebunan Lembang."


"Aku tidak peduli, aku lelah dengan semua ini, Yu. Aku capek jadi boneka mereka." Juna meninggalkan Ayu dan memasuki.

__ADS_1


"Ya, Allah bagaimana ini! Mas .... Mas ... Awwww" Ayu memegang perutnya, matanya terbalalak melihat darah mengalir dipahanya.


__ADS_2