
"Sepertinya waktunya kurang pas kalau kita membahas soal tuntutan mereka pada cucuku." kata Burhan.
Juna juga tahu kalau situasinya kurang pas. Dia tidak bisa berkomentar banyak. Apalagi di tengah para lelaki yang sedang menyudut rokok. Kepala Juna sedikit pusing. Dia merasa akan terkena morning sickness lagi. Perutnya terasa ingin naik. Jika dia mual di depan orang banyak tentu akan jadi bahan perbincangan.
Usia sholat Ashar bersama di kediaman Amran, Opa Han dan Juna pun berbaur dengan keluarga besar besannya. Juna sempat minta izin supaya bisa cepat pulang. Entah kenapa dia gengsi pada opa Han dan yang punya rumah. Aroma rokok yang sangat kuat membuat dia kembali di hamil simpatik. Wajah Juna terlihat pucat setelah keluar dari kamar mandi.
Mayka melihat Juna keluar dari kamar mandi. Letak kamar mandi yang berada di depan kamar Meyra. Beberapa orang wanita yang duduk di kamar Meyra pun terpesona dengan ketampanan Juna.
Tina pun hanya menyandarkan kepalanya di dekat pintu jendela. Tatapannya kosong seakan ada kesedihan yang mendalam. Mayka menatap adik sepupunya dengan penuh arti.
Juna melihat Tina masih melamun dikamar. Wajar karena dalam keadaan berduka, dia pun akhirnya meninggalkan kamar mandi. Satu persatu pelayat pun meninggalkan rumah duka. Tersisa hanya ada Juna, opa Han, Alif, Arsyad dan Amran. Sementara para wanita berada di kamar Meyra. Tentu saja menenangkan Tina.
"Kasihan Amar, dia harus menjadi yatim piatu. Dia masih kecil." sahut Mayka demi memancing reaksi adik sepupunya. Dia merasa jengah dengan sikap Tina yang sejak tadi hanya menganggapnya patung.
"Kak," Tina menyahut setelah Mayka terus memancingnya berbicara.
"Kan enak, kayak gini. Aku berasa ngomong sama tembok."
"Maaf," Tina kembali mengedarkan pandangannya.
Entah hanya halusinasi Tina merasa ada sosok pria yang berdiri menatapnya. Sosok pria yang mendadak melamarnya, sosok pria yang tiap hari datang ke rumah hanya untuk bertemu mamanya, sosok pria yang sebenarnya malas untuk diingat. Senyum itu terus menghilang bersamaan dengan hilangnya bayangan tersebut.
"Tina," lamunannya buyar saat ada suara memanggilnya.
"Iya, bude,"
"Sini, nak. Ada yang mau bertemu dengan kamu." Bude menuntun Tina keluar kamar.
Tina dan budenya sudah berada di ruang tamu. Tampak Juna dan Opa Han duduk berbincang dengan Arsyad juga Amran.
Amran memperkenalkan Tina sebagai keponakan pihak istrinya. "Ini Marti, keponakan saya."
__ADS_1
"Anaknya Heru?" tanya Opa Han.
"Bukan. ini keponakan istri saya." Jelas Amran.
Tina kaget saat dirinya diperkenalkan sebagai keponakan budenya. Padahal jelas-jelas dia adalah keponakan Amran. Dia masih belum mengerti sikap pakde nya.
"Pakde, saya ...."
"Tina, Amar bangun. Dia nyari kamu. sebaiknya kamu menemani Amar." Mayka datang mengajak Tina kembali menemani Amar.
Juna pun kembali ke kamar mandi. Aroma khas rokok masih menghantui dirinya. Setelah dirasa tubuhnya sedikit baik, Juna melihat Tina berjalan keluar.
"Kamu sakit?" Tina melihat Juna sangat lemas.
"Bawaan bayi, Tina." jawab Juna.
"Selamat, ya. Bentar lagi kamu akan jadi ayah." Tina membenarkan posisi duduknya.
"Saya sama kak Jamal cuma teman, Juna. Nggak lebih. Lagian saya belum mau mikir soal pasangan. Prioritas saya saat ini adalah Amar. Dia sekarang tanggung jawab saya." ucap Tina sambil menunduk dan memainkan sela jarinya.
