
Juna mencoba bangkit saat dihajar oleh tuan Shahab. Tatapan matanya seakan menantang lelaki di hadapannya. Dia tidak takut dengan ancaman tersebut. Sambil menahan perut dan wajahnya yang terasa perih, dia mencoba bangkit. Satu lagi tangan tuan Shahab mencoba menghajar Arjuna, sayangnya gagal karena Arjuna sudah menahannya.
"Anda pikir saya selemah itu. Anda pikir saya takut dengan ancaman anda. Yang mengatur maut, jodoh, rezeki dan kehidupan manusia itu adalah Allah, bukan anda tuan Shahab. Saya bukan robot yang bisa anda atur seenaknya. Anda memecat saya melalui Tante Dewi, anda mau dianggap menjadi pahlawan saat anda memberikan beasiswa sekolah untuk adik saya. Saya terima, saya sangat berterimakasih dengan kebaikan anda.
Tapi dan keluarga saya juga punya kehidupan sendiri. Kehidupan yang hanya kami yang bisa menjalaninya. Jadi anda tidak berhak mengatur atas kehidupan kami.
Saya memang pernah menyukai Delia, saya juga pernah mencoba setia pada putri anda. Saat putri anda menghilang selama satu tahun lebih, apa anda mencoba merundingkan masalah ini pada saya dan keluarga saya. Tidak! anda terkesan masa bodoh pada masalah kami.
Jadi jangan salahkan saya kalau perasaan ini berpaling ke wanita lain. Satu lagi tuan Shahab.
Jangan anda sekali-sekali mengganggu kehidupan wanitaku. Ingat! jika anda melakukan hal itu. Anak perempuan anda akan mendapatkan yang lebih pedih dari itu."amuk Juna.
Ayu dan Tio berjalan mendekati Arjuna. Ayu meminta Tio membawa Juna kedalam rumah. Juna masih berjalan tertatih menahan kesakitan pada perutnya.
"Om tahu kan kalau Delia tidak kuliah di London." Ayu memulai ucapannya.
"jawab, Om. Tidak mungkin om tidak tahu kalau Delia tidak kuliah di London."
"Kamu ngapain ikut campur urusan aku, Yu. Mau aku kuliah dimanapun itu bukan urusan kamu!" Delia mengacungkan jari telunjuknya ke hadapan Ayu.
"Oh, ya ... dengan membohongi kak Juna dan keluargaku. Dengan membohongi kak Juna kalau selama ini bukan kamu yang menulis surat cinta buat dia. Bukan kamu yang membelikan hadiah untuk kak Juna. Tapi Dira, iya kan."
__ADS_1
Delia tersenyum santai ketika mendengar ucapan Ayu. Dimatanya Ayu itu munafik, bukankah Ayu dan Eka sudah tahu soal itu. Ayu juga yang bilang ke dirinya kalau Dira suka sama Arjuna. Tapi saat itu Arjuna-lah yang mengejar dirinya.
"Oh, ya. Kak Juna tahu tidak kalau selama ini Ayu masih berkomunikasi denganku selama satu tahun ini. Selama aku tidak mengabari kak Juna, dia dan Eka masih sering meneleponku. Kak Juna tahu, tidak." kata Delia sambil tersenyum melihat Ayu memucat.
"Dia tahu bukan aku yang nulis surat untuk kakak, dia juga masih berkomunikasi denganku saat aku masih di Bandung. Tapi dia nggak ngomong sama kak Juna, kan? Lalu apa bedanya dia sama aku."
"Apapun itu tidak akan mengubah keputusanku. Aku tidak akan melanjutkan perjodohan ini."
Semua yang berada di dalam membaur keluar rumah. Mendengar apa yang terjadi di teras belakang. Mamanya Juna kaget melihat anaknya di papah Tio, sang menantu.
"Ini ada apa, nak?" Ucapnya panik.
"Anu, mah kak Juna di pukul oleh tuan Shahab." Adu Tio.
"Maafkan saya, Tante. Saya tidak bisa melanjutkan hubungan dengan Delia. Banyak hal yang tidak bisa kami pertahankan lagi. Selama ini saya sudah berusaha, tapi ternyata saya sendiri yang mencoba bertahan." Jawab Juna pada mamanya Delia.
Mamanya Delia kaget mendengar pernyataan Juna. Tak pernah terbayangkan bagaimana perasaan Delia ketika tahu keputusan Juna.
"Nak, Juna. Tante mohon kamu bertahan untuk Delia, dia sangat mencintaimu, Tante tahu ada sifat Delia yang mungkin tidak kamu sukai. Tapi semua bisa berubah seiring dengan waktu. Tante yakin jika kamu bertahan Delia akan pelan-pelan belajar lebih dewasa lagi." Juna menelan salivanya mendengar ucapan mama Delia. Wanita itu bahkan rela bersujud mencium kaki Arjuna.
"Tante saya mohon jangan seperti ini. Saya benar-benar minta maaf tidak bisa melanjutkan semua ini. Tante boleh benci saya, tampar wajah saya, atau apapun untuk melampiaskan kekecewaan Tante. Tapi apapun itu tidak bisa mengubah keputusan saya. Saya minta maaf Tante, benar-benar minta maaf."
__ADS_1
Juna menuntun mamanya Delia untuk berdiri. Dia tidak enak saat wanita itu ngotot bersujud.
"Tante tidak akan berhenti sebelum kamu tetap kembali pada Delia. Tante yakin kamu punya hati nurani. Mana Juna yang dulu sangat mencintai Delia?"
"Jeng, jangan turunkan harga dirimu. Delia itu cantik, saya yakin akan ada banyak lelaki yang akan menerimanya apa adanya.
Saya mohon jangan seperti ini. Juna sudah menemukan kebahagiaannya. Saya yakin Delia pun sama." mamanya Juna mencoba melerai mantan calon besannya dari kaki putranya.
Delia melihat aksi mamanya tersenyum menang. Dia yakin Juna akan berubah pikiran melihat aksinya mamanya. Dia tahu Juna paling tidak tega melihat orangtua seperti itu. Serasa berharap akan ada keajaiban untuk hubungannya dengan Juna.
"Del, kamu kok diam saja lihat mamamu begitu. Angkat dia dan jangan buat harga dirinya jatuh hanya karena masalah percintaan kalian." Sahut Oka.
"Kakak nggak usah ikut campur! Biarin saja, kak. Aku mau lihat reaksi Juna." Jawab Delia dengan santai.
"Sakit kamu, Del!" Oka langsung menghampiri mama sambungnya yang masih bersujud.
"Ayo, ma. Jangan seperti ini, itu tidak akan membuat anak mama berubah. Jangan jatuhkan harga diri mama hanya untuk Delia. Dia melihat mama seperti ini tidak tergerak hatinya." Oka dan mama Delia meninggalkan keluarga Arjuna.
"Tapi, Oka..."
"Ma, please. Oka mohon, jangan seperti papa yang suka memaksakan kehendak."
__ADS_1
Arjuna dan keluarga besarnya memilih pamit dari kediaman Abdullah Shahab. Suasana di rumah masih terasa panas, ditambah dengan sikap tuan Shahab masih mengamuk di hadapan mantan calon besannya.
"Aku tidak akan takut dengan kalian, Johan. Tunggu saja, sebentar lagi hidup kalian hancur, sehancurnya."