
Ketika saya memikirkan tahun-tahun saya ingin bersamamu
When I think of all the years I wanna be with you
Bangun setiap pagi bersamamu di tempat tidurku
Wake up every morning with you in my bed
Itulah tepatnya yang saya rencanakan untuk dilakukan
That's precisely what I plan to do
Dan Anda tahu suatu hari nanti, ketika saya mendapatkan uang saya dengan benar
And you know one of these days, when I get my money right
Belikan Anda segalanya dan tunjukkan kepada Anda semua hal yang lebih baik dalam hidup
Buy you everything and show you all the finer things in life
Selamanya akan cukup, jadi tidak perlu terburu-buru
Will forever be enough, so there ain't no need to rush
Tapi suatu hari, saya tidak akan bisa meminta Anda cukup keras
But one day, I won't be able to ask you loud enough
Aku akan berkata, "Maukah kamu menikah denganku?"
I'll say, "Will you marry me?"
Saya bersumpah bahwa saya akan bersungguh-sungguh
I swear that I will mean it
Aku akan berkata, "Maukah kamu menikah denganku?"
I'll say, "Will you marry me?"
💐💐💐💐
"Kamu suka?"
__ADS_1
Sebuah gaun cantik berwarna pink muda berdiri di hadapannya. Delia hanya tersenyum kecil meskipun belum terlihat guratan bahagia. Dirinya masih menyesuaikan diri
dengan calon suami dan anaknya. Roger sampai saat ini belum mau di dekat Delia, anak itu hanya mau bersama papanya. Delia mencoba memposisikan dirinya karena dulu pun dia juga menolak kehadiran Roger.
Saat itu dimatanya apa yang terjadi adalah sebuah aib. Dimana dia harus berusaha melupakan kalau pernah hamil dan melahirkan. Mungkin terdengar kejam, tapi itulah yang dirasakannya saat mengetahui dirinya tengah berbadan dua. Ketakutan demi ketakutan dia lalui, demi rasa hormatnya pada mama dan papa, dia rela melakukan apapun untuk menutupi aibnya.
"Maafkan aku, Rian." lirih. Rian mengerutkan dahinya, tiba-tiba saja wanita disampingnya meminta maaf.
"Untuk?"
"Untuk semua yang aku lakukan pada kalian. Sama kamu, sama Roger, sama keluarga ini, sama Dira dan keluarganya, dan sama..." Lama dia menjeda ucapannya. Membayangkan sosok wajah yang selalu ada di hatinya. "Sama kak Juna..."
"Del,"
"Aku merasa tidak pantas diperlakukan baik seperti ini. Aku ini pendosa, apalagi yang papaku lakukan cuma karena dia sayang sama aku. Aku juga tidak menyangka papa senekat itu menculik Dira. Terlebih aku dengar suami Eka juga terlibat. Seketika perbuatan papaku sudah menghancurkan dua keluarga."
Rian menggenggam erat tangan Delia. Meyakinkan wanita itu untuk tetap kuat meskipun di terjang banyak cibiran yang melanda. Delia tersentak ketika tangan merangkum jarinya dengan kuat. Wajah tampan itu tersenyum menatap Delia, lalu tangannya itu berpindah membelit pinggangnya. Aneh tapi nyata, ada rasa nyaman dalam hati Delia.
"Del,"
"Iya,"
" Tidak ada yang sempurna dalam kehidupan kita. Setiap hamba-nya akan di uji sesuai kemampuannya. Tuhan tidak akan memberikan ujian melebihi kekuatan umatnya. Aku juga pernah melakukan dosa, karena meninggalkan seorang wanita yang sedang mengandung anakku. Aku minta maaf saat itu terlalu mendengarkan kata Alex. Kalau saja kita bertemu setelah kejadian itu. Aku sudah pasti akan menikahimu."
Puing-puing kenangan semasa di London kembali di putar. Saat dirinya sudah pulang ke Indonesia, kejadian itu terus menghantui. Seketika itu dia mencari tentang keberadaan Delia yang disebutnya nona Arab. Karena parasnya mirip keturunan Arab. Sayangnya, Rian tidak juga menemukan keberadaan Delia. Hingga mereka akhirnya dipertemukan saat acara lamaran Rian dan Dira.