"Kamu nggak bohong, kan, Na. Ya, saya bukan mau ikut campur. Saya kenal kamu, kita pernah satu kelas dan satu kelompok belajar. Kamu kalau memainkan jari berarti ada yang kamu sembunyikan. Kalau bukan soal Jamal apa ini soal Feri?"
"Kenapa kamu tiba-tiba bahas Feri? apa karena kamu dekat dengan dia, apa harus semua dikaitkan dengan dia." Wajah Tina berubah muram ketika Juna mengungkit soal lelaki yang dia benci.
"Kenapa sebegitu emosi saat saya menyebut nama Feri? apa karena dia yang membuat perusahaan orangtuamu hancur atau karena hal lain." Juna makin gencar memberi pertanyaan pancingan.
Drrt ... Drrt ...
Juna tersenyum saat mengetahui siapa yang menelepon dirinya. Dengan sigap diangkatnya, kalau tidak bakal tidur di luar. "Iya, sayang."
"Mas, emang kamu ngapain,sih. kok aku bawaannya mual mulu. Biasanya aku cuma mual pagi doang. Ini sudah sore kok masih terasa nggak enak. Apa makan sesuatu atau gimana?"
__ADS_1
"Jadi kamu menelepon cuma mau bilang gitu. Aku pikir kamu nyariin aku karena kangen.
atau mungkin dedek kangen ya sama papa. Makanya mama ikut mual. Bentar lagi papa pulang ya, nak. Mama kamu nggak bisa jauh-jauh dari papa nih." Juna mencoba berkomunikasi dengan calon bayinya dari ponsel.
"Mas, please pulang, ya." suara dari sana mendadak manja.
"Iya, sayang. Aku pulang." Juna pun menutup komunikasinya dengan Dira.
"Itu siapa? istrimu?" Juna mengangguk.
"So sweet, Ya, kalian." tawa Tina terdengar renyah.
"Makanya minta Jamal halalin kamu, Na. Dia itu serius sama kamu." kata Juna.
Tina hanya tersenyum kecil saat Juna mengungkit soal Jamal. Memang selama ini Jamal selalu ada untuknya. Sejak pertama kali menginjakkan kaki di tempat tinggal mereka. Sosok Jamal yang selalu ada untuknya dan keluarganya. Tapi soal membuka hati, Tina belum siap. Dia masih ingin membahagiakan keluarganya. Apalagi sejak mamanya meninggal dunia, Amar yang akan menjadi prioritas utama.
Juna meninggalkan area lorong kediaman Amran. Berkumpul ditengah para keluarga besar besan kakak iparnya. Tampak Amran lebih banyak diam, sementara Arsyad yang sering bertukar pikiran dengan Burhan.
"Sebenarnya kedatangan saya kesini untuk membicarakan soal cucu saya. Kalian tahu kan? Tapi saya rasa momennya sedang tidak tepat. Hanya saja saya penasaran. Apa bukti kalau cucu saya melakukan sabotase? apa dia merusak salah satu program andalan perusahaan?
Saya mengenal Feri dari bayi. Dan kamu Amran, saya juga mengenal kalian bertiga sejak masih bayi. Kamu, Heru dan Arsyad sudah seperti anakku sendiri. Sayangnya, kamu tidak pernah mencoba menjalin tali silaturahmi sejak Meyra meninggal dunia. Sekarang setelah sekian lama, kalian datang dengan tuntutan berat."
Amran yang sejak tadi diam pun angkat bicara.
"Maaf, om. Saya membuka kasus ini untuk memperjuangkan hak keponakan saya. Apalagi anak mas Heru adalah yang masih kecil.
Saya tahu, Om. Feri itu lelaki yang baik. Hanya saja bukti mengarah ke dia. Saya tidak akan menuduh kalau tidak ada bukti."
"Maaf, Om Amran. Saya ikut memotong pembicaraan. Seingat saya, kejadian itu waktu perusahaan di pegang Glen. Yang kami tahu saat itu, perusahaan sudah milik Glen. Om tahu Glen itu disamping menjalankan perusahaan, dia juga suka ke clubbing, bermain dengan wanita malam disana. Itu saja menjadi bukti kalau Glen memang tidak becus menjalankan perusahaan.
Jadi kalau seandainya perusahaan itu tumbang. Bukan salah kami, tapi salah yang menjalankannya." kata Juna.
__ADS_1