
Masih di rumah sakit
Waktu sudah menunjukkan akan munculnya matahari. Langit yang tadi gelap sekarang berganti dengan awan yang cerah. Di lorong rumah sakit terdengar langkah terburu-buru. Seakan tidak ingin melewatkan waktu sedikit pun.
Langkah itu terhenti di sebuah ruangan. Dimana dari kaca terlihat sosok yang sedang berbaring bersama alat medis yang mengukung tubuh sosok itu.
Dua wanita beda generasi melangkah mendekati ranjang pasien. Salah satu dari mereka langsung memeluk tubuh Dira yang masih terbaring.
"Ya Allah anakku, kenapa kamu seperti ini?" isaknya sambil memeluk tubuh Dira.
"Ma, sabar. Yang penting kak Dira sudah dapat penanganan dokter." Vira menyabarkan mamanya.
Dewi dan Vira sudah berada di dalam kamar rawat Dira. Tangis sedih seorang ibu yang melihat anaknya berjuang melawan maut. Tak disangka kemarin anaknya masih baik-baik saja, sekarang malah terbaring tak berdaya di rumah sakit. Vira melihat Juna masih berdiri di depan kaca dinding rumah sakit. Dengan cepat gadis muda itu mendekati calon kakak iparnya.
"Ini semua karena kak Juna?" tuduh Vira.
"Kalau saja kak Juna tegas dari awal semua tidak akan seperti ini. Asal kakak tahu, Kak Dira itu cinta sama kakak. Tapi dia menghargai perasaan kak Delia. Tapi kakak terus mengoyak perasaannya. Seandainya..."
"Vira... aku dan Delia sudah lama putus. Jadi urusanku dengan Delia sudah selesai."
"Belum, kak. Selama itu berurusan dengan tuan Shahab tidak akan pernah selesai. jadi aku minta kakak jangan kesini lagi. Karena kehadiran kakak akan membuat perasaan kak Dira semakin sakit." usir Vira.
Juna tetap bersikeras tetap akan di dekat Dira. Baginya, selama Dira belum sadar dia tidak akan tenang. Lelaki itu melangkah pelan menuju ranjang tempat Dira berbaring. Vira yang akan mengusir Juna ditahan oleh Dewi. Bagi Dewi, walau bagaimanapun Juna lah yang menyelamatkan nyawa Dira. Juna lah yang sejak Dira hilang sibuk menyusun strategi untuk penyelamatan itu. Lelaki itu duduk sambil menggenggam erat tangan Dira. sesekali mengecup jari tangan Dira.
Hari itu Juna diberi kesempatan untuk berada di sisi Dira. Mama Dewi tidak menyalahkan Juna atas yang terjadi pada Dira. Hanya saja Feri dan Vira masih kesal karena motif penculikan Dira adalah Arjuna. Vira juga menganggap kalau Delia terlibat karena cuma wanita itu yang tidak terima hubungan Dira dan Juna.
Sebuah kursi roda berjalan di menuju ruang rawat Dira. Pemilik kursi tersebut hanya bisa menatap Dira melalui dinding kaca. Tatapannya sayu saat melihat seorang lelaki duduk di samping sahabatnya. Kepalanya sesekali menunduk karena malu. Pada akhirnya dia memilih memutar kursinya menjauhi ruangan itu.
Kamu tahu Del, aku sangat merindukanmu. Bisa kamu bayangkan kita LDR baru beberapa bulan. Tapi rasanya sudah setahun.
Juna: Del, kenapa kamu tidak memberikan kesempatan untuk mencintaimu.
__ADS_1
Delia: Maaf kak Juna. Kakak tahu aku tidak boleh pacaran sama papa. Aku harus kuliah yang rajin agar bisa membanggakan kedua orangtuaku.
Juna: Tapi, Del.
Delia: maaf kak aku tidak bisa menerima cinta kakak.
Delia terus menggerakkan kursi rodanya. Pikirannya terus melaju pada kenangan bersama Arjuna. Dimana lelaki itu dulu terus mengejarnya. Dimana seorang Arjuna yang juga dia sukai mendekatinya tanpa lelah. Saat itu dia takut pada ayahnya. Dia takut mengecewakan kedua orangtuanya. Hingga pada akhirnya dia memang mencoreng nama orangtuanya.
"Del,"
wanita itu tercekat saat namanya di panggil. Dia memilih mengabaikan panggilan itu. Rasanya dia sudah tak punya muka lagi untuk bertemu dengan lelaki itu ataupun keluarga Dira.