Mereka berjalan beriringan di pinggiran jalan. Saat Rian memeluk pinggangnya, Delia langsung melepaskan diri. Menata rasa degupan jantungnya yang berdetak kencang. Ada rasa sadar diri, kalau Rian menikahinya hanya untuk bertanggung jawab pada dirinya dan Roger.
"Rian," Delia masih tetap meneruskan langkahnya.
"Iya, sayang." Seutas senyum terbit di bibir lelaki.
"Apakah pernikahan ini sudah kamu pikirkan dengan baik? aku tahu tidak mudah membuka hati, aku paham hatimu masih terpaut pada Dira. makanya aku bertanya seperti ini.
Kalau kamu belum bisa membuka hati buat aku. Aku tidak bisa memaksa, kita bisa bagi tugas saja untuk membesarkan Roger."
"Kalau kamu bagaimana, apakah seorang Arjuna masih bertahta di hatimu. Sehingga kamu menolak lamaranku."
"Hey, aku yang bertanya, kenapa kamu yang balik nanya. Lagian, kapan kamu pernah melamarku? tiba-tiba saja kamu sudah mempersiapkan pernikahan. Kamu bahkan belum meminta izin pada papaku.
Rian kamu sedang apa!" Delia kaget saat melihat lelaki itu berjongkok di hadapannya.
"Delia Shahab, aku tahu kalau bukan lelaki idaman kamu seperti Arjuna. Aku sadar selama ini tidak mengandalkan kepekaan terhadap kamu dan Roger.
__ADS_1
Tapi aku sedang mencoba memperbaiki semuanya. Memulai lembaran baru bersama kamu dan Roger. Membina suatu pondasi kuat dalam kehidupan yang akan datang."
"Rian, berdiri!" Delia merasa tidak enak karena aksi Rian seketika menjadi tontonan.
"Aku tidak akan berdiri sebelum kamu mendengarkan permintaanku."
Delia menghirup udara sedalam-dalamnya. Seketika kepalanya menggeleng melihat kenekatan Rian. "Oke, teruskan!"
"Delia, Will you marry me!"
Delia memandang di sekelilingnya. Bagaikan pentas drama Korea mereka menyerukan dirinya agar menerima Rian.
"Ayo mbak diterima, mas nya!"
"Terima! terima!" suara seruan itu semakin ramai.
"Bismillah. Yes, i do." jawaban itu disambut tepuk tangan dari semua pengunjung.
Rian melabuhkan bibirnya diatas dahi Delia. Tepukan tangan dari para penonton membuat keduanya saling menunduk malu-malu. Tampak bias wajah keduanya merah merona. Delia melepaskan balungan tangan yang melingkar erat di pinggangnya. Beberapa orang yang ada disana menyalami Delia dan Rian bergantian, ucapan selamat mengalir untuk mereka berdua.
"Mulai sekarang tidak ada yang perlu kamu ragukan dari aku. Kita atau aku, kamu dan Roger akan membuka lembaran baru. Aku maupun kamu harus ikhlas untuk melepaskan Dira dan Juna. Mereka berhak melangkah bahagia.
Memang tidak mudah untuk melepaskan orang yang berharga di hati kita. ketahuilah, kalau cinta itu tak harus memiliki, mereka juga berhak bahagia.
Delia, terimakasih sudah membuka hatimu buat aku." Rian mengecup siku tangan Delia.
*
*
*
*
Assalamualaikum semuanya.
Terimakasih kalian masih menyempatkan mampir ke karya recehku.
Semoga yang baca disini di berikan kesehatan dan kebahagiaan.
Maaf kalau up nya sering lambat, karena realita sedang menyita. Apalagi aku saat ini mau cari terapis pendamping untuk anakku yang mau masuk sekolah.
Eh, malah curcol
__ADS_1
Maklum namanya juga emak-emak.
Insyaallah kalau tidak halangan up double nya malam.