Sayembara Jodoh

Sayembara Jodoh
BAB 107


__ADS_3

Di sebuah lobby hotel Nala, dua keluarga sedang berbincang asyik. Feri duduk di luar lobby melihat suasana malam di kota bunga raflesia tersebut. Lelaki itu enggan terlalu lama di dalam.


Entah kenapa dia takut dengan pertanyaan horor yang sebentar lagi menyerangnya. Meskipun statusnya duda, jangan bilang sekarang sudah aman.


Tidak! beberapa waktu yang lalu dia sempat menolak permintaan mantan mertuanya untuk turun ranjang. Karena baginya menikah itu sekali seumur hidup. Hanya almarhum Meyra yang masih bertahta di hatinya. Apalagi istrinya meninggal bersama bayi yang di dalam kandungannya. Seandainya Meyra masih ada mungkin dia sudah merasakan jadi seorang suami dan ayah. Feri menyeka air matanya tatkala teringat mendiang istrinya.


Sementara di lobby hotel, pembukaan obrolan orangtua pun sudah di mulai. Vira mulai menguap mendengar cerita-cerita para orang tua. Dia mau keluar tapi segan. Takut di kira tidak sopan. Mana Feri sudah ngacir duluan, Vira menyesal menolak ajakan Feri tadi. Mana kakak perempuannya pasti sedang menikmati malam bahagianya. Dan sekarang dia jadi kambing congek di ruangan ini.


Beberapa saat kemudian Dira dan Juna muncul dengan bergandengan tangan. Vira menatap wajah mereka yang berbinar layaknya pengantin baru. Seakan ada gejolak rasa yang berdesir, dia tidak cemburu pada kakaknya, tidak juga punya perasaan khusus pada Arjuna.


Momen itu mengingatkan dirinya saat menerima lamaran dari Satria. Entah kenapa dia merindukan lelaki itu, karena selama ini dia hanya dekat dan mencintai Satria, tidak dengan lelaki lain. Vira sadar kalau Satria tidak mungkin mau kembali lagi padanya. Karena dialah yang memutuskan semuanya, bukan lelaki itu.


Vira berdiri bersama keluarga yang lain. Bertepuk tangan saat menyambut datangnya pasangan tersebut. Matanya mencari sang kakak yang tadi katanya cari angin.


Dira dan Juna menyalami keluarga secara bergantian. Saking asyiknya Vira merasa di lupakan, tak lama Juna menghampiri dirinya. Lelaki itu tahu situasi yang dirasakan Vira. Jadi kambing congek diantara para orang tua. Setelah itu Dira dan Juna duduk berdampingan di kursi yang di sediakan pihak hotel. Layaknya pengantin mereka disandingkan bagaikan raja dan ratu. Padahal baru momen perjodohan, apalagi kalau mereka nikah nanti.


"Saya enggak menyangka kalau calonnya itu Dira." ucap mamanya Juna.


"Lah, jeng saya kira kalian sudah tahu." mama Dewi juga kaget dengan penuturan calon besannya.


"Belum, jeng. Saya juga tidak menyangka kalau jeng Dewi punya hubungan keluarga sama pak Burhan."


"Om Burhan itu adik papa saya. Sejak papa saya meninggal dia yang mengurusi keperluan saya. Hingga saya punya anak pun dia masih banyak andil." cerita mama Dewi.


"Oooo ... begitu." hanya itu yang bisa di ucapkan calon besannya.


"Jun," mamanya Juna memanggil putra sulungnya.

__ADS_1


"Iya, ma." Juna mendekati mamanya.


"Kamu ingat rencana itu? sekarang waktunya kamu bilang pada mereka. Mumpung lagi pada berkumpul."


"Iya, ma. Ini lagi ngumpulin nyali."


"Ya ampun, nak. Mana anak mama yang nyalinya gede kemarin. Masa sudah ciut gitu saja."


"Oke, huft .... bismillah."


Juna mengambil mic yang disediakan pihak hotel. lama dia terdiam demi mengumpulkan semangatnya.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatu." Juna memulai ucapannya.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarokatu." jawab para keluarga.


