
"Sayang, aku minta maaf belum bisa ketemu Opa kamu. Aku masih mengurusi perawatan Alex, nanti setelah selesai aku kesana, ya?" Pesan Rian pada Dira.
"Jadi Alex lebih penting daripada aku, Rian. Dia temanmu dan aku calon istrimu. Emang kenapa dengan Alex, dia kan punya istri. Biar isterinya yang urusi. Kenapa harus kamu?"
"Karena aku punya banyak hutang pada Alex. Tolong mengertilah, sayang."
Tuuuuuttttt ....
Rian menghela nafas berat. Dia harus memberi pengertian kepada Dira tentang Alex. Banyak hal yang ingin dia korek tentang dirinya dan Delia. Agar bisa meluruskan segala permasalahannya.
Mobil yang dikemudikan Rian menuju sebuah perumahan elit. Sesuai janjinya pada Alex yang memintanya membawa Delia menemui lelaki dari New York tersebut. Alex akan menceritakan semuanya asalkan Rian membawa Delia.
Mobil yang dikendarai Rian sudah berhenti di sebuah rumah yang beraksen Mediterania. Rumah yang bak istana raja Arab, membuat Rian berdecak kagum melihatnya. Kakinya pun melangkah dengan pelan menuju ke pagar rumah tersebut.
Ada tombol yang awalnya Rian kira adalah bel. Saat Rian memencet tombol tersebut malah pagar rumah yang bergeser sendiri.
"keren pagarnya. Memang kalau rumah konglomerat pasti ada saja yang aneh."
"Assalamualaikum"
Rian mengucapkan salam sambil mengetuk pintu kediaman Delia.
__ADS_1
"Waalaikumsalam"
Sapaan manis itu terdengar saat pintu dibuka. Rian terpaku melihat sosok di depannya, sesaat pikirannya entah kemana.
Beda dengan sipemilik rumah, dia menatap datar pada lelaki dihadapannya. Seakan tidak ingin menerima tamunya tersebut dia kembali menutup pintu rumahnya, tangan itu menahan pintu yang hampir tertutup.
"Mau apa kamu?"
"Tamu itu kalau datang di sambut bukan malah di tutup pintu." .
"Aku nanya kamu mau apa! Kalau tidak ada kepentingan lebih baik kamu .."
Rian menutup pintu rumah Delia dan sudah masuk ke dalam. Tangan Rian menahan ke dinding, menahan tubuh Delia dihadapannya. Keduanya saling menatap lama.
"Nggak sopan!" Pekik Delia mendorong tubuh Rian.
"Del, saat kita melakukan dulu bagaimana perasaanmu. Pasti kamu merasakan sesuatu kan, sampai tidak pernah protes atau mengamuk."
"Apaan, sih!"
__ADS_1
"Seandainya kamu mendatangiku atau kamu bilang hamil. Aku mau bertanggung jawab. Dua tahun aku mencari keberadaanmu, aku ingin tahu apakah kamu sempat hamil, apakah kamu menggugurkan kandungan, atau sudah melahirkan. Kalau iya aku akan menikahimu."
"Jangan gila, Rian! sampai kapanpun kamu tidak akan bisa menikahiku. Aku cintanya sama kak Juna, bukan sama kamu! Sekarang pergi dari rumah ini atau ..."
"Atau apa.. kalau kamu cinta sama Arjuna, kamu tidak akan mengkhianatinya." Rian masih menantang Delia. Dia tidak takut dengan ancaman Delia. Tubuhnya semakin mendekati Delia, kini mereka hanya berjarak satu centi. Tangan Delia memegang ujung gaunnya.
"Aku tidak pernah mengkhianati Arjuna. Justru Arjunalah yang menikungku bersama Dira."
"Aku akan bilang ke keluargamu tentang kita. Tentang putrinya yang menjebakku dengan memberi obat perangsang. Kamu tahu, sebelum berangkat kembali ke Indonesia, aku memeriksa cctv-nya cafe tempat kita bertemu. Disitu jelas, kalau kamu yang memasukkan sesuatu di minumanku bersama Alex. Aku punya rekamannya. Aku bisa memperlihatkan rekaman ini ke keluargamu, ke Dira dan Arjuna.
Saat ini aku tidak lagi takut kalau Dira meninggalkanku kalau tahu tentang kita. Dia pantas mendapatkan yang lebih baik dari aku. Kalau aku tidak jadi dengan Dira, aku bisa mempertanggungjawabkan perbuatanku sama kamu."
Delia mendadak pucat setelah mendengar semua perkataan Rian. Dia tidak takut dengan ancaman Rian, dia hanya takut dengan kemurkaan papanya. Jika papanya tahu, Delia yakin dia akan dicoret dari keluarga. Papanya akan membuat usaha lelaki yang menodainya hancur tak bersisa.
"Sebenarnya apa urusanmu datang kesini!"
"Aku kesini diminta Alex untuk menjemputmu. Dia bilang mau menclearkan masalah kita. Jadi setelah mendengar cerita Alex, aku bisa memikirkan langkah ke depannya bersama Dira."
Rian berjalan menuju pintu. Delia masih diam mencerna ucapan Rian.
Aku yakin itu hanya akalan Rian saja. Tidak mungkin Alex ada di Indonesia. Kalaupun ada kenapa tidak menghubungiku.
__ADS_1
Kamu pikir aku percaya begitu saja, Rian.
"Aaaaaa ...Rian turunin aku!" Tubuh Delia sudah bertumpu di bahu Rian seperti sedang membawa beras.