Sayembara Jodoh

Sayembara Jodoh
BAB 111


__ADS_3

Ting!


Dira yang sedang berusaha menarik selimutnya harus berbalik membuka gawainya.


Terdapat notifikasi dari WhatsApp grup. Dira mencoba membuka matanya ketika melihat notifikasi memasukkan dirinya ke grup Delia lagi.


"Apa aku bermimpi! mereka sudah tidak marah sama aku lagi!" Dira senang sekali saat tahu dirinya kembali di masukkan ke dalam grup lagi. Setelah berbulan-bulan dimusuhi oleh teman-teman kecilnya.


Dira membetulkan posisi duduknya lalu membuka pesan yang masuk ke ponselnya. Begitu banyak obrolan antara Delia, Ayu dan Eka. Dira merasa seperti tersisih, namun saat ini dia hanya bisa menjadi silent reader. Menunggu sampai teman-temannya menyapa dirinya. Mata Dira pun sudah tak bisa di kompromi. Pada akhirnya dia pun tertidur tanpa mematikan handphonenya.


TING!


Delia: Ini mana sih nyonya Arjuna daritadi nggak nongol.


Eka : Paling sudah molor, Del.


Ayu: Penganten baru kok online. Sudah belum malam pertamanya.


Eka: Ehmmm .. Tapi nggak apa-apa, deh. kalau Dira sudah tidur. Nanti kalau kita bahas malam pengantin kan nggak surprise lagi. Biar dia ngerasain sendiri.


Delia: Tenang aja, Ka. Kak Juna itu masih ori. Jadi cocoklah sama Dira.


Ayu : Terus kalian bagaimana?


Delia : Apanya, yu?


Ayu: Eka sama Wandi.


Eka : Kalian nge gosipin aku. Di depan orangnya langsung.


Ayu : Aku nanya sama kamu, Eka!


Eka : Oh, ngomong sama aku, ya. Kirain.


Ayu : Sebenarnya aku kasih kabar baik buat kalian.


Delia : Hmmmm .... aku mencium aroma-aroma.


Eka : Sudah to the points aja.


Ayu: Alhamdulillah aku sekarang masuk Minggu ke sepuluh.


Eka dan Delia : Hamil!

__ADS_1


Ayu : Iya


Delia : Alhamdulillah Roger dan Radit bakal punya teman.


Eka : Hahahaha ... kebayang kita kumpul terus bawa anak masing-masing.


Ayu: Iya, seru juga.


Delia : Aku pengen minta maaf sama Dira. Banyak banget salahku sama dia. Ya, walaupun awalnya aku kesal karena Dira merespon kak Juna. Tapi aku sadar kalau selama ini aku jadi orang ketiga diantara mereka.


Kalian ingat saat Tante Dewi masuk rumah sakit. Aku lihat kak Juna mencemaskan keluarga itu. Padahal aku sedang di sampingnya. Disitu aku sempat berpikir, apakah kak Juna sudah menyadari kalau yang dia lakukan selama ini untuk Dira. Bukan untuk aku.


Ayu : Aku ingat saat Dira di bohongi Wawan. Kak Juna orang yang paling emosi saat itu. Memang kak Feri juga marah. Cuma saat itu kan dia sibuk sama istrinya yang lagi hamil. Jadi Kak Juna-lah yang menghajar Wawan habis-habisan. Kelihatan kalau sebenarnya dia yang sayang banget sama Dira. Maaf, Del aku malah jadi ungkit masa lalu.


Delia: Nggak apa apa, yu. Aku tahu kok kalau dari dulu kak Juna memang overcare sama Dira.


Ayu: By the way, kamu mau bulan madu kemana, Del?


Delia: Nggak tahu. Belum ada omongan dari Rian.


Ayu: Ya, udah bulan madu ke Bengkulu saja. Sekalian datang ke nikahan kak Juna dan Dira.


Eka : Aku nggak punya muka ketemu sama Dira. Dia pasti masih marah sama aku.


Eka : Aku minder. Kalian bawa pasangan sementara aku.


Ayu : Sebaiknya kamu selesaikan urusan dengan Dira. Minta jalan tengahnya siapa tahu Dira mau maafin suamimu. Aku kenal Dira, dia bukan orang pendendam.


Eka : Aku akan akan usaha kan.