Riuh suara tawa para orang tua mendengar kelakar Arjuna. Sementara yang di goda hanya manyun saat mendengar ucapan Juna.


"Yang tercinta, calon istri saya, Medhira Utami. Terimakasih kamu mau membuka hati buat saya. Ya walaupun mencairkan hati kamu lumayan susah. Ibarat di lelehkan di pemanasan pasti akan cair dan meleleh. Tapi ini nggak meleleh juga. Dan dari situ saya sadar, perlu perjuangan berat buat mendapatkan kamu."


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatu, saya sangat berterimakasih kasih pada pak Burhan, apa saya sekarang boleh manggil anda opa Burhan.


Eh, maaf pak kan saya masih belum resmi ya.


Saya sudah dipertemukan oleh seorang gadis cantik. Yang sudah lama saya menantikannya. Seorang gadis yang selama bertahun-tahun bersabar menanti cinta saya. Seorang gadis yang selalu ada di samping saya. Tapi maaf saya kelamaan peka nya.


Sungguh malam ini menjadi spesial rasanya. Karena saya akan mewujudkan apa yang selama ini kami tunggu.

__ADS_1


Tante Dewi, izinkan saya meminang putri anda Medhira Utami. Untuk menjadi istri saya, pendamping hidup saya, ibu yang nantinya untuk anakku. Saya minta restu pada Tante untuk menikahi Dira seminggu lagi. Maaf ini sudah saya persiapkan kemarin. Saya hanya mempersiapkan untuk akad saja."


"Juna, Tante merestui kalian. Tante paham bagaimana perjuangan kamu meluluhkan hati Dira. Tante pernah bilang sama kamu, dulu Tante pengen banget kamu jadi menantu saya. Doa saya terwujud, jika suatu saat Tante pergi, rasa tenang melihat anak-anak sudah punya pendamping."


"Juna,"


Opa Han mendekati Arjuna. Lelaki berusia 75 tahun itu sangat senang keinginannya terwujud.


"Saya senang kamu bisa mewujudkan impian kami. Kamu tahu, sebenarnya saya sudah lama tahu tentang kamu, Dira dan juga anaknya Shahab. Sudah lama saya tahu, kalau cucu saya ini punya perasaan khusus sama kamu. Waktu itu saya ingin melihat seberapa besar tekad kamu. Dan ternyata saya tidak salah pilih. Selamat Juna, kamu sudah mendapatkan cinta cucu saya. Saya merestui kalian."


Acara malam itu berlangsung dengan lancar. Juna dan Dira akhirnya mengantongi restu dari kedua orang tua mereka. Setelah perjalanan panjang Arjuna meluluhkan hati Dira. Setelah bertahun-tahun cinta yang dipendamnya membuahkan hasil. Keduanya tak pernah melepaskan senyuman. Dira merasa terharu dengan kejutan dari keluarganya. Juna melihat wajah kekasihnya sudah mulai sembab.


"Kok sedih?"


"Aku bukan sedih,kak. Aku terharu dengan yang mereka lakukan untuk kita. Tadinya aku sudah pasrah jika harus menerima calon dari opa. Tapi ternyata calonnya malah kakak."


"Hmmm... kamu bahagia Dira?"


"Tentu, kak. Nggak sia-sia nungguin orang nggak peka selama 15 tahun. Meskipun aku mulai jatuh cinta sama Rian sebenarnya. Tapi entah kenapa sosok Arjuna nggak mau nyerah juga. Fisiknya hilang, tapi dia ngejar aku terus melalui mimpi. Kan gila tuh orang."


"Ya kan aku maju terus pantang mundur. Kamu tidak lupa arti nama Arjuna, Kokoh, dan tampan. Tanpa aku kejar, cewek-cewek sudah klepek duluan sama aku."


"Ih, kumat narsisnya." Dira pergi meninggalkan Juna di depan pintu hotel.


"Kamu mau pulang? kan acaranya masih panjang" tanya Juna.


"Panjang apaan, nggak lihat itu opa udah naik mobil. Kak Feri mana nih, kok belum kelihatan."

__ADS_1


"Pulang sama aku saja, sayang." Dira mengangguk.


__ADS_2