"Tunggu!"
"Kak saya mau istirahat." elaknya. Pelan-pelan terdengar isakan kecil dari bibir wanita itu.
"Del, meskipun kamu dan aku tidak memiliki hubungan apapun. Kamu tetap adik buat aku, sama seperti Dira, Ayu dan Eka. Sejak dulu adikku bukan hanya Ayu saja, tapi kalian bertiga."
"Kamu tidak pernah mengkhianati aku, Del. Justru aku yang salah karena jatuh cinta pada Dira. Cinta itu tumbuh dengan sendirinya. Maafkan aku ..."
"Kak, selama satu tahun di London, .... aku hamil dan melahirkan. Aku terjebak one night dengan seorang pria sewaktu di London. Aku hamil sedangkan pria itu menghilang. Dan sekarang pria itu datang untuk mempertanggungjawabkan semuanya."
"Siapa pria itu..."
"Dia ...Rian"
Sebuah ruangan khusus
Tuan Abdullah Shahab saat ini menjalani pemeriksaan dari pihak kepolisian. Terkait keterlibatannya pada penculikan Dira, kasus KDRT terhadap istrinya. Tak ada guratan kecemasan di wajah lelaki itu.
"Saya Abdullah Shahab, bersumpah tidak melakukan apa yang di tuduhkan. Ada beberapa pihak yang merasa tersaingi dengan kesuksesan saya. Kalian tahu sendiri kalau dalam bisnis itu tidak mengenal kawan." ucapnya penuh percaya diri.
__ADS_1
Farhan, Oka dan Rayyan hanya memandang kecut sikap ayahnya. Mereka hanya mengurutkan dada melihat betapa santainya papanya. "Kalian tenang saja. Pengacara akan mengurus semuanya. Papa pasti akan bebas."
"Pa, sadar. Hukuman papa akan semakin berat. Dira bahkan nyaris mati karena ulah papa." kata Oka.
"Maaf, pak. Ini ada surat dari pengadilan agama."
"Surat?" Tuan Shahab mengerutkan dahinya.
"Iya, tuntunan cerai dari ibu Yasmin." jawab stafnya.
"Hahahaha .... dia mau cerai. Siap-siap dia jatuh miskin."
"Pa, kita ini sudah miskin." jawab Oka melemah.
"Apa maksud kamu? kita ini kaya tujuh turunan. Tidak akan bisa miskin."
"Pa, tadi rumah dan resto disita bank. Terus para relasi menarik kerjasama dan sahamnya yang pernah papa tanamkan. Bukan hanya itu, pa. Para buruh pabrik minta resign secara bersamaan. Selesai,pa." jelas Oka.
Tuan Shahab masih menyunggingkan senyuman. Dia tidak peduli dengan hal itu. Toh masih ada aset tersimpan milik keluarga turun temurun. Aset tersimpan yang tidak ada orang tahu. Tuan Shahab terus tersenyum sendiri.
Ketiga putra tuan Shabab hanya bisa menatap pilu sikap ayahnya. Polisi menyatakan kalau jam besuk sudah habis. Mereka memeluk papanya secara bergantian. Terlebih Oka, yang hari-harinya lebih banyak bersama papanya. Oka awalnya enggan dekat dengan sang papa karena tidak kuat menahan pedih.
"Pa, permintaan kami cuma satu, papa bertobatlah. Kembali ke jalan Allah. Semua bisnis yang papa jalani tidak ada dengan jalan baik. Jalurnya kotor semua. Kejadian Delia, mama minta cerai, semua punya kita habis. Itu tandanya Tuhan sedang menegur kita."
Shahab hanya tertawa kecil. Meskipun dalam hatinya terasa sakit. Ada pedih yang dirasakannya. Aset yang katanya turun temurun sudah habis diambil negara. Padahal bukan pelaku korupsi. Hanya mendalangi penculikan. Itu juga karena rasa sayangnya pada anaknya.
"Kalian jaga diri baik-baik. Maafkan papa yang belum bisa menjadi ayah yang baik untuk kalian berlima. Sampaikan maaf papa pada mama Yasmin karena kelakuan papa selama menjadi suaminya."
"Pa,"
Tuan Shahab berbalik menatap putranya.
__ADS_1
"Tadi Delia kabari kalau dia akan menikah dengan Rian Minggu depan. Dia minta restu papa." sambung Rayyan.