Mereka pun menutup percakapan di WhatsApp. Itu pun tanpa kehadiran Dira. Ayu menutup handphonenya sambil tersenyum. Momen ini sangat dirindukan. Dimana sebelum Delia dan Juna retak, persahabatan mereka masih baik-baik saja. Sementara Eka hanya bisa memandang pilu karena status suaminya belum ada titik terang. Tatapannya beralih ke Radit yang berusia delapan bulan.


"Maafkan mama, nak. Gara-gara mama, papa kamu yang menanggung semuanya. Seandainya mama tidak egois, kita sudah berkumpul sekarang."


"Apakah aku harus menyerahkan diri?"


"Tapi bagaimana dengan Radit?"


"Ya Allah, maafkan hamba yang selama ini tidak memikirkan dampak akibatnya. Sekarang hamba harus bagaimana ya Allah."


klik


"Om juga kaget soal ini, Tina. Menantuku sendiri terlibat kasus perusahaan papamu. Kalau sejak awal Om tahu soal ini. Saya tidak akan merestui pernikahan Meyra dan Feri. Saya tidak akan mau menerima tawaran perjodohan dari pak Burhan." ucap papanya Meyra.

__ADS_1


"Tina yang salah, om. Feri pasti masih marah sama aku karena kasus waktu SMA dulu. Gara-gara Glen meninggalkan obat maksiat di mobil Feri. Tina yakin Feri masih dendam sama aku soal itu."


Papanya Meyra menepuk bahu keponakannya. Dia tahu bagaimana perasaan wanita muda di hadapannya. Dimatanya, tetap saja Feri salah. Karena mencampurkan urusan pribadi dengan masalah bisnis.


"Setidaknya jadikan semua ini sebagai pelajaran berharga. Kita tidak pernah tahu isi hati orang, kan?" Papanya Meyra pun mengalihkan pandangannya ke putra bungsunya. Dia ingin tahu bagaimana perkembangan kasus yang sedang di tangani.


"Jadi gini, pa. Saya beberapa kali menemui kak Feri di kantor. Tapi sepertinya dia tidak ada di tempat. Menurut keterangan stafnya, Feri sedang di luar kota bersama keluarganya." lapor Alif.


"Yasudah, kalau menurut papa kita tunggu dalam beberapa hari ini. Jika tidak ada titik terang, kita susul mereka kesana."


"Iya, pa. Alif juga mikir begitu. Alif tidak menyangka kalau kak Feri terlibat. Apa sih motif dia melakukan ini?"


Alif dan papanya Meyra menjauhi Tina yang masih duduk di ayunan. Alif menerima telepon dari kliennya sementara sang papa masuk ke dalam karena ingin makan.


Tina hanya memandang pintu rumah Meyra. Dia tidak menyangka kasusnya di buka kembali oleh Om nya. Tak berapa lama dia pun pamit pulang. Tina memikirkan mamanya yang sendiri di rumah. Apalagi sejak dirinya resign dari kantor Feri. Dia memang sengaja resign karena tawaran Feri yang mengajaknya pacaran. Pacaran hanya untuk membatalkan turun ranjang dari keluarga Meyra.


Tina terus berjalan tanpa arah. Entah kenapa hatinya sangat sakit mengetahui siapa dalang dari sabotase perusahaan orangtuanya.


"Kenapa rasanya sakit sekali, ya Allah. Apa ini namanya karma. Mungkin ini yang Feri rasakan saat aku menolak cintanya waktu SMA. Mungkin ini yang dia rasakan saat aku mempermalukannya bersama Glen dulu."


Flashback on


"Tina aku tidak tahu apa yang terjadi. Tapi tawaran itu bukan sekedar membatalkan turun ranjang." ucap feri saat itu.


"Sudahlah, pak. Saya tahu kamu. Kamu pasti menggunakan kekuasaan untuk membayar saya sebagai pacar pura-pura. Tapi maaf saya tidak berminat."


"Kalau saya bilang sama kamu, apa kamu mau percaya?"


"Apa!" Tina melototi Feri.


"Saya masih mencintai kamu, Tina."


Feri melangkah sedikit lebih dekat dari Tina. Namun lelaki itu berjalan melewati dirinya.


"Ibu, jika saya berniat meminang Tina, apa ibu merestuinya?"


"Ibu kembalikan ke Tina saja, nak Feri. Dia yang menjalani."


Tina meninggalkan Feri lalu masuk ke dalam kamar.


Flashback off.


Hujan turun membasahi bumi. Namun Tina tak merasakan hal itu. Kakinya terus melangkah tanpa arah. Biarpun tubuhnya sudah basah kuyup.

__ADS_1


__ADS_2