Sayembara Jodoh

Sayembara Jodoh
BAB 135


__ADS_3

Malam ini Mayka tidak bisa tidur. Bolak balik dia membuka handphone guna memancing rasa kantuknya. Nihil, hasilnya tetap saja dia tak bisa tidur.


Wanita usia 30 tahun tersebut berjalan keluar kamar. Jarak kamar bersebelahan dengan kamar Meyra. Waktu menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Waktu yang seharusnya untuk istirahat.


Sedikit menggeser pintu, Mayka melihat apakah adik sepupunya itu sudah istirahat. Tampak Tina sedang mengenakan mukena. Memegang buku Qur'an kecil. Senyumnya mengembang, Tina yang dulu menyebalkan sekarang bertobat. Bahkan Mayka merasa iri pada adik sepupunya. Tina masih bisa membaca Alquran sedangkan dirinya sudah jarang mengaji.


Mayka pun meninggalkan Tina yang sedang mengaji. Tubuhnya di daratkan pada karpet kecil yang masih membentang di ruang utama. Suasana rumah yang masih dalam keadaan berduka.


"Kamu belum tidur?" Mayka menggeleng.


"Apa yang mengusik pikiranmu, nak?" Amran duduk bersila di samping putri sulungnya.


"Apa soal turun ranjang itu?" Mayka mengangguk.


"Apa kamu mencintai Feri, Nak?" lagi-lagi dia mengangguk.


"Tapi bukankah dia sudah menolak kamu? menolak permintaan papa untuk turun ranjang sama kamu. Papa pikir kamu harus move on, nak."


"Papa tahu, waktu dulu papa mau menjodohkan aku sama Feri, dia malah kepincut sama Meyra. Saat itu usia Meyra baru 22 tahun bukan. Masih muda untuk menikah. Sedangkan aku yang saat itu sudah 24 tahun tak diliriknya."


"Nak, papa harap kamu mendapatkan lelaki yang benar-benar menerima kamu. Lupakan Feri, papa akan mengenalkanmu pada beberapa lelaki." bujuk Amran.


"Tidak, pa. Aku cuma mau dia. Tidak dengan yang lain. kalau papa tidak mau menuruti permintaan aku. Aku akan bilang ke Tina yang sebenarnya. Aku akan bilang ke dia kalau papa selama ini nggak tulus sama dia. Aku akan bilang..."


Amran sedikit kaget. Ternyata putri sulungnya mempunyai senjata untuk mengancamnya. Namun itu hanya sesaat saja. Amran pun mempunyai ide soal kasus itu.


"Pa,"


"Iya,"


"Aku ada ide, nanti aku minta Tina yang bicara sama Feri. Aku rasa Feri cukup nurut kalau sama Tina."


Amran mengerutkan dahinya. Mayka sepertinya punya satu misi dengannya. Sama-sama memiliki satu tujuan. Dia ingin mengambil hak nya di perusahaan milik Heru. Sementara Mayka ingin memperjuangkan hak nya sebagai pasangan Feri.


"Oke, nanti biar papa saja yang bicara sama Tina."


"Tidak, pa. Biar aku yang ngomong sama Tina. Sebagai sesama perempuan aku yakin dia lebih nurut sama aku." ucap Mayka.


Aku tahu kalau Feri lebih care sama Tina. Entah ini care sebagai teman, atau bisa jadi care sebagai lawan jenis. Semoga saja hanya sebagai teman, karena Tina pernah bilang mereka satu angkatan sekolah. Batin Mayka.


"Kamu istirahat, nak. Ini sudah malam." kata Amran.


"Iya, pa." Mayka pun meninggalkan sang papa dari ruang tamu.


Pagi ini Tina sudah segar seperti biasa. Meskipun masih dalam suasana duka, dia sudah mencoba menerima keadaan. Namun, satu hal yang dia inginkan sekarang. Punya kehidupan mandiri bersama sang adik. Tina tahu pakdenya sangat sayang padanya. Tapi dia tidak ingin merepotkan orang lain. Setelah memasak sarapan untuk keluarga pakdenya, Tina pun menyajikan sarapan di meja makan. Di bantu bibi yang kerja disana.


"Jadi kamu mau kerja?" tanya Amran pada keponakannya.

__ADS_1


"Iya, pakde. Kemarin Jamal dapat info dari temannya. Ada lowongan kerja rumah tangga di Jatinegara." kata Tina.


"Kerja rumah tangga?" bude nya sedikit kaget dengan jenis pekerjaan ponakannya.


"Iya, bude. Kenapa?"


"Janganlah, nak. Cari kerja yang kamu bisa pulang cepat. Apa jadi staf kantor saja. Di kantor Alif katanya ada lowongan."


"Bude, aku cuma tamat SMA. Kuliah saja tidak selesai karena keburu menikah. Jadi aku nggak punya skill buat kerja kantoran. Pengalaman aku saja terakhir jadi OB."


"Na, bisa kita bicara." Mayka muncul menarik Tina ke teras depan.


Tina dan Mayka duduk di ayunan kursi di halaman depan. Sesaat keduanya terdiam dalam keheningan pagi. Tina masih menunggu apa yang akan disampaikan Mayka. Sementara Mayka mencoba mengumpulkan keberanian meminta pada adik sepupunya.


"Ada apa, kak?" Tina tidak sabar menunggu suara lainya


"Bisakah kamu menolongku?"


"Apa yang bisa ku bantu kak?" Tina mencoba bersikap tenang.


"Maukah kamu membujuk Feri untuk menerima perjodohan turun ranjang. Aku lihat kamu dan Feri cukup akrab.


Kamu tahu, Na? aku sangat mencintai Feri. Sejak awal kami di jodohkan aku sudah menyukainya.


Kakek kita sudah menjodohkan aku dan Feri sejak kecil. Sayangnya saat perjodohan itu tiba Feri lebih tertarik dengan Meyra. Aku akui kalau Meyra lebih muda dan menarik. Saat itu aku sudah mencoba ikhlas dengan pernikahan mereka.


satu tahun kemudian, Meyra meninggal dunia dalam keadaan hamil besar. Saat itu aku merasa ada setitik harapan, papa menawarkan turun ranjang setelah lima tahun Feri menduda. Kamu tahu, kalau Tante Dewi, mamanya Feri pun menyukaiku. Padahal aku pernah dengar dari staf kerjanya, kalau Feri menyukai salah satu OB di perusahaannya."


Dulu aku pernah mendengar gosip itu. Tapi siapa wanita itu aku tak tahu dan tidak mau tahu. Karena bukan urusan aku. Aku baru tahu kalau kak Mayka dan Feri sudah di jodohkan sejak kecil. Yah, namanya orang kaya, dikit-dikit pake perjodohan.


Papa dulu pernah bilang kalau aku akan di jodohkan sama anak teman kakek. Tapi sampai sekarang tidak ada ceritanya. Mungkin karena kami jatuh miskin jadi mereka membatalkannya. Siapa dia dan seperti apa dia aku tidak pernah tahu. Karena aku sudah di butakan oleh Glen.


"Na," Mayka mengagetkan Tina yang teringat masa lalunya.


"Iya, kak."


"Bagaimana?" Mayka masih menagih pada Tina.


"Oke, kak. Aku akan temui Feri. Tapi besok, ya. Hari ini aku nggak bisa, kak."


"Hari ini saja. Biar aku antar." Mayka tidak ingin menunda lagi.


"Yasudah kalau begitu. Aku siap-siap dulu."


Tina dan Mayka sudah berdiri di depan kantor polisi. Dia ingin membantu mewujudkan keinginan kakaknya. Sebagai balas budi karena sudah menerima dirinya dan Amar di rumah itu. Walaupun dia rada malas bertemu dengan Feri. Perasaannya masih kesal pada lelaki itu. Keduanya disambut oleh salah satu polisi muda yang mengenal Mayka.


"Na, kakak sepertinya ada urusan. Kamu mau kan menunggu di sini."

__ADS_1


"Kakak mau kemana?" Tina kaget Mayka ingin meninggalkannya sendirian.


"Tadi ada pesan dari kantor. Aku disuruh kesana. Lagian kalau Feri tahu ada aku. Pasti dia banyak mikirnya. jadi kamu sendiri yang harus meyakinkan dia."


"Kalau dia menolak bagaimana?"


"Ancam saja, Na. Bilang sama dia kalau tidak mau kamu tidak akan mencabut gugatan kasusnya."


Setelah Mayka pergi, Tina harus sendiri di ruang tunggu. Beberapa saat terdengar suara langkah kaki. Tina menatap sosok yang berdiri di depannya. Kakinya terasa kaku, bahkan untuk bicara pun mulutnya terasa di bungkam.


Ada apa ini? kenapa aku bisa tidak melakukan apapun? kenapa rasanya seperti degupan kencang? tidak Tina, kamu hanya takut saja. Jangan berpikir di luar alur. batin Tina


"Kamu apa kabar?" sapa Feri.


"Aku .. aku ... baik ... baik ... saja. Yah, seperti yang kamu lihat." Tina memaksakan senyum di depan Feri.


"Alhamdulillah. Terus kamar mama kamu bagaimana? apakah dia sudah sembuh?"


"Mama sudah sembuh. Sudah tidak sakit lagi." jawab Tina.


"Jadi apakah yang membuat kamu datang kesini? apa kamu mau mencabut tuntutan itu?"


"Kamu mau bebas, Feri?" Feri mengangguk.


"Ada syaratnya" jawab Tina.


"Apa!"


"Terima kak Mayka sebagai calon istrimu."


Deg! Feri kaget mendengar permintaan Tina. Bagaimana mungkin dia bisa menerima Mayka, hatinya tidak terarah pada kakak iparnya.


"Kalau aku menolak?" balas Feri.


"Kenapa kamu menolak? kurang apa dengan kak Mayka. Dia baik, cantik dan semua yang ada di dirinya cerminan Meyra. Kurang apalagi, coba?"


"Kamu mau tahu apa kurangnya? Disini, Na. Biarpun hati dia baik, cantik dan seperti kata kamu sempurna. Aku tidak punya perasaan apapun sama dia. Hati itu tidak bisa dipaksakan,Na."


"Pikirkan lagi, Feri. Aku janji akan bebasin kamu dari sini. Oh, aku tahu jangan-jangan benar kata orang di kantor, kamu lagi dekat dengan OB disana?"


Feri tersenyum memandang Tina. "Itu kamu tahu? jadi kenapa harus bertanya lagi?"


"Apa kamu tidak ingin tahu siapa wanita itu?"


"Tidak. Bukan urusanku!"


"Yakin?" Tina menatap Feri dengan malas.

__ADS_1


"Mau kamu sama siapa pun. Bukan urusanku. Aku hanya ingin menyatukan kamu dan ..." Tina kaget saat tangan itu menarik tubuhnya. Seketika dirinya berada di balik dada lelaki.


PLAAAAAK!


__ADS